Program swasembada daging (sapi) dapat tercapai dengan salah satu upaya meningkatkan populasi sapi. Peningkatan populasi sapi dapat dilakukan seiring dengan perbaikan dan peningkatan ketersediaan pakan sapi. Saat ini padang pengembalaan sebagai penyedia pakan hijauan sudah sulit ditemui di berbagai daerah karena kondisi perubahan iklim tersebut. Oleh karena itu menemukan pakan alternatif pengganti hijauan rumput sangat penting untuk dilakukan. Bahan pakan tersebut disyaratkan tersedia secara kontinyu, produksi terkosentrasi pada suatu tempat dan secara sosial dapat diterima oleh masyarakat.Ampas sagu/repu memiliki nilai protein yang sangat rendah. Hasil analisis Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Kimia UIN Suska Riau (2014) melaporkan bahwa kandungan nutrisi ampas sagu BK 47,20 %, PK 0.83%, SK 11,44%, LK 0.99%, abu 1,80% dan BETN 84,94%, dan kandungan fraksi serat ampas sagu ADF 13,79%, Lignin 10,34%, NDF 39,65%, Selulosa 1,74% dan Hemiselulosa 39,65%. Oleh karena itu perlu sentuhan teknologi meningkatkan kandungan protein dan energi juga menurunkan kandungan NDF dan ADF limbah sagu (Simanihuruk, 2011).Proses Fermentasi limbah saguPelepah dan daun sagu dicacah menggunakan parang atau mesin pencacah (chopper). Pelepah dan daun sagu yang telah dicacah kemudian dicampur dengan bahan lainnya, dengan persentase yakni : 60 % cacahan pelepah dan daun sagu, 30% ampas sagu, 5.75 % dedak, 0,25% urea, 3% molases dan 0,1% garam. Probion ditambahkan masing-masing perlakuan 0,5% dari total bahan. Semua bahan diatas dicampur sampai rata. Campuran bahan tersebut dimasukkan ke dalam tong atau karung palstik dan difermentasi secara anaerob. Hasil analisis Proksimat fermentasi lmbah saguKadar air : 11.16g/100gProtein : 5.65 g/100gLemak : 0.78 g/100gEnergi : 3573 Kcal/kgSK : 23.46 g/100gAbu : 15.09g/100gCa : 0.51g/100gP : 0.25 g/100g