Pandemi COVID-19 di Indonesia merupakan bagian dari pandemi penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) yang sedang melanda di seluruh dunia. Kasus positif COVID-19 di Indonesia pertama kali dideteksi pada 2 Maret 2020, dan saat ini telah menyebar ke berbagai propinsi di Indonesia, dimana Jawa Timur merupakan propinsi yang mempunyai kasus positif COVID-19 yang sangat tinggi. Virus corona diduga menyebar di antara orang-orang terutama melalui percikan pernapasan yang dihasilkan selama batuk. Percikan ini juga dapat dihasilkan dari bersin dan pernapasan normal. Selain itu, virus dapat menyebar akibat menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh wajah seseorang. Penyebaran Covid-19 sangat berbahaya dan berdampak luas ke berbagai sektor, serta berimbas pada semua sektor ekonomi. Penyebaran virus corona di Indonesia berdampak ke sejumlah sektor usaha , mulai dari pariwisata hingga perdagangan. Dampak tersebut mengakibatkan pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan, industri tidak berjalan, dan banyak masyarakat kehilangan penghasilan. Disisi lain, sektor pertanian harus menjadi sektor prioritas yang harus tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19 di Indonesia karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar umat manusia akan pangan dan gizi. Sektor pertanian harus menjadi sektor penopang ketahanan pangan. Selain itu hal krusial di tengah pandemi ini adalah bukan hanya tentang sebatas bertahan hidup tapi juga masalah asupan gizi masyarakat. Sektor pertanian memiliki nilai ekonomi yang dapat membuat Indonesia bertahan dari ancaman krisis global, termasuk krisis yang diakibatkan wabah corona saat ini. Hal tersebut karena sektor pertanian selalu menjadi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena hal tersebut maka pada saat inilah peran petani sebagai garda terdepan menjaga ketahanan pangan sangat diperlukan. Seperti kita ketahui bersama bahwa kegiatan budidaya pertanian tidak bisa dilakukan dengan metode Work From Home, dan tetap harus dilaksanakan di lahan budidaya, sehingga masalah keselamatan kerja petani di tengah pandemi perlu menjadi perhatian khusus. Aktivitas sektor pertanian harus diberi ruang untuk tetap aktif berproduksi dengan mematuhi protokol perlindungan standar Covid-19. Petani adalah populasi pekerja yang relatif lebih tua dibandingkan dengan populasi pekerja umum. Dimana rata-rata usia pelaku sektor pertanian sudah diatas 58 tahun. Disisi lain data menunjukkan bahwa Covid-19 memiliki tingkat keparahan yang jauh lebih tinggi bagi mereka yang berusia 60-an dan lebih tua, yang berarti bahwa rekomendasi pencegahan dan perlindungan terhadap penyebaran dan penularan Covid 19 pada petani harus menjadi perhatian serius berbagai pihak yang terkait. Hal ini tentu saja memerlukan kebersamaan, kolaborasi, kegotong-royongan, dan sikap proaktif semua pihak yang terkait. Oleh karena hal tersebut diatas, maka Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Malo berinisiatif melakukan kegiatan pembagian masker gratis kepada petani yang ada di wilayah kecamatan Malo guna mencegah dan meminimalisir resiko penularan dan penyebaran Covid 19 di tingkat petani. Pembagian masker diprioritaskan pada saat dimana kegiatan budidaya tanaman membutuhkan tenaga kerja yang banyak dan berkumpul, misalnya saat kegiatan penananam, pengendalian gulma, pengendalian hama penyakit dan saat panen. Masker yang dibagikan merupakan hasil donasi yang dihimpun dari penyuluh pertanian dan pelaku usaha bidang pertanian yang ada di wilayah kecamatan Malo. Pembagian masker dilakukan pada bulan April hingga bulan Juli Tahun 2020, dan dibagikan di sentra kegiatan pertanian pada desa -desa yang ada di wilayah kecamatan Malo. Pada saat pembagian masker gratis tersebut juga dilakukan penyuluhan kepada petani agar mereka tetap harus mempertahankan protokol perlindungan standar Covid-19 seperti menjaga jarak fisik antar petani, selalu menggunakan masker kain saat beraktifitas serta rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Oleh : Ahmad Noor Afandy, SP. Koordinator Penyuluh Pertanian kecamatan Malo.