Loading...

PELUANG USAHA TANI KEDELAI

PELUANG USAHA TANI KEDELAI
Hingga kini sekitar 70% dari kebutuhan kedelai masih dipenuhi melalui impor. Oleh karena itu pemerintah telah dan terus berupaya meningkatkan produksi kedelai dalam negeri melalui dua upaya pokok yakni perluasan areal tanam dan peningkatan produktifitas pertanaman.Produksi kedelai nasional digalakkan untuk mencapai tataran swasembada kedelai, pada tahun 2014 Kementerian Pertanian telah mentargetkan produksi kedelai mencapai 2,7 juta ton. Untuk memperoleh target 2,7 juta ton, maka harus diupayakan untuk memperoleh areal panen sekitar 1,54 juta hektar dengan rata-rata produktivitas 17,52 Ton/Ha.Peluang peningkatan produksi kedelai didalam negeri masih terbuka lebar, baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanam. Saat ini produktivitas nasional baru mencapai 1,3 ton/ha dengan kisaran 0,6 – 2,0 t/ha ditingkat petani, sedangkan ditingkat penelitian sudah mencapai 1,7 – 3,2 t/ha, bergantung pada kondisi lahan dan teknologi yang diterapkan.Upaya perluasan areal dilakukan melalui:a) Perluasan areal tanaman melalui peningkatan IP pada eksisting areal pola kawasan dari: padi-padi-palawija menjadi padi-padi kedelai atau padi-kedelai-kedelai.b) Perluasan melalui kawasan hutan, kawasan hutan jati muda, kawasan hutan kayu putih, kawasan perkebunan sawit dan karet.c) Pembinaan areal swadaya kedelai, secara historis ada kawasan yang selalu menanam kedelai, tanpa melihat nilai jual kedelai yang gonjang-ganjing, hal ini lebih banyak dari kondisi lingkungan yang kekurangan air (kedelai lebih tahan kekeringan daripada padi dan jagung).Dukungan inovasi teknologi untuk peningkatan produksi kedelai banyak dilakukan dengan varietas unggul, rakitan pupuk hayati, biopestisida, rakitan teknologi spesifik untuk pengembangan kedelai di lahan sawah tadah hujan, sawah irigasi, lahan kering, lahan kering masam, lahan pasang surut, penyediaan benih bersumber, karakterisasi sifat fisik dan kimiawi kedelai untuk kesesuaian bioindustri (tahu, tempe, kecap, susu kedelai, bubuk kedelai untuk kesehatan).Rakitan teknologi budidaya spesifik lokasi dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Rakitan teknologi dengan pendekatan PTT telah teruji di lahan sawah tadah hujan, lahan sawah irigasi, lahan kering, lahan kering masam, lahan pasang-surut, lahan kawasan hutan dan perkebunan mampu meningkatkan hasil hingga lebih dari 2 t/ha.Ada beberapa resep yang bisa dipakai petani agar usahatani kedelai memberikan untung yang memadai. Cara pintar ini bisa dimulai dengan ketepatan menentukan teknik budidaya sesuai dengan kondisi agro ekosistemnya. Cara ini sangat penting dalam menunjang berhasil tidaknya membudidaya kedelai. Berikut ini dipaparkan berbagai jenis inovasi teknologi yang sesuai dengan agroekosistem.a. Kedelai Lahan Sawah setelah PadiTeknologi budidaya kedelai di lahan sawah setelah padi, terdiri dari:1. Penggunaan varietas unggul: Ijen, Kaba, Sinabung, Baluran, Anasmoro, Mahameru.2. Benih dengan kualitas baik dan daya tumbuh > 85 %.3. Tanpa olah tanah.4. Saluran drainase setiap 3 – 4 m.5. Jarak tanam 40 cm x 10 – 15 cm, 2 tanaman/rumpun.6. Penggunaan pupuk kandang atau mulsa jerami 5 t/ha.7. Pemupukan dengan dosis disesuaikan kondisi kesuburan lahan.8. Pengendalian gulma dua kali (umur 15 dan 45 hari).9. Pengendalian hama dan penyakit sesuai kondisi hama dan penyakit yang menyerang. b. Kedelai di Lahan Sawah Tadah HujanTeknologi budidaya kedelai terdiri dari:1. Penggunaan varietas grobogan.2. Mutu benih baik dengan daya tumbuh >85%.3. Tanpa pengolahan tanah.4. Saluran drainase setiap 3 m.5. Cara tanam tugal, jarak 40 x 10 – 15 cm, 2 tanaman/rumpun.6. Pengendalian gulma 2 kali.7. Pengendalian hama 2 kali.8. Pemupukan dosis 50 kg/ha Urea, 75 kg/ha SP 36, 100 kg/ha KCL atau bisa juga dengan 200 kg Phonska/ha, + 50 kg SP 36/ha.9. Perontokan biji dengan threser. c. Kedelai di Lahan Kering MasamTeknologi budidaya kedelai terdiri dari atas :1. Penggunaan varietas unngul: Kaba, Sinabung, Anjasmoro dan Tanggamus.2. Benih dengan kualitas baik dan daya tumbuh >85%.3. Tanah diolah.4. Saluran drainase setiap 3 – 4 m (tergantung kondisi lahan).5. Jarak tanam 40 cm x 15 – 20 cm, 2 tanaman/rumpun.6. Penggunaan pupuk kandang 2,5 – 5 t/ha.7. Pemupukan dengan dosis 75 kg Urea/ha + 100 kg SP36/ha atau bisa juga dengan 200 kg Phonska/ha + 100 kg SP36/ha.8. Pemberian dolomit dosis 1.500 kg/ha.9. Pengendalian gulma dua kali.10. Pengendalian hama dan penyakit sesuai kondisi hama dan penyakit yang menyerang.Oleh : Sunarto STP. Penyuluhan Pertanian MadyaBPP Banyuurip DINPPKP Kab.Purworejo