Pemanfaatan Daerah Irigasi Citanduy dalam Mengantisipasi Kekeringan di Lahan Sawah dengan Kincir Air
Energi merupakan kemampuan untuk melakukan gerak. Air yang mengalir mempunyai energi untuk menggerakkan benda. Salah satu alat yang memanfaatkan energi gerak air adalah kincir air. Air merupakan sumber energi yang murah dan relatif mudah didapat, karena pada air tersimpan energi potensial (pada air jatuh) dan energi kinetik (pada air mengalir). Tenaga air (Hydropower) adalah energi yang diperoleh dari air yang mengalir. Energi yang dimiliki air dapat dimanfaatkan dan digunakan dalam wujud energi mekanis maupun energi listrik. Pemanfaatan energi air banyak dilakukan dengan menggunakan kincir air yang memanfaatkan adanya suatu air terjun atau aliran air di sungai. Kincir air adalah sebuah bangunan air berbentuk lingkaran yang dibangun di sungai. Alat ini berputar pada sumbunya karena adanya dorongan aliran air sungai yang cukup deras. Sejalan dengan berputarnya kincir, alat ini sekaligus mengambil air dari sungai dan menumpahkannya ke talang/ penampung air di bagian puncaknya. Selanjutnya air dari talang didistribusikan secara gravitasi ke daerah yang membutuhkan. Kelompok Tani Sari Mukti yang berada di Dusun Leuwi lembu Desa Manggungsari mempunyai areal sawah seluas 22,66 Hektar dan dialiri sungai Cimanggung serta Sungai Citanduy. Ketersediaan air dari sungai cimanggung tidak memadai sehingga sering mengganggu kelancaran pertanian, khususnya tanaman padi. Setiap datang musim kemarau, petani di Kampung Sukasirna, Desa Manggungsari, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya tidak terlalu dipusingkan dengan kekurangan air. Para petani masih bisa menggarap sawah. Sawah di daerah lain kekeringan, tapi tidak dengan sawah-sawah di Sukasirna. Sejak tahun 1950-an, warga Sukasirna memanfaatkan air sungai Citanduy untuk mengaliri sawah. Kincir air itu dibuat secara gotong royong dengan memanfaatkan bambu dan selang. Setiap kincir mampu mengairi lahan sawah yang kekeringan hingga luasnya satu hektar dalam waktu 3 hari.Selama ini pembangunan Kincir Air diusahakan secara swadaya sesuai kemampuhan sehingga hasilnya kurang maksimal. Seringkali terjadi kerusakan kembali mengingat air sungai di waktu hujan yang sering merusak bangunan kincir air