Loading...

PEMBERDAYAAN PETANI DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENGGUNAAN dan PENERAPAN PUPUK ORGANIK

PEMBERDAYAAN PETANI  DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENGGUNAAN dan PENERAPAN PUPUK ORGANIK
PEMBERDAYAAN PETANI DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENGGUNAAN dan PENERAPAN PUPUK ORGANIK I. PENDAHULUANLatar BelakangDari waktu ke waktu seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, meningkat pula kebutuhan akan bahan pangan, sementara luas lahan pertanian relatif tetap (bahkan berkurang). Untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan tersebut, diupayakan dengan meningkatkan produktivitas. Dengan kata lain, peningkatan produktivitas tanaman pangan (terutama padi) dicapai melalui eksploitasi lahan pertanian (sawah) secara intensif. Lahan sawah dipupuk dengan pupuk an-organik terutama urea dengan dosis yang semakin tinggi bahkan melebihi dosis anjuran Sehingga lahan atau tanah pertanian kita dari tahun ke tahun semakin kritis, kurang subur, dan miskin akan unsur hara, karena eksploitasi dan penggunaan pupuk kimia yang secara terus menerus.Konsep peningkatan produksi pertanian melalui penerapan senyawa agrokimia utamanya penggunaan pupuk pabrikan (penggunaan Urea yang berlebihan, tidak berimbang atau tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman) oleh petani ternyata dapat menimbulkan banyak masalah di lapangan dengan ditunjukkannya makin menurunnya produksi. Disamping itu, diikuti oleh menurunnya daya dukung tanah terhadap kesuburan tanah baik dari segi fisik maupun biologis. Keadaan ini berpengaruh juga terhadap perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT).Untuk mempertahankan swasembada pangan di Jawa Timur merupakan suatu keharusan, apabila bertumpu pada penggunaan pupuk pabrikan saja mustahil keadaan tersebut dapat dipertahankan. Dalam mengatasi keadaan tersebut salah satunya perlu disosialisasikan bagi petani penggunaan pupuk organik di lahan pertaniannya. Pupuk organik merupakan pembenah tanah, dimana dalam prosesnya dapat memperbaiki kesuburan tanah baik segi fisik, biologis dan kimia tanah. Pendekatan pengembangan dan peningkatan produksi dalam rangka mencapai swasembada pangan Jawa Timur tahun 2013 perlu adanya suatu kegiatan pemasyarakatan dan pemberdayaan petani dalam penggunaan/ pemanfaatan pupuk organik di lahan pertanian. Seiiring dengan program pembangunan pertanian dan era globalisasi, peningkatan sumberdaya manusia petani menjadi sangat penting, sehingga dapat menghasilkan produk pertanian yang berdaya saing. Pemberdayaan petani dalam pemanfaatan pupuk organik tersebut sekaligus sebagai wadah petani pengguna pupuk organik yang terbentuk dalam jaringan petani pengguna pupuk organik yang berkesinambungan. Maksud dan Tujuan1. Untuk meningkatkan kesuburan tanah kembali diperlukan suatu upaya penerapan teknologi tepat guna dengan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani dalam pembuatan pupuk organik.2. Memanfaatkan limbah pertanian atau peternakan sebagai bahan baku pupuk organik untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia sehingga menurunkan biaya penggunaan biaya saprodi yang dikeluarkan oleh petani.3. Pupuk organik sebagai penyedia unsur hara makro N, P, K, Ca, Mg, S dan unsur hara mikro Zn, Cu, Mo, B, Mn dan Fe sehingga dapat meningkatkan KTK tanah dan mengikat senyawa logam yang meracuni tanah seperti Al, Mn, dan Fe4. Pupuk organik sebagai sumber energi mikroba tanah yang berguna meningkatkan kapasitas simpan air tanah, memperbaiki drainase tanah, pengikat partikel tanah, penyangga terhadap perubahan reaksi kimia tanah, mempermudah pengolahan tanah, memperbaiki pelumpuran tanah dan mengurangi daya erosi tanah.5. Mensosialisasikan penggunaan pupuk organik di wilayah masing- masing dan membangun kelembagaan jaringan petani pengguna pupuk organik dan petani organik. II. PERMASALAHAN dan HAMBATAN 1. Pengetahuan dan keterampilan petani tentang pembuatan pupuk organik masih terbatas.2. Pembuatan pupuk organik masih kurang praktis & pengangkutan mahal3. Penggunaan pupuk organik masih dirasa kurang efisien dan banyak pekerjaan nonfarm 4. Petani masih beranggapan bahwa penggunaan pupuk organik akan mempercepat pertumbuhan gulma dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).5. Kesadaran petani rendah, terbiasa dengan pupuk anorganik yang praktis6. Keuntungan ekonomi tidak jelas dan banyak petani tidak mempunyai ternak besar sebagai penyedia kotoran ternak III. UPAYA PEMECAHAN MASALAH 1. Dengan banyaknya ketersediaan bahan baku yang ada disekitar maka diupayakan untuk pendampingan yang lebih intensif dan mendalam dalam rangka menambah pengetahuan,sikap dan ketrampilan petani.2. Penerapan teknologi tepat guna dan fasilitasi petani dalam pembuatan pupuk organik yang praktis, mudah dan murah.3. Dengan kondisi tanah yang ada saat ini diperlukan pelatihan pembuatan pupuk organik dalam jumlah yang cukup besar dalam upaya mengembalikan kesuburan tanah.4. Dengan Pelatihan pembuatan pupuk organik dapat memberikan suatu ketrampilan yang memadai dan dapat dimanfaatkan oleh petani, sehingga nantinya akan dihasilkan pupuk organik yang berkualitas dan tentunya untuk kedepan dapat menjadi nilai tambah tersendiri bagi petani untuk mengusahakannya secara komersial dengan harga yang terjangkau. PENYEDIAAN BAHAN ORGANIK Bahan Organik tanah merupakan bahan esensial yang tidak dapat digantikan dengan bahan lain didalam tanah, selain peranannya dapat mempertahankan atau memperbaiki sifat fisik tanah baik tekstur maupun struktur tanah juga peranan bahan organik dapat mendukung kehidupan mikro organisme/makro organisme tanah dan sebagai sumber nutisi bagi beberapa mahluk hidup didalam tanah termasuk tumbuhan. Jiwanya tanah adalah Bahan Organik seperti darah di manusia , jika darah manusia rendah maka terasa pusing dan tidak bergairah, pucat dan lesu serta aktivitasnya rendah, begitu juga jika kandungan bahan organik tanah rendah maka tanah jiwanya hilang sulit dan produktivitas tanah tersebut rendah.Sebagai salah satu upaya dalam menyediakan bahan organik dapat ditempuh dengan cara antara lain :A. Pengembangan Mikro Organisme Lokal (MOL)B. MOL adalah singkatan dari Mikro Organisme Lokal yang artinya cairan yang terbuat dari bahan-bahan alami yang disukai sebagai media hidup dan berkembangnya mikro organisme yang berguna untuk mempercepat penghancuran bahan-bahan organik atau Dekompuser dan sebagai aktivator atau tambahan nutrisi bagi tumbuhan yang sengaja dikembangkan dari mikro organisme yang berada ditempat tersebut.Berdasarkan pengalaman bahan-bahan yang dikembangkan oleh tim pengembang SRI di berbagai daerah di Jawa Barat diantaranya bahan tersebut diduga berupa zat yang dapat merangsang pertumbuhan dan zat yang mampu mendorong perkembangan tanaman seperti : Zyberlin, Sitoxinin, auxin dan inhibitor.Adapun bahan yang digunakan untuk mengembangkan mikro organisme lokal tersebut : 1. Limbah Hijauan Sayuran SegarPeralatan :• Drum plastik ukuran 200 liter• Plastik transparat 1 m2Bahan : • 100 Kg Limbah Sayuran Hijauan( Kol, Cesin, Vetsay, Mentimun, bayam, kangkung dll), • garam : 5 % dari berat bahan ( 5 Kg)., • Gula merah 2 % dari cairan setelah diproses selama 24 hari.Cara pembuatan : • Limbah sayuran hijauan diiris-iris hingga menjadi potongan-potongan kecil dan masukan kedalam drum plastik, setiap lapisan setebal 20 Cm dan taburkan garam sampai rata, lanjutkan dengan berlapis lapis seperti diatas sampai kedua bahan habis. • Tambahkan air cucian beras sebanyak 10 liter,• Drum ditutup rapat dengan plastik dan diatasnya diberi air sehingga tampak plastik cekung terisi air. • Setelah 3-4 minggu baru dibuka, akan tampak cairan berwarna kuning kecoklatan, baunya segar dan jika diukur PH nya 3- 5 . • Tambahkan gula sebanyak 2 ons dan diaduk hingga rata. Penggunaan cairan : (a) Pengomposan : jika akan digunakan untuk mempercepat penghancuran Bahan Organik campukan 1 liter cairan ditambah 10 liter air tawar tambahkan gula 2 0ns dan cairan siap di siramkan pada bahan organik yang akan dikomposkan.(b) Penyemprotan pada tanaman : 400 cc cairan dicampur dengan 14 liter air tawar (1 tangki semprotan) dan diaduk rata , semprotkan pada pagi (c) atau sore hari( hindari sengatan cahaya matahari pada siang hari) pada berbagai jenis tanaman, jika tanaman padi pada umur 10 hari, 20 hari, 30 hari dan 40 hari setelah tanam. Catatan : Ekstrak dirombak mirip berperan sebagai ragi (Sakaromisae) artinya degradasi karbohidrat menjadi polysakarida derifat substansi yang lebih sederhana lagi menjadi monosakarida dirombak menjadi asam laktat dengan bantuan enzim laktase. 2. Mol Rebung BambuBahan : • 2 buah rebung bambu kurang lebih 3 Kg, • Air beras 5 liter, • 1 buah maja (Labu kaye/Aceh) yang sudah matang, jika tidak ada buah maja bisa diganti dengan gula merah 1,5 ons.Cara membuat : • Rebung bambu di tumbuk halus atau diiris-iris masukan pada ember/tong plastik, • Campurkan dengan buah maja yang sudah dihaluskan, • Tambahkan gula merah yang telah dihaluskan dan aduk sampai rata, • Rendam dengan air cucian beras sebanyak 5 liter. • Tutup rapat ember/tong dengan plastik, dan berikan slang plastik yang disambungkan dengan • air yang berada pada botol. Biarkan selama 15 hari. Cara Penggunaan : a. Pengomposan : dapat digunakan sebagai dekompouser dengan konsentrasi : 1 : 5 ( 1 liter cairan MOL ditambah dengan 5 Liter air tawar), tambahkan gula merah 1 ons dan aduk hingga rata, disiramkan pada sasat proses pembuatan kompos.b. Penggunaan pada tanaman : peyemprotan dilakukan pada pagi/sore hari dengan konsentrasi 400 cc cairan dicampur dengan 14 liter air tawar pada umur 10 hari, 20 hari 30 dan 40 hari setelah tanam.Catatan : Sebagai zat perangsang pertumbuhan pada fase vegetatif. Proses Pembuatan MOL rebung 3. Mol Batang PisangBahan : • 5 Kg batang pisang yang masih segar, • Tetes tebu 1 liter, atau gula merah 1kg) • Air kelapa atau air cucian beras ( leri)10 liter Cara membuat : • Batang pisang dirajang/dipotong kecil hingga halus masukan pada tong plastik, • Campurkan tetes tebu dengan air kelapa aduk hingga rata.• Masukkan larutan tetes tebu dengan air kelapa ke dalam tong plastic yang sudah berisi potongan batang pisang• Tutup rapat dengan plastik dan berikan slang palstik sambungkan pada botol yang telah berisi air. Cara Penggunaan : a. Pengomposan : Dengan konsentrasi 1 : 5 ( 1 liter cairan MOL ditambah dengan 5 liter air tawar), tambahkan i ons gula merah, aduk rata dan siramkan pada bahan organik yang mau dikomposkan.b. Penggunaan pada tanaman : dapat disemprotkan pada berbagai tanaman dengan konsentrasi 400 cc dicampur dengan 14 liter air tawar. Pada tanaman padi sejak fase vegetatif hingga generatif ( umur 10, 20, 30, 40 atau umur setelah fase masak susu) MOL keong mas ini dapat dicampur dengan MOL lainnya. Disemprotkan pada pagi/sore hari, hindari penyemprotan pada siang hari (Terik Matahari). Proses pembuatan MOL Batang Pisang 4. Mol Buah Maja ( Beruk/Billeh) Bahan : • 5 buah Maja yang mengkal / matang, • 30 liter air beras, • 20 liter air kencing sapi/ Kebau/Kambing atau Kelinci.Cara Pembuatan : • Buah Maja dihaluskan dan masukan pada drum/tong plastik, • Campurkan dengan 30 liter air cucian beras dan 20 liter air kencing, diaduk hingga rata • Tutup rapat dengan plastik, • Masukan slang palstik (diameter 0,5 cm) sambungkan kedalam botol plastik yang sudah berisi air tawar,• Simpan selama 15 hari. Penggunaan : a. Pengomposan : 1liter MOL Maja dicampur dengan 5 liter air tawar, tambahkan 1 ons gula merah dan aduk hingga rata, siramkan pada bahan organik yang akan dikomposkan hingga rata.b. Penggunaan pada tanaman : Penyemprotan dilakukan pagi/sore hari dengan konsentrasi 400 cc ditambah dengan 14 liter air tawar, aduk hingga rata. Disemprotkan pada umur tanaman padi : 10 hari, 20, 30, 40 dan fase akhir pembungaan (generatif). Buah Maja/Beruk/Billeh sebagai bahan MOL 5. MOL Limbah Buah-buahan Bahan : • Limbah buah-buan yang tidak termakan : Jeruk, Tomat, Pepaya Mangga, Pisang, Apel, Salak dll sebanyak 10 Kg, • Gula 1Kg, • 10 liter air kelapa.Cara Pembuatan : • Buah-buahan sebanyak 10 Kg ditumbuk/ dihaluskan, • Masukan pada drum/tong • Campurkan dengan air kelapa, • Tambahkan gula merah yang telah dicairkan • Tutup dengan plastik beri lubang udara dengan cara masukan slang plastik yang dihubungkan dengan botol yang sudah berisi air. • Biarkan selama 10- 15 hari.Penggunaan : a. campur MOL dan air dengan perbandingan 1 : 5 Liter ( 1 bagian MOL, 5 bagian air) tambahkan gula 1 0ns. Siramkan pada bahan organik yang mau dikomposkan.b. Penggunaan Pada tanaman Padi . Semprotkan pada tanaman dengan Konsentrasi larutan 400 cc dicampur dengan air tawar sebanyak 14 liter, semprotkan pada umur tanaman Akhir vegetatif ( kurang lebih umur 55 Hari- 60 hari). Bahan dari buah-buahan yang sedang diiris-iris B. PEMBUATAN KOMPOSBahan organik dalam bentuk padat merupakan Kompos yang berguna sebagai bahan untuk memperbaiki tekstur, struktur tanah, mendukung kehidupan mikro dan makro organisme serta sebagai sumber nutrisi bagi tanaman.Kompos adalah bahan alami yang telah lapuk melalui proses penghancuran/penguraian oleh mikro organisme (bakteri) dengan waktu dan cara cara tertentu.Prinsip Pengomposan.Untuk mendaptakan kompos yang mempunyai kualitas yang baik, maka dalam pembuatannya melalui beberapa langkah dan pemahaman yaitu :a. Pengembangan MOL untuk mempercepat penghancuran bahan yang mau dikomposkan dipotong-potong dalam ukuran kecil untuk mempercepat bakteri masuk pada bahan yang dikomposkan.b. Pengomposan harus terlindung dari sinar matahari langsung dan air hujan .c. Memperhatikan perbandingan bahan yang dikomposkan disesuaikan dengan kondisi C/N ratio dari bahan,d. Mempertahankan sirkulai udara (aerasi) pada saat pengomposan harus terpelihara.e. Menjaga suhu dalam proses Pengomposan agar terjaga dan tetap mendukung kerja Mikro organisme.f. Menjaga kelembaban agar tetap optimal.g. Membunuh biji-biji gulmah. Membunuh sumber penyakit terutama patogen/ sumber penyakit cendawani. Meningkatkan kadar nutrisi bagi tanaman. Proses Pembuatan KomposProses pembuatan kompos yang dikembangkan adalah melalui 2 cara yaitu :a. Kompos dengan cara BerlapisBahan : • Sisa tanaman, Hijauan, • Kotoran hewan, • Serbuk gergaji,• Kapur (CaCo3), • MOL.Pembuatan/Penyusunan bahan : • Semua bahan yang berukuran besar dan panjang di potong-potong/dicincang, • Letakkan dan susun semua bahan diatas lantai/tanah yang terhindar dari air. • Lapisan ke1 letakan/sebarkan sisa tanaman seperti jerami setebal maksimal 40 cm, • Sirami dengan MOL hingga bahan dalam kondisi lembab (tidak terlalu basah dan tidak kering),• letakan bahan organik lain dilapisan ke2 serbuk gergaji, Sirami dengan MOL, • Lapisan ke3 kotoran hewan, sirami dengan MOL, • Lapisan ke 4 bahan lainnya dan terus diikuti dengan mol dan • Paling atas taburi kapur dengan rata, hingga mencapai ketinggian 1,2 M, • Pada saat menyusun bahan letakan bambu dan pada ruas/bukunya dilubangi agar sirkulasi udara berjalan dengan baik dengan jarak antara bambu yang satu dengan bambu yang lain 1m.,• Jika perlu tutup dengan terpal untuk menambah kelembaban agar cepat terjadi proses penghancuran oleh mikro organisme. • Biarkan selama 3 hari, dan lakukan pengontrolan terhadap kelembaban dan suhu udara jika terlalu panas atur suhu dengan membalikan bahan tersebut, jika terlalu basah tambahkan sekam padi, dan jika terlalu kering tambahkan MOL. • Selanjutnya tinggal menunggu kompos matang/ jadi. b. Kompos Dengan Cara Campur Bahan : • semua bahan yang disediakan sama dengan cara berlapis, hanya cara yang berbeda.Pembuatan : • Semua bahan di campur/aduk hingga rata dan tambahkan MOL sampai benar-benar basah/lembab,• Simpan pada tempat yang tidak tergenang dan aman dari sinar matahari atau hujan, • Letakan bambu-bambu pengatur sirkulasi udara dengan jarak dari bambu ke bambu 1M, • Tutup dengan terpal untuk mempercepat penghancuran oleh mikro organisme. • Kontrol setelah 3 hari terhadap suhu, jika terlalu panas balikan bahan-bahan tersebut, jika terlalu basah tambahkan dedak atau sekam padi dan bila terlalu kering tambahkan MOL. • Selanjutnya tunggu hingga kompos matang/jadi. IV. KESIMPULANDengan pemberdayaan petani dalam upaya meningkatkan penerapan penggunaan pupuk organik akan diperoleh peningkatan nilai tambah dan produktivitas tanaman sehingga kesejahteraan petani meningkat. dan tentunya untuk kedepan dapat menjadi nilai tambah tersendiri bagi petani untuk mengusahakannya secara komersial dengan harga yang terjangkau.