Loading...

PEMANFAATAN AGENS HAYATI SEBAGAI PENGENDALI HAMA

PEMANFAATAN  AGENS HAYATI SEBAGAI PENGENDALI HAMA
PEMANFAATAN AGENS HAYATI SEBAGAI PENGENDALI HAMADisusun oleh :LILI FRISCHAWATI, SPNIP. 198710052010012016PENYULUH PERTANIAN KECAMATAN KEBONARUM2019 PENDAHULUANSampai saat ini penanganan Organisme Pengganggu tanaman di Kabupaten Klaten masih bergantung pada insektisida kimiawi semata sehingga dikawatirkan akan terjadi dampak negatif ekonomi dan ekologis.Keberuntungan terhadap insektisida kimia dapat dimaklumi karena informasi teknologi penanganan OPT yang didasarkan atas konsep PHT belum merata sehingga belum dapat diterapkan sepenuhnya. Dalam penanganan OPT penggunaan pestisida bukanlah satu-satunya cara yang dianjurkan, salah satu yang dikembangkan antara lain dengan memanfaatkan patogen serangga berupa cendawan, bakteri maupun golongan virus atau yang disebut pengendali hayati (biological control agents).Ekosistem pertanian memiliki keanekaragaman hayati yang lebih rendah dibanding ekosistem hutan sekunder atau hutan lindung, sehingga peranan agens hayati juga lebih rendah. Lebih-lebih ekosistem pertanian pangan dan kortikultura dengan komoditas yang kurang beragam, peranan agens hayati lebih rendah lagi, terutama yang telah mengunakan pestisida kimia dalam sistem produksinya.PETANI PHTPetani kita telah terbukti dalam budidaya tanaman dengan tetap menjaga pelestarian plasma nutfah dengan penerapan pranata mangsa,mengikuti falsafah tani tangguh mongso (Mangoendihardjo,S.1998) pada dasarnya kearifan petani tersebut memungkinkan budidayanya tanaman yang diusahakan terhindar dari serangan hama dan penyakit.Telah lama diketahui bahwa para petani di Jawa telah memperhatikan saat penebangan bambu, menebar benih dan panen produk pertanian apapun Achmad (Sultoni, 1998; Hadisutrisno, 1999). Kearifan petani itu ternyata sesuai dengan hasil kajian ilmiah tentang peran agen hayati di alam (Untung, 1996). Pada pertanaman pangan dan hortikultura telah dicatat pula berbagai komplek musuh alami pada sejumlah komoditas. Kebanyakan komoditi yang terserang hama atau penyakit pada umumnya memiliki kompleks musuh alami yang potensial. Misalnya penggerek batang dan tongkol jagung. Pyransta furnacalis (Guen) secara alami telah dikendalikan oleh keberadaan parasit telur Trichogramma sp, parasir ulat Chelonus sp dan Xantopinpla modesta (Sm), serta semut dan larva lalat jala yang memangsa ulat muda (Kalshoven, 1951). Kemudian juga ditemukan bakteri patogenik pada ulat yakni Basillus thuringensis (Mukidjo, 1974).Dengan kompleks musuh alami itu praktis P.Furnacalis jarang timbul secara eksplosif.PENGEMBANGAN AGENS HAYATI Teknologi peningkatan peran agens hayati dapat dilakukan secara sederhana yang mampu dikerjakan oleh Petani, namun kadang-kadang khususnya bioteknologi yang paling sederhana ialah dengan memindahkan agens yang berujud parasitoid atau pemangsa dari satu tempat ketempat lain. Bahkan sering dilakukan dengan pembiakan masal lebih dahulu terhadap musuh alami setempat atau yang diintroduksikan, kemudian dilepas kembali seperti dalam penanggulangan kumbang badak dan penggerek batang serta penggerek pucuk tebu (Mangoendihardj, 1983). Demikian pula bioteknologi baik yang konvensional maupun modem telah banyak dimanfaatkan dalam peningkatan peran agens hayati, dengan makin besarnya minat dan niat kembali kealam. Dalam era perdagangan bebas makin besar pula pemanfaatan teknologi tanpa pestisida kimia. Setiap mata dagangan produk pertanian harus diberi ekolabel, yakni label yang menunjukkan batas minimum residu pestisida kimia atau bahkan bebas residu sama sekali. Kesepakatan terakhir ini mendorong upaya penerapan pertanian organik. Dalam dua dekade terakhir bioteknologi telah banyak dimanfaatkan dalam peningkatan peran agens hayati menjadi agens pengendali hayati. Upaya itu mengarah pada produksi pestisida hayati untuk pengendalian hama dan gulma, termasuk autofaksin untuk pengendalian penyebab penyakit. Insektisida hayati dengan bahan aktif virus dan jamur patogenik terhadap serangga hama dan gulma telah banyak dipasarkan. Insektisida hayati yang bahan aktifnya spora bakteri atau toksin yang dihasilkan dengan proses fermentasi telah lama diperdagangkan diseluruh dunia. Bactospein, Dipel dan Thuricide merupakan contoh insektisida hayati yang mengandung spora dan atau delta endoksin yang dihasilkan oleh Bacillus thuringiensis. Perkembangan terakhir bioteknologi telah memungkinkan penggunaan agens hayati dalam pengendalian hayati dengan tanaman transgenik sudah dapat dilaksanakan diberbagai negara. Antara lain dengan mentransfer gen Bacillus thuringiensis ke dalam tanaman padi jagung atau tomat sehingga tanaman itu tahan terhadap serangan berbagai jenis hama. Hal ini dapat terjadi karena tanaman itu sendiri mampu menghasilkan delta endotoksin yang dapat membunuh larva jenis-jenis hama tertentu yang baru keluar dari telur dan langsung menyerang tanaman tersebut. Kelemahannya, negara yang memanfaatkan tanaman trangenik tetapi belum mampu menghasilkan sendiri bibitnya, akan sangat tergantung pada negara maju yang telah memiliki teknologi tersebut (Mangoendihardjo, S.1983) Meskipun agens hayati ada yang telah dapat direkayasa dan dimanfaatkan dalam teknik pengendalian hayati sebagai komponen PHT, tetapi produk bioteknologi itu perlu diwaspadai, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan terkait dengan keberadaan agens hayati itu dihabitatnya yang baru.KESIMPULANDari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :• Agens hayati sangat penting dalam penerapan Pengendalian hama Terpadu (PHT) terkait dengan pengaturan populasi secara laami dan pemanfaatan agens hayati sebagai agens pengendalian hayati.• Meskipun produk bioteknologi telah memberi manfaat yang besara dalam memberdayakan agens hayati, namun kewaspadaan atas penggunaan produk itu dalam kehidupan manusia sangat diperlukan.