Dalam usahatani jagung akan diperoleh hasil samping berupa limbah tanaman. Saat ini pemanfaatan limbah tersebut belum optimal. Padahal limbah tanaman jagung dapat dijadikan sumber pakan potensial untuk ternak ruminansia. Limbah tanaman jagung memiliki serat yang tinggi, dan merupakan bahan pakan penting untuk sapi pada saat rumput sulit diperoleh, terutama pada musim kemarau. Dengan berkembangnya usaha penggemukan sapi impor atau berkembangnya industri sapi perah, seluruh tanaman jagung dapat dimanfaatkan sebagai pakan. Jagung ditanam secara khusus untuk menggantikan rumput. Tanaman jagung pada umur tertentu, terutama ketika bulir mulai tumbuh, mempunyai nilai gizi yang tinggi untuk sapi. Kandungan nutrisi dari limbah jagung bervariasi tergantung dari bagian mana. Total gizi tercerna tertinggi dihasilkan dari silase tanaman termasuk buah yang matang. Sedangkan terendah diperoleh dari tongkol. Kandungan protein tertinggi diperoleh dari silase tanaman jgung manis. 1. Beberapa Limbah Tanaman Jagung yang Dapat Dijadikan Pakan Beberapa limbah tanaman jagung yang dapat dijadikan pakan diantaranya: tebon jagung, jerami jagung atau disebut juga brangkasan, kulit buah jagung, dan tongkol jagung. a. Tebon Jagung Tebon jagung berupa seluruh tanaman termasuk batang, daun, dan buah jagung muda yang dicacah dan diberikan langsung kepada ternak. Tebon dihasilkan dari pertanaman jagung yang sengaja ditanam untuk dijadikan hijauan. Pemanenan dilakukan pada umur tertentu dengan cara memangkas tanaman. Pemberian kepada ternak dengan cara dicacah diberikan saat segar dan dapat juga diawetkan dengan cara dibuat silase. b. Jerami Jagung atau BrangkasanLimbah ini berupa bagian batang dan daun jagung yang dibiarkan kering di ladang dan dipanen pada saat tongkol dipetik. Jerami jagung merupakan bagian limbah terbesar. Jerami jagung seperti ini umumnya dijumpai di daerah penghasil benih atau jagung untuk keperluan industri pakan. c. Kulit Buah JagungLimbah kulit buah jagung atau kelobot biasanya dibuang. Kulit jagung manis potensial untuk dijadikan silase karena kadar gulanya cukup tinggi. d. Tongkol JagungLimbah tongkol jagung diperoleh dari bagian dari buah jagung setelah biji dipipil. 2. Pengolahan Limbah Jagung Menjadi Pakan Sebelum diberikan kepada ternak, umumnya limbah jagung diolah terlebih dahulu. Pengolahan limbah jagung menjadi pakan biasanya melalui pengawetan dengan pengeringan matahari sehingga menghasilkan hay dan disimpan untuk persediaan pakan sapi pada musim kemarau. Berikut beberapa cara pengolahan limbah jagung untuk pakan. a. SilaseSilase dapat dibuat dari seluruh bagian tanaman jagung, termasuk buah muda (90 hari), buah yang sudah matang (100 hari), atau kulit jagung manis. Biasanya, bagian dari sisa panen ini masih mengandung air cukup tinggi. Untuk dijadikan silase, dibutuhkan bahan dengan kadar air sekitar 60%. Untuk mengurangi kadar air, sisa panen tanaman jagung dikeringkan selama 2-3 hari. Dalam pembuatan silase, tanaman jagung dipotong-potong sampai kecil, lalu dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik kedap udara sambil dipadatkan. Jika seluruh tanaman jagung termasuk buahnya dibuat menjadi silase, maka karbohidrat terlarut yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri sudah mencukupi. Namun jika yang dibuat silase hanya jerami atau kulit jagung, maka perlu ditambahkan molases sebagai sumber karbohidrat terlarut. Untuk mempercepat proses pematangan, dalam pembuatan silase dapat ditambahkan starter (bakteri atau campurannya). Mikroba yang ditambahkan biasanya adalah bakteri penghasil asam laktat seperti Lactobacillus plantarum, L. casei, L. lactis, L. bucheneri, Pediocococcus acidilactici, dan Enterococcus faecium yang berperan menurunkan pH silase. b. Amoniasi Teknik amoniasi umumnya dilakukan sebelum limbah dijadikan silase. Amoniasi merupakan perlakuan pemberian Urea pada bahan limbah untuk silase. Untuk setiap kg limbah diberikan 34 gram urea. Sumber : Tangendjaja,B., dan Elizabeth W. 2012. Limbah Tanaman Jagung dan Produk Samping Industri Jagung untuk Pakan. Dalam Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. Jakarta Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian); Email: ume_humaedah@yahoo.com