Loading...

Pemanfaatan Tumbuhan Junjung Hijau sebagai Tanaman Penahan Tanah pada Galangan Sawah di Dusun Sukadatang Tanjungwaras

Pemanfaatan Tumbuhan Junjung Hijau sebagai Tanaman Penahan Tanah pada Galangan Sawah di Dusun Sukadatang Tanjungwaras
"PEMANFAATAN TUMBUHAN JUNJUNG HIJAU SEBAGAI TANAMAN PENAHAN TANAH PADA GALANGAN SAWAH DI DUSUN SUKADATANG TANJUNGWARAS" Tumbuhan “junjung hijau” merupakan jenis tumbuhan yang berpostur tegak dengan batang berkayu cukup basah, sedikit bercabang, daunnya berbentuk memanjang dan bersusun seperti pelepah. Tumbuhan ini tahan terhadap kondisi tanah yang basah maupun kering, umumnya disebarkan oleh masyarakat tani dengan cara menancapkan batangnya sebagai setek. Dapat tumbuh mencapai ketinggian 10 m atau lebih, dengan dilakukan pemangkasan tingginya dapat dikendalikan sesuai dengan keinginan yang dikehendaki. Tunas-tunas cabang dapat tumbuh baik di bagian yang dipotong maupun di sepanjang batangnya namun mudah dikendalikan dengan cara membuang tunas mudanya atau melakukan pemangkasan. Akarnya seperti akar tunjang yang menjalar dan dikelilingi serabut pada bagian yang menjalar tersebut dengan kerapatan yang cukup rapat sehingga bisa menegakkan batangnya dengan kokoh dan mencengkeram tanah tempat perakarannya sehingga cocok digunakan sebagai tumbuhan penahan tanah. Sawah yang terletak di Sukadatang, Tanjungwaras, Bukitkemuning mempunyai sifat liat mudah licin saat musim hujan dan cepat kering di saat musim kemarau sehingga galangan antar petakan sawah rentan longsor dan mudah lebur saat dipijak. Umumnya petani penggarap lahan sawah mensiasatinya dengan menambahkan bahan penahan tanah berupa bilah bambu atau batang pohon yang telah ditebang kemudian direbahkan ke bagian galangan sawah tersebut dengan menambahkan patok-patok berupa potongan cabang kayu yang ditancapkan. Kelemahan penggunaan patok ini adalah harus sering diganti karena mudah lapuk. Untuk mengatasi masalah tersebut, petani sawah menggunakan tumbuhan junjung hijau yang digunakan sebagai pengganti patok-patok di galangan sawah tadi. Walaupun terlihat sepele namun penggunaan junjung hijau ini perlu perawatan supaya tidak mengganggu pertumbuhan tanaman padi di sawah. Langkah-langkahnya; (1) tebang junjung hijau yang berukuran sebesar setengah pergelangan tangan orang dewasa, (2) buang daunnya dengan cara memangkas tandas mendekati bagian batangnya, (3) potong dengan ukuran panjang 80—100 cm (4) runcingkan bagian bawahnya yang akan ditancapkan dengan menggunakan golok/pisau yang tajam, (5) tancapkan di pinggir galangan sawah yang akan diperkuat dengan jarak 50—100 cm, (6) lakukan perawatan dengan cara memangkas tunas cabang dan membatasi tingginya setidaknya setiap 12 bulan sekali, (7) lakukan penyulaman bila diperlukan, (8) bila diperlukan lakukan penyisipan antar patok setelah 12 bulan. Dengan mempergunakan tumbuhan junjung hijau ini maka galangan sawah akan relatif lebih stabil, tidak mudah runtuh (Sayidil Amin, S.P. PPL BPP Bukitkemuning).