Loading...

Pemberian Bahan Amelioran dalam Usahatani dilahan sub-optimal (Pasang Surut) dapat Meningkatkan Produksi Padi

Pemberian Bahan Amelioran dalam Usahatani dilahan sub-optimal (Pasang Surut) dapat Meningkatkan Produksi Padi
Lahan pertanian sub-optimal untuk usahatani pertanian meliputi lahan pertanian rawa (lebak, pasang surut, gambut) dan lahan marjinal lainnya (lahan masam, lahan salin dan lahan berlereng) yang berpotensi dikelola untuk usahatani. Lahan sub-optimal mempunyai kendala biofisik tersendiri, sehingga petani yang berada di kawasan tersebut seakan terabaikan. Akan tetapi, dengan adanya gejala pelandaian produktivitas padi sawah irigasi, konversi lahan, makin terbatasnya lahan subur potensial untuk sawah, dan mahalnya biaya investasi irigasi mendorong perlunya perhatian yang lebih besar terhadap lahan sub-optimal.Lahan sub-optimal merupakan suatu alternatif untuk menggantikan lahan pertanian, adapun cara dari salah satu inovasi teknologi untuk berupaya meningkatkan produktivitas dan pemanfaatan lahan tersebut tidaklah sukar, upaya tersebut diantaranya yaitu dengan cara penggunaan genotipe varietas toleran, pemupukan berimbang, dan ameliorasi lahan menggunakan bahan organik, kapur yang dapat mengatasi keracunan khususnya besi. Cara yang terbaik untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan cara memanfaatkan bahan organik yang ada disekitar lokasi, perlakuan tersebut selain murah juga ramah akan lingkungan serta dapat mengurangi penggunaan bahan kimia seperti pupuk anorganik. Bahan amelioran yang merupakan salah satu sumber organik yang berpotensial dilingkungan adalah jerami padi, pupuk kandang, salvinia sp (tumbuhan air yang banyak terdapat dilahan rawa) dibuat kompos sebagai pupuk organik. Kelebihan dari tumbuhan salvinia sp adalah mempunyai tingkat pertumbuhan dan produktivitas biomas yang tinggi sehingga potensial digunakan sebagai sumber pupuk organik.Selanjjutnya untuk membuat amelioran dalam bentuk kompos aerob dari bahan organik adalah; Proses pembuatan kompos aerob sebaiknya dilakukan di tempat terbuka dengan sirkulasi udara yang baik. Karakter dan jenis bahan baku yang cocok untuk pengomposan aerob adalah material organik yang mempunyai perbandingan unsur karbon (C) dan nitrogen (N) kecil (dibawah 30:1), kadar air 40-50% dan pH sekitar 6-8. Bahan yang digunakan adalah hijauan leguminosa, tumbuhan salvinia sp jerami, gedebog pisang dan kotoran unggas. Apabila kekurangan bahan yang megandung karbon, bisa ditambahkan arang sekam padi ke dalam adonan pupuk.Cara membuat kompos aerob memakan waktu 40-50 hari. Perlu ketelatenan lebih untuk membuat kompos dengan metode ini. Kita harus mengontrol dengan seksama suhu dan kelembaban kompos saat proses pengomposan berlangsung. Secara berkala, tumpukan kompos harus dibalik untuk menyetabilkan suhu dan kelembabannya. Langkah-langkah cara membuat kompos aerob:• Siapkan lahan seluas 10 meter persegi untuk tempat pengomposan. Lebih baik apabila tempat pengomposan diberi peneduh untuk menghindari hujan.• Buat bak atau kotak persegi empat dari papan kayu dengan lebar 1 meter dan panjang 1,5 meter. Pilih papan kayu yang memiliki lebar 30-40 cm.• Siapkan material organik dari sisa-sisa tanaman, bisa juga dicampur dengan kotoran ternak. Cacah bahan organik tersebut hingga menjadi potongan-potongan kecil. Semakin kecil potongan bahan organik semakin baik. Namun jangan sampai terlalu halus, agar aerasi bisa berlangsung sempurna saat pengomposan berlangsung. Masukan bahan organik yang sudah dicacah ke dalam bak kayu, kemudian padatkan. Isi seluruh bak kayu hingga penuh.• Siram bahan baku kompos yang sudah tersusun dalam kotak kayu untuk memberikan kelembaban. Untuk mempercepat proses pengomposan bisa ditambahkan starter mikroorganisme pembusuk ke dalam tumpukan kompos tersebut. Setelah itu, naikkan bak papan ke atas kemudian tambahkan lagi bahan-bahan lain. Lakukan terus hingga ketinggian kompos sekitar 1,5 meter.• Setelah 24 jam, suhu tumpukan kompos akan naik hingga 65oC, biarkan keadaan yang panas ini hingga 2-4 hari. Perlu diperhatikan, proses pembiaran jangan sampai lebih dari 4 hari. Karena berpotensi membunuh mikroorganisme pengurai kompos. Apabila mikroorganisme dekomposer ikut mati, kompos akan lebih lama matangnya.• Setelah hari ke-4, turunkan suhu untuk mencegah kematian mikroorganisme dekomposer. Jaga suhu optimum pengomposan pada kisaran 45-60oC dan kelembaban pada 40-50%. Cara menjaga suhu adalah dengan membolak-balik kompos, sedangkan untuk menjaga kelembaban siram kompos dengan air. Pada kondisi ini penguapan relatif tinggi, untuk mencegahnya kita bisa menutup tumpukan kompos dengan terpal plastik, sekaligus juga melindungi kompos dari siraman air hujan.• Apabila suhu sudah stabil dibawah 45oC, warna kompos hitam kecoklatan dan volume menyusut hingga 50% hentikan proses pembalikan. Selanjutnya adalah proses pematangan selama 14 hari. Pupuk kompos yang telah matang dicirikan dengan warnanya yang hitam kecoklatan, teksturnya gembur, tidak berbau.• Untuk memperbaiki penampilan (apabila pupuk kompos hendak dijual) dan agar bisa disimpan lama, sebaiknya kompos diayak dan di kemas dalam karung. Simpan pupuk kompos di tempat kering dan teduh.• Kompos aerob siap untuk dipergunakan dilahan usahatani padi pasang surut dengan cara ditebar langsung. Ditulis Oleh: Dalmadi BBP2TP Bogor Sumber: Bacaan dan gambar http://www.alamtani.com