Loading...

PEMANFAATAN LIMBAH JAMBU METE UNTUK PEMBUATAN MIKRO ORGANISME LOKAL ( MOL )

PEMANFAATAN LIMBAH JAMBU METE UNTUK PEMBUATAN MIKRO ORGANISME LOKAL ( MOL )
Tanaman Jambu Mete dapat tumbuh hampir di seluruh wilayah Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Wonogiri. Populasi tanaman jambu mete di kecamatan ngadirojo mencapai puluhan ribu tanaman. Jambu mete berbuah secara musiman, yaitu mulai bulan Juli – Nopember. Biji jambu mete mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi, sehingga selama ini jambu mete hanya dimanfaatkan bijinya. Sedangkan buahnya hanya dibuang begitu saja, hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan untuk campuran pakan sapi. Pada saat panen raya satu pohon jambu mete yang sudah produktif bisa menghasilkan 20-30 kg biji mete. 1 kilogram biji mete, dapat menghasilkan limbah buah jambu mete ukuran sedang sebanyak 7-10 kg. Sayang sekali bukan kalau limbah buah jambu mete ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Padahal dari buah jambu mete ini bisa diolah menjadi beberapa produk olahan pangan yang memberi nilai tambah seperti sirup, abon dan bahan pembual MOL ( Mikro Organisme Lokal ). MOL ini sangat bermanfaat bagi petani sebagai decomposer pengolahan pupuk organic dan penggemburan tanah.Pada kesempatan ini, akan kita bahas pemanfaatan limbah buah jambu mete ini sebagai bahan pembuatan mikroorganisme local ( MOL ). MOL sangat bermanfaat untuk petani, mengingat mayoritas penduduk Kecamatan Ngadirojo mayoritas adalah petani. A. Apakah MOL itu? MOL adalah kumpulan dari beberapa mikro organisme yang bisa diternakkan, fungsinya dalam konsep "zero waste" adalah untuk starter/biang pembuatan pupuk organic sehat. Dengan MOL ini maka konsep pengomposan/fermentasi kotoran ternak bisa selesai dalam waktu 21 hari.MOL tidak mengandung bahan-bahan kimia yang dapat merusak lingkungan, dan tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup yang ada disekitarnya. Dengan pemberian MOL sifat fisik, kimia dan biologi tanah tetap terjaga. MOL bersifat menguraikan dan memecah bahan organik sehingga tanah yang dikocor dengan cairan MOL akan menjadi lembut, subur dan gembur karena kaya akan mikro organisme dan bahan organik yang sangat dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Bahan organik tanah terus ditambahkan sehingga kelestarian hutan, tanah dan air tetap terjaga. Penggunaan MOL juga dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia maupun pestisida kimia. MOL dapat dimanfaatkan sebagai POC (Pupuk Organik Cair), dekomposer atau biang kompos untuk pembuatan kompos/pupuk organic sehat dan dapat juga dimanfaatkan untuk pestisida nabati untuk mengusir hama tanamanBahan dasar pembuatan MOL dapat berasal dari bahan-bahan lokal alami yang mudah didapat dan ada disekitar tempat tinggal. Misalnya buah jambu mete, papaya, pisang dan buah2an lainnya. Selain itu rebung, keong mas, buah mojo, bonggol pohon pisang juga bisa digunakan sebagai bahan pembuatan MOL. Semua jenis buah-buahan bisa digunakan untuk bahan pembuatan MOL, tergantung ketersediaan yang ada disekitar kita. Di atas sudah dijelaskan bahan-bahan pembuatan MOL. Mengingat yang akan kita ternakkan ini adalah makhluk hidup, yang membutuhkan makanan untuk berkembang biak maka bahan utama larutan pembuat MOL harus mengandung tiga bahan, yaitu :1. Karbohidrat : air cucian beras, nasi bekas, singkong, 2. Glukosa : cairan gula merah, cairan gula pasir, molases 3. Sumber bakteri : keong mas, buah-buahan ( jambu mete, nanas, pisang, mangga dll ) sayuran B. CARA PEMBUATAN MOL JAMBU METE Bahan :1. 5 kg buah jambu mete ( bisa pepaya, pisang, mangga, jambu dll yg sudah busuk 2. Air kelapa atau air cucian beras 10 liter3. 1 kg gula jawa atau tetes tebu Cara Membuat :1. Buah jambu mete ditumbuk/ haluskan 2. Campur dengan gula/tetes tebu dan air leri 3. Masukkan dalam wadah tertutup4. Fermentasikan selama 7 Hari5. Setelah 7 Hari, MOL siap digunakan C. DOSIS PENGGUNAAN MOL UNTUK :1. Pengomposan/pengolahan pupuk organik, larutan fermentasi MOL diencerkan sebanyak 5 x2. penyemprotan tanaman, diencerkan hingga 15 x3. Pemakaian pada padi : dosis 1 ha adalah 5 lt mol, 4. POC diberikan 5 kali yaitu, umur 10 hari HSPT (hari sesudah pindah tanam), 20 HSPT 30 HSPT, 40 HSPT, 50 HSPT5. Sebagai pupuk daun POC MOL diberikan sesuai dengan perkembangan tanaman. Pemberian umur 10 HSPT diencerkan dengan perbandingan sekitar 1:10. (0,1 liter POC MOL+ 1 liter air), umur 20 HSPT diencerkan 1 : 20 (0,1 liter POC + 2 liter air), dst. Umur 30 HSPT 1:30, umur 40 HSPT 1:40, umur 50 HSPT 1:50