Loading...

PEMANFAATAN ALAT MESIN PERTANIAN SEBAGAI SOLUSI PEMECAHAN MASALAH TENAGA KERJA DI BIDANG PERTANIAN

PEMANFAATAN ALAT MESIN PERTANIAN SEBAGAI SOLUSI PEMECAHAN MASALAH  TENAGA KERJA DI BIDANG PERTANIAN
Sumber daya pertanian merupakan salah satu kebutuhan pokok kehidupan manusia dan merupakan salah satu modal dasar pembangunan pertanian. Sejalan dengan pertambahan penduduk yang terus meningkat, kebutuhan akan lahan untuk berbagai penggunaan seperti pemukiman, industri, pariwisata, transportasi, pertanian dan lain-lain terus meningkat. Sementara itu jumlah lahan yang tersedia relatif tetap. Ketidakseimbangan antara jumlah penduduk dengan ketersediaan lahan sering mengakibatkan menurunnya luas lahan pertanian yang berakibat pada penurunan jumlah produksi. Selain itu juga semakin kecilnya tenaga kerja yang bergerak disektor pertanian, mengakibatkan tertundanya proses usaha tani mulai dari pra panen, panen, pasca panen dan pengolahan hasil pertanian. Untuk meningkatkan efisiensi pengolahan pertanian telah banyak digunakan alat pengolah lahan khususnya hand traktor dan cultivator. Kecamatan Kledung Kabupaten Temanggung dengan topografi lahan berbukit dan hampir 75% lahan pertanian merupakan tegalan cocok untuk pemanfaatan cultivatorPertanian modern dicirikan dengan salah satunya yaitu adanya pemanfaatan teknologi pertanian yang sudah maju. Pemanfaatan teknologi ini akan memberikan dampak yang nyata dibidang pertanian terutama di efisiensi dan efektifitas budidaya pertanian. Dengan adanya efektifitas dan efisiensi budidaya pertanian maka secara otomatis biaya usahatani juga akan semakin menurun. Namun teknologi pertanian masih belum di barengi dengan tingkat pengetahuan petani tentang pemanfaatan alat mesin pertanian. Di Desa Jambu sudah mulai digunakan alat mesin pertanian berupa cultivator untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di sector pertanian.Desa Jambu Kecamatan Kledung terletak di lereng Gunung Sumbing dengan ketinggian tempat berkisar 1300 m/dpl. Topografi tanah merupakan tanah tegal miring bergelombang. Dari sumber peta tanah, Desa Jambu memiliki jenis tanah regosol coklat kelabu, dengan ciri-ciri tekstur lemah, pengolahan tanah ringan sehingga rentan erosi. Luas Baku lahan Tegalan : 55,45 ha; Pekarangan : 9,08 ha; Hutan : 10,00 ha; Lain-lain : 1,37 ha; Jumlah : 75,90 ha. Dari data luas lahan tersebut dapat disimpulkan bahwa hampir 75% lahan pertanian di Desa Jambu berupa tegalan yang dimanfaatkan untuk bercocok tanam komoditas tanaman pangan (jagung), hortikultura dan tanaman perkebunan. Kemudian dari 780 jiwa penduduk Desa Jambu sebanyak 629 jiwa atau 80% penduduknya bermatapencaharian sebagai petani dan buruh tani.Kelompok Tani Makmur Desa Jambu Kecamatan Kledung pada tahun 2014 dan tahun 2016 mendapat bantuan dari pemerintah berupa alat mesin pertanian yaitu cultivator merk Honda fj-500. Anggota kelompok Tani Makmur berjumlah 46 orang dengan luas kepemilikan lahan pertanian rata-rata 0,5 hektar dengan komoditas dominan hortikultura (bawang merah, bawang putih, tomat, cabai, kobis), tanaman pangan (jagung), dan perkebunan (tembakau, kopi). Dari hasil observasi dan interview yang dilakukan kepada anggota kelompok tani Makmur didapatkan data biaya yang dikeluarkan untuk olah tanah dengan tenaga kerja manusia sebesar Rp. 960.000,- seluas 0,5 ha selama 8 hari dengan jumlah tenaga kerja 2 orang. Sedangkan bila menggunakan cultivator dengan luasan 0,5 ha dapat diselesaikan dalam waktu 4 hari dengan jam kerja perhari sama, dengan biaya Rp. 500.000,-. Dengan rincian penggunaan cultivator/ hari : upah operator Rp.70.000,- ; sewa dan perawatan ke kas kelompok Rp. 30.000,- ; dan bahan bakar minyak Rp. 25.000,-. Sedangkan dari 46 anggota kelompok baru sebanyak 25 orang yang sudah mencoba memanfaatkan cultivator. Dari anggota yang belum mencoba memanfaatkan cultivator ini sebagian besar masih beranggapan bahwa tenaga kerja manusia masih lebih baik karena dalam pengolahan tanah (pencangkulan lahan) lebih dalam dan mobilitasnya lebih mudah terutama di lahan yang sulit dijangkau.Dari definisi operasional penelitian ini dapat dilihat bahwa dari data di atas, penggunaan alat mesin pertanian cultivator lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan penggunaan tenaga manusia. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan alat mesin cultivator bisa lebih efektif dan efisien dibandingkan tenaga kerja manusia menurut batasan definisi operasional penelitian. Ini dapat dilihat dari penggunaan cultivator memberikan biaya yang lebih rendah dan waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan tenaga manusia dengan luasan lahan yang sama. Namun masih perlu adanya kemudahan prasarana yang mendukung pemanfaatan cultivator terutama di lahan yang sulit di jangkau.Rekomendasi yang bisa diberikan dari uraian di atas antara lain :1. Pemanfaatan Cultivator secara nyata terbukti efektif dan efisien dalam pelaksanaan usaha tani sehingga perlu dikembangkan baik jumlah maupun skala pemanfaatannya2. Perlu peningkatan pengetahuan petani yang lebih luas agar tertarik memanfaatkan cultivator.Demikian hasil penelitian kami, semoga bermanfaat dan dapat disempurnakan dengan penelitan dan kajian selanjutnya Oleh : KURNIANTO, SPPenyuluh Pertanian Pertama UPT Dintanpangan Kecamatan Kledung Kabupaten Temanggung