Loading...

Pemanfaatan MOL (Mikroorganisme Lokal) Sebagai Pengganti Pupuk Kimia

Pemanfaatan MOL (Mikroorganisme Lokal) Sebagai Pengganti Pupuk Kimia
Saat ini petani cenderung memilih menggunakan pupuk kimia dari pada pupuk organik. Penyebabnya adalah karena kandungan hara pupuk kimia lebih tinggi, mudah diperoleh secara instan ketika dibutuhkan dan pengaruhnya terhadap tanaman yang diberi pupuk lebih cepat terlihat dibandingkan dengan pupuk organik yang pengaruhnya tidak dapat cepat terlihat. Selain itu, penggunaan pupuk kimia pada lahan tersebut yang dilakukan secara terus menerus dapat menyebabkan semakin berkurangnya kandungan bahan organik di dalam tanah, kesuburan tanah pun menurun, akibatnya hasil panen juga menurun. Dengan kondisi yang seperti itu mendorong petani untuk meningkatkan dosis pupuk kimia agar hasil tanamannya meningkat. Akibatnya, selain tidak ekonomis, pemupukan dengan dosis tinggi ternyata dapat menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan, baik pencemaran tanah maupun air. Jadi pemupukan dengan pupuk kimia secara terus-menerus dengan dosis tinggi bukanlah cara yang baik untuk menjaga kesuburan tanah apalagi untuk mengembalikan tanah pada kondisi semula. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pada Hari Jumat, 19 Oktober 2018 dilakukan praktek pembuatan Mikro Organisme Lokal atau MOL di Gapoktan Jayabakti Desa Purwabakti Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor. MOL adalah cairan hasil fermentasi yang mengandung mikroorganisme hasil produksi sendiri dari bahan-bahan alami yang tersedia disekeliling kita. Bahan-bahan tersebut merupakan tempat yang disukai oleh mikroorganisme sebagai media untuk hidup dan berkembangnya mikroorganisme yang berguna dalam mempercepat penghancuran bahan-bahan organik (dekomposer) atau sebagai tambahan nutrisi bagi tanaman. Sehubungan dengan adanya larutan mol yang bisa digunakan maka dibutuhkan dalam dekomposisi bahan organik atau pembuatan bokashi karena larutan MOL menggandung unsur hara makro dan mikro dan juga menggandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik. Pada kesempatan ini di Gapoktan Jaya Bakti akan dilakukan praktek pembuatan MOL dengan bahan yang mudah didapatkan, adapun alat, bahan serta cara pembuatannya sebagai berikut: Alat-alat yang disiapkan : Pisau, Ember, Gayung, Jerigen/Toren, Lisung dan Halu Bahan-bahan : EM4, Bonggol Pisang, Rebung Bambu, Keong Mas, Gula Merah, Air Kelapa. Cara pembuatan : Keong Emas sebanyak 15 kg, bonggol pisang sebanyak 10 kg dan rebung bambu sebanyak 10 kg ditumbuk halus, kemudian gula merah sebanyak 10 kg dihaluskan, lalu masukan air kelapa 10 liter serta bahan yang sudah dihaluskan tadi ke dalam 500 liter air kemudian tambahkan EM4 sebanyak 2 Liter. Tutup rapat sampai 14 hari. Cara Penggunaan : Saring MOL yang sudah dibuat tadi untuk pupuk encerkan 1 liter MOL dengan air 15 liter. Aplikasinya semprotkan ketanaman pagi atau sore hari. Penggunaan bahan MOL bonggol pisang kaya akan kandungan giberelin, sitokinin, azorpillum, azotobacter, bacillus, aeromonas, aspergilus, mikroba pelarut fosfat, mikroba selulotik. Manfaatnya sebagai dekomposer dan penyubur tanah. Sedangkan bahan MOL rebung bambu memiliki kandungan C organik dan giberelin tinggi, azotobacter, azospirillum yang bermanfaat untuk pertumbuhan. Keunggulan penggunaan MOL yang paling utama adalah murah bahkan bisa tanpa biaya, dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar. Sudah tiba saatnya untuk memasyarakatkan pertanian yang ramah lingkungan, termasuk penggunaan MOL sebagai substitusi secara bertahap terhadap penggunaan pupuk kimia.Majulah Pertanian Indonesia!!! Penulis : Dede Sopyandi, SP Jabatan : Penyuluh Pertanian Pertama Desa Ciasmara dan Purwabakti Kecamatan Pamijahan UPT Pertanian IV/BPP Wilayah Cibungbulang Sumber: penyuluhpertanian.net