PEMANFAATAN LAHAN 10 M X 25 M UNTUK BUDIDAYA PARE Penyebaran wabah virus corona (covid-19) Saya dan Petani Pak Eko memotifasi dan merangkul bukan dari kalangan petani untuk mencoba belajar bercocok tanam memanfaatkan lahan pekarangan rumah dari beberapa informasi yang saya sadur LAHAN PERTANIAN UMUMNYA BERADA DI ZONA HIJAU (AMAN) Pemanfaatan lahan 10 M x 25 M Estimasi kebutuhan sarana produksi ± 2 – 2,5 juta berupa : Bibit Pare > 10 saset @ Rp 35.000 = Rp 350.000 Tali gawar > isi 2 Roll Rp 35.000,- Mulsa > 125 M Rp Rp 200.000,- Pupuk > SP36, NPK Mutiara, KCl > ± Rp 700.000 – Rp 800.000 Pestisida > Rp 700.000 – Rp 800.000 Bambu > ± Rp 300.000 HOK > Memanfaatkan tenaga sendiri dimana sinar matahari (ultraviolet) dilahan pertanian membuat Covid-19 tidak aktif Lahan 10 M x 25 M mendapatkan 6 bedeng Bedengan 1 ke Bedengan 2 lebar 2 M Bedengan 2 ke Bedengan 3 lebar 50 cm Bedengan 3 ke Bedengan 4 lebar 2 M Bedengan 4 ke Bedengan 5 lebar 50 cm Bedengan 5 ke Bedengan 6 lebar 2 M Panjang masing-masing bedeng 25 M Panen pertama 45 – 50 hari Selanjutnya setiap 2 hari panen 20 x panen Analisa sederhana dengan harga jual pare di tingkat petani paling rendah Rp 1.500/buah Setiap kali petik/panen 400 buah x Rp 1.500/buah = Rp 600.000 > Itu berarti setiap 2 hari pendapatan kita Rp 600.000 20 kali panen x Rp 600.000 = Rp 12.000.000 Physical Distancing Kerja seorang guru tidak ubah seperti kerja seorang petani yang sentiasa membuang duri serta mencabut gulma yang tumbuh di celah-celah tanamannya. PENYULUH MILENIAL MENGUNAKAN MEDSOS SEBAGAI SARANA MEDIA INFORMASI BAGI PETANI PENULIS Nama : Searty Ningsih Mangoli, SP Instansi : Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa Utara Akun Facebook : Bpp Dimembe