Tanaman cabai merupakan tanaman komoditas unggulan yang ditetapkan pemerintah. Melalui program pemerintah cabai diharapkan mampu meningkatkan produksi dan mampu berdaya saing di tingkat global. Upaya yang paling awal dilakukan yaitu melakukan pemetaan wilayah dengan komoditi penghasil cabai di tingkat lapangan. Hal inilah yang mendasari Koordinator Fungsionalbersama PPL dan THL Provinsi melakukan kunjungan ke petani cabai pada hari Rabu, 18 September 2019. Kunjungan hari ini dilaksanakan di salah satu Petani Cabai di Desa Sukarame, Kecamatan Sukarame Bandar Lampung. Sebagian petani di Kelurahan Sukaramememanfaatkan lahan sawah yang tidak ditanami padi dengan beralih menanam cabai merah dengan sistem bedengan plastik (mulsa).Banyak petani sayuran yang beralih menanam cabai dengan mulsa karena tanaman yang dihasilkan lebih bagus dibandingkan dengan menanam cabai dengan bedengan biasa, kata Parwoko (37), anggota kelompok tani Rezeki Makmur, Kelurahan Sukarame, Kecamatan Sukarame. Para petani menanam tanaman cabai merah karena terpengaruh dengan tingginya harga cabai yang kini mulai terkoreksi oleh banyaknya pasokan ke pasar. Pola penanaman cabai dengan menggunakan mulsa baru dilakukan oleh beberapa orang petani di daerah itu sejak dua tahun lalu. Sebelumnya petani setempat menanam cabai menggunakan bedengan tanah biasa, sehingga hasilnya tidak memuaskan karena banyak bibit tanaman cabai yang baru ditanam diserang hama, sedangkan dengan mulsa tanaman akan lebih terjaga dan kondisi tanah tetap lembab. Menurut Pak Mujito yang merupakan ketua KT Rezeki Makmur menjelaskan ada beberapa alasan mengapa petani menggunakan plastik mulsa ini, diantaranya adalah (1) Menanam cabai menggunakan plastik mulsa ini tahan terhadap cuaca kemarau seperti saat ini, (2) Mengurangi evaporasi, dengan tertutupnya tanah dengan mulsa plastik kehilangan air akibat evaporasi akan berkurang, (3) Penggunaan air lebih efisien karena dapat mengurangi penggunaan air sampai dengan 45%, (4) Penanganan gulma lebih rendah, mulsa plastik hitam dan hitam perak akan mengurangi intensitas cahaya ke permukaan tanah sehingga gulma cenderung tidak tumbuh, (5) Penggunaan mulsa plastik akan menjaga nutrisi bagi tanaman berada pada zona perakaran, sehingga penggunaan nutrisi lebih efisien. Namun ada beberapa kerugian menggunakan mulsa plastik, diantaranya adalah (1) Limbah, setelah masa pemakaian habis mulsa plastik akan dibongkar masalah utama dari penggunaan mulsa plastik adalah bahan mulsa yang sulit terurai di alam(2) Ongkos produksi awal yang lebih besar, penggunaan mulsa plastik membutuhkan bahan serta alat pemasangan seperti lembaran plastik, pembuat lubang, pengolahan tanah, yang akan meningkatkan ongkos produksi. Dari segala kelebihan dan kekurangan penggunaan mulsa plastik ini, diharapkan hasil produksi Cabai meningkat dah harga saat panen masih tinggi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarga. Tidak lupa Ibu Hermika selaku Koordinator Fungsional menghimbau selain tertib administrasi, anggota kelompok yang telah bertanam cabai dapat menularkan ilmunya pada petani lainnya. Beliau juga berharap petani dapat lebih berinovasi lagi agar dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarga. (Penulis: Hermika Debataraja dan Ine Indriastuti)