Loading...

Pembelajaran Petani BPP Plumbon Melalui SL UPSUS

Pembelajaran Petani BPP Plumbon  Melalui SL UPSUS
Memasuki musim tanam II tahun 2019 periode April – September 2019, BPP Plumbon Kabupaten Cirebon mendapat kesempatan untuk mengelola program SL UPSUS Pajale. Wilayah Binaan yang mendapat pendampingan kegiatan tersebut adalah Kecamatan Tengahtani. SL UPSUS di kecamatan Tengahtani tersebar di 5 (lima) kelompok tani , yaitu Kelompok Tani Bumi Asih Desa Dawuan, Kelompok Tani Bunga Jaya II Desa Kemlaka Gede, Kelompok Tani Situri Desa Kalitengah, Kelompok Tani Jaya Asih Desa Palir, dan Kelompok Tani Subur Jaya Desa Gesik. Kegiatan SL UPSUS diawali dengan sosialisasi kepada penyuluh pendamping dan poktan pelaksana yang kemudian ditindaklanjuti dengan kegiatan rembug tani tingkat desa di masing-masing desa poktan penerima kegiatan. Rembug tani di tingkat desa perlu dilakukan untuk mendiskusikan paket teknologi yang akan diterapkan pada lahan demplot, jadwal kegiatan dan materi yang akan dibahas dalam setiap pertemuan yang akan dilakukan serta target produktivitas yang ingin dicapai. Paket teknologi yang diterapkan di lahan demplot kegiatan SL UPSUS adalah komponen teknologi yang ada dalam teknologi Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT). Komponen tersebut meliputi penggunaan benih unggul, varietas yang digunakan adalah Inpari 33, 32, 43 dan Ciherang. Varietas Ciherang masih dipilih oleh petani karena varietas tersebut disukai pasar dan tahan kekeringan. Selain penggunaan benih unggul, komponen lainnya adalah jarak tanam jajar legowo, penggunaan pupuk organik, dan sistem pengairan intermitten. Penggunaan pestisida nabati masih menjadi salah satu materi yang selalu disampaikan dalam setiap kegiatan demplot ataupun kaji terap yang dilakukan. Hal ini bertujuan agar petani semakin terbiasa untuk menggunakan pestisida nabati dan tertarik untuk beralih dari ketergantungan kepada pestisida kimia. Kendala yang dihadapi pada musim tanam ini adalah ketersediaan air. Pada beberapa lokasi pelaksanaan SL UPSUS, poktan pelaksana bekerjasama melakukan pompanisasi dan juga gilir air irigasi. Upaya ini dilakukan akibat hujan yang mulai jarang turun ketika memasuki bulan Mei. Pompanisasi dan gilir air irigasi sudah mulai dilakukan oleh petani di bulan Mei hingga panen sekitar bulan Agustus – September. Walaupun terkendala ketersediaan air, rata-rata produktivitas pada lahan demplot meningkat 2 - 7 %. Penggunaan mesin perontok padi (power thresher) dan combine harvester saat panen membantu mengurangi tingkat kehilangan hasil di lahan sawah. Ke depannya diharapkan kegiatan Sekolah lapang terkait budidaya padi masih akan terus dilakukan untuk membantu petani menyongsong era pertanian 4.0. Penulis : Admin BPP Plumbon