Loading...

PEMANFATAAN ALSINTAN TRANSPLANTER DALAM TANAM PADI

PEMANFATAAN ALSINTAN TRANSPLANTER DALAM TANAM PADI
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus berupaya untuk meningkatkan produksi padi guna mewujudkan swa sembada pangan. Upaya-Upaya tersebut dilakukan dengan memberikan berbagai stimulan seperti perbaikan jaringan irigasi, jalan usahatani, pemberian sarana produksi. Selain itu memberikan Alsintan berupa bantuan hand traktor, mesin panen (combine harverter) dan alat tanam (transplanter). Semua stimulan tersebut secara simultan diharapkan mampu mendongkrak produksi pangan khususnya padi. Kabupaten Indramayu dengan luas areal sawah 110.000 hektar merupakan salah satu kabupaten penghasil padi/beras di Jawa Barat. Rata-rata pertahun produksi padi yang dihasilkan Indramayu sebesar 1.7 juta ton GKP. Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu surplus beras setiap tahun tidak kurang dari 750 ribu ton. Desa Amis Kecamatan Ccikedung dengan luas pertanian 750 ha merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Indramayu. Desa ini terbagi menjadi lima kelompoktani yaitu Sanggar Teratai, Bina Karya I,BinaKarya II, Bina Karya III,dan Taruna Tani. Petani di desa ini selain berbudidaya padi juga berbudidaya palawija seperti kacang hijau dan sayuran lainnya. Desa Amis lahan pertaniannya termasuk lahan sawah tadah hujan. Permasalahan dalam mengelola usahatani padi antara lain adalah kekurangan buruh tanam pada saat dibutuhkan. Hal ini terjadi diakibatkan tanam yang serentak mengejar curah hujan yang sering kali berfluktuasi. Seringkali petani terlambat tanam gara-gara tidak mendapatkan buruh tanam dan berebut mencari tenaga tanam. Menurut Andriatna Retno Dewayanti Penyuluh Pertanian Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Cikedung di Desa Amis, setiap kelompoktani sudah memiliki alat transplanter. Sedangkan kalau dalam satu BPP Cikedung Alat Trnsplanter ini sudah ada 10 unit. Menurut Ketua Kelompoktani Sanggar Teratai Bapak Ahmad Yani, sejak mendapatkan alat transplanter ini, setiap musim tanam selalu menggunakannya. Walaupun dalam arel yang masih terbatas. Demikian juga dengan dibimbing dari Penyuluh Pertanian setiap kelompok yang mendapat transplanter, pengurusnya harus menggunakan alat tanam ini. Dalam setiap musimnya tidak kurang dari 5 ha arealsawah pengurus kelompok menggunakan transplanter. Berdasarkan perhitungan ekonomi sederhana, menurut ketua kelompoktani Sanggar Teratai dengan menggunakan alat transplanter ini ada selisih biaya sebesar Rp. 250 ribu. Bila tanam secara manual mulai dari persiapan persemaian sampai dengan tanam menghabiskan biaya Rp. 2.300.000 per hektarna, maka dengan menggunakan transplanter dibutuhkan biaya Rp. 2.050.000,- Penerapan tanam menggunakan transplanter masih terbatas di lingkungan pengurus kelompok belummenyebar ke anggota. Hal ini dikarenakan pembuatan persemaian oleh anggota masih belum terampil. Persemaian untuk transplanter ini memerlukan troy yang memadai. Permasalahan kenapa anggota kelompoktani belum ada yang mengikuti, hal ini karena jumlah troy yang ada terbatas. Satu bau memerlukan 275 buah sampai 300 buah troy, anggota kelompoktani tidak sanggup menyediakannya. Apalagi kalau tanam dilakukan secara serentak. Kemudahan dalam persemaian untuk transplanter ini dapat dilakukan di halaman rumah, sehingga mudah pemeliharaannya. Selain itu tidak memerlukan lahan yang luas. Persemaian di sekitar rumah, setelah diperam 48 jam benih disebar ditroy yang sudah diberikan tanah dan pupuk organik. Biarkan bibit selama 16 hari dan siram setiap padi dan sore untuk menjaga kelembaban. Sambil menunggu bibit berumur 16 hari tanah diolah sampai siap tanam. Baru setelah semuanya siap bibit dapat ditanam dengan menggunakan transplanter. Berbeda dengan persemaian di sekitar rumah, persemaian di sawah setelah direndam bibit yang sudah dalam troy langsung disimpan di hamparan persemaian. Namun demikian saat penggunaan transplanter dilapangan sering dijumpai hambatan seperti rantai putus, mesin pecah, dan spare part yang terbatas. Menurut Ketua Kelompoktani untuk mengoptimalkan hasil penggunaan transplanter, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Dalam pembuatan bibit padi sebaiknya harus dikasih alas dengan dengan plastik agar akar tidak tembus ke bawah troy serta harus padat, b. agar jalannya transplanter lurus, maka sebaiknya dipaskan dengan galengan terlebih dahulu atau membuat kenca dengan menarik tambang sebagai lajur/baris awal, c. Prioritaskan terlebih dahulu sawah-sawah yang tidak kumplung, baru terakhir menanam sawah yang kumplung. Dijelaskan lebih lanjut oleh Bapak Ahmad Yani bahwa untuk menyebarluaskan penggunaan alat ini perlu ada pelatihan persemaian dapog agar para anggota kelompoktani dapat juga menerapkan legowo dengan alat transplanter. Disamping itu apabila para anggota kelompoktani sudah doyan penggunaan alat transplanter, maka tentunya penyediaan alat ini harus mencukupi jangan sampai kekurangan.Semoga dengan adanya alsintan seperti ini dapat memudahkan petani dan menjadikan biaya usahatani lebih efisien dan semoga pula kelompoktani Tegal Sari lebih berkembang lagi. Kami berharap stimulan alsintan yang berasal dari Pemerintah ini tidak menjadi besi tua dan sia-sia. Aamiiinnn Penyusun :Burhanudin SST - Penyuluh Pertanian Pertama BPP KertasemayaDinas Pertanian Kabupaten Indramayu