Loading...

PEMANFAATAN OPTIMAL PAKAN HIJAUAN

PEMANFAATAN OPTIMAL PAKAN HIJAUAN
Hijauan Makanan Ternak akan lebih optimal pemanfaatannya dengan melakukan serangkaian cara berikut ini :A. Ternak harus memiliki akses terus-menerus terhadap pakan. Hal ini dapat dilakukan dengan membiarkan ternak merumput selama mungkin. Dapat juga dengan menyediakan pakan ekstra bagi ternak pada waktu malam hari. Perlu diperhatikan juga untuk ternak yang dikandangkan siang malam (misalnya ternak yang sakit) harus memperoleh pakan berkualitas baik sepanjang waktu; B. Memberikan pakan berkualitas baik. HMT yang diberikan merupakan HMT yang muda. Komposisi gizi/ nutrisi perlu diperhatikan. Namun, terkadang nilai kandungan zat gizi bahan pakan untuk ternak terbatas sehingga perlu dilakukan peningkatan kualitas. Harapannya agar bahan pakan tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan bobot tubuh ternak yang dibesarkan. Pemberian pakan tambahan pada ternak ruminansia sebaiknya dapat meningkatkan daya cerna pakan. Proses pencernaan menjadi sangat efisien karena senyawa yang tidak bisa dicerna mikroba rumen secara alamiah dapat diurai oleh mikroba yang berasal dari pakan tambahan. Sebagai informasi tambahan, pada ternak sapi, dapat diberikan urea secara langsung ke dalam pakan sapi. Tujuannya untuk merangsang pertumbuhan mikroba sehingga mampu mencerna hijauan pakan menjadi lebih baik. Selain itu, urea juga digunakan sebagai sumber protein yang mempunyai nilai biologis tinggi. Namun Penggunaan urea langsung ke dalam ransum cukup berbahaya bila belum berpengalaman sehingga diperlukan kehati-hatian. Beberapa kasus dalam kesalahan pemberian urea mengakibatkan keracunan yang berakibat pada kematian ternak. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian urea pada pakan sapi, yaitu sebagai berikut : (1). Urea akan efektif digunakan bila kandungan protein ransumnya rendah; (2). Jumlah pemberian urea sekitar 1% dari total ransum bahan kering. Bila digunakan dalam campuran konsentrat maka penggunaannya antara 2-3% dari campuran tersebut; (3). Diberikan bersama-sama dengan pakan yang sangat mudah dicerna (seperti tetes, pati, dan bekatul), mineral, serta vitamin agar pengunaannva efisien.C. Ternak dapat memilih apa yang akan dimakannya. Ruminansia bersifat selektif dalam memilih pakannya. Bahkan walaupun kualitas sumber daya pakannya rendah, ruminansia mampu memilih komponen-komponen terbaik dari pakan yang "jelek" itu (misal daun), sehingga yang masuk ke perutnya adalah pakan yang berkualitas baik. Bila ternak memakan seluruh pakan yang diberikan, termasuk bagian-bagian yang jelek, misalnya batang, berarti pakan yang diberikan belumlah cukup. Agar tumbuh baik ternak harus memperoleh kesempatan untuk memilih bagian terbaik dari pakannya. Adalah penting untuk memberi kesempatan kepada ternak untuk memilih apa yang dimakannya, juga bila diberi HMT yang diaritkan. D. Palatabelitas pakan juga perlu diperhatikan. Palatabelitas berhubungan juga dengan nafsu makan ternak. Perlu diketahui perubahan suhu dapat mempengaruhi nafsu makan dan proses metabolisme ternak. Pada suhu lebih tinggi, proses metabolisme ternak lebih cepat karena pengeluaran tenaga dan pemeliharaan tubuh ternak juga meningkat. Rangsangan makan pada sapi juga dipengaruhi oleh kondisi ternak. Kondisi ternak yang sehat tentu mempunyai rangsangan terhadap pakan lebih tinggi. Kondisi lingkungan yang baik membuat ternak merasa nyaman dan sehat. Namun, lingkungan yang tidak baik, seperti suhu ekstrim, kadar 02 rendah, atau kadar CO2 tinggi mengakibatkan ternak stres. Kondisi yang stres akan menurunkan rangsangan pada nafsu makan sehingga daya makan ternak menjadi turun. Mengatasi hal tersebut, dapat dengan menambahkan jenis hijauan yang diminati ternak. Sebagai contoh, bagi sapi yang sehat dapat ditambahkan bahan pakan berupa ketela pohon. Ketela pohon yang dicincang merupakan bahan pakan cukup efektif untuk meningkatkan rangsangan nafsu makannya. E. Berikan pakan terbaik untuk ternak-ternak yang paling produktif. Ruminansia yang produktif (seperti yang menyusui atau pedet muda yang sedang tumbuh) membutuhkan pakan lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik daripada ternak yang tidak produktif. Kualitas HMT tersebut harus tinggi agar produksinya lebih baik. Produksi susu akan sangat menurun bila kualitas HMT rendah. F. Memberikan suplemen protein. Kebanyakan rerumputan tidak mengandung cukup protein untuk menopang pertumbuhan ternak yang baik. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hijauan yang dimakan ruminansia akan diurai oleh mikroba yang ada di dalam rumen, atau perut pertama. Kemudian diubah menjadi bentuk yang dapat diserap oleh ternak. Jumlah dan kecepatan mikroba ini dalam mengurai bahan makanan tergantung pada pasokan gizi yang sesuai, terutama protein, yang tersedia dalam pakan. Suplemen protein, misalnya dapat diperoleh dalam bentuk pakan konsentrat atau bahan tunggal misalnya tepung ikan. Bagi petani kecil ini seringkali tidak tersedia atau terlalu mahal. Alternatif sumber protein pada petani kecil adalah hijauan legum. Sumber pakan berkualitas tinggi yang mudah diperoleh adalah daun leguminosa. Legum mengandung kira- kira 15–30% protein pada usia muda, turun menjadi sekitar 9–15% ketika tanaman sudah tua. Pasokan protein yang meningkat memungkinkan bakteri berkembang biak dan mengurai pakan lebih cepat didalam rumen. G. Berikan pakan yang lebih berkualitas dimusim kemarau. Ketika musim kemarau, biasanya terjadi penurunan energi, mineral, maupun protein yang terkandung dalam pakan hijauan. Hal ini terjadi sebagai akibat tanaman hijauan selama pertumbuhannya mengalami kekurangan air. Lebih lanjut, saat musim ini seringkali terjadi kekurangan volume pemberian pakan ternak akibat kelangkaan bahan pakan berupa pakan hijauan. Sehingga pemberian pakan ternak sapi di musim kemarau seringkali tidak memenuhi syarat pemenuhan kebutuhan sapi, bahkan kualitas pakannya pun rendah. Kondisi seperti ini mengakibatkan pertumbuhan ternak sapi menjadi terhambat. Pada sapi dewasa akan mengalami penurunan berat badan secara signifikan. Upaya yang dapat dilakukan adalah menanam HMT yang dapat mempertahankan daunnya selama musim kemarau. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM) Sumber :1. The Australian Centre for International Agricultural Research. Bagaimana HMT dapat membantu perbaikan nutrisi ternak. (http://aciar.gov.au/files/node/12012/MN090%20part%202.pdf, diakses 4 Februari 2016)2. Yulianto, Purnawan dan Cahyo Saparinto. 2010. Pembesaran Sapi Potong Secara Intensif. Depok : penebar Swadaya (https://books.google.co.id, diakses 13 Maret 2016)