PEMBERIAN BAHAN ORGANIK DI LAHAN RAWA MENURUNKAN GAS METANA DAN KARBONDIOKSIDA
Pemanasan global berakibat pada terjadinya perubahan iklim ekstrim yang mengakibatkan terjadinya kemarau berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan dan meningkatnya suhu udara yang disebabkan meningkatnya gas rumah kaca (GRK) terutama gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang disebabkan oleh aktivitas manusia termasuk kegiatan pertanian di lahan sawah dan rawa. Khususnya lahan rawa memiliki peran cukup besar terhadap terbentuknya emisi GRK (metana dan karbon dioksida) Laju emisi GRK di lahan rawa dipengaruhi oleh jenis bahan organik, populasi dan aktivitas mikroba pembentuk metana (bakteri metanogen) dan lingkungan yang mendukung. Hal ini penting mendapat perhatian, mengingat lahan rawa di Indonesia cukup luas yaitu sekitar 33,39 juta ha yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Bahan organik di lahan rawa memiliki peran penting sebagai sumber hara bagi tanaman dan substrat bagi mikroorganisme anaerob. Ketersediaan bahan organik dalam tanah yang tergenang mempengaruhi proses reduksi yang terjadi di dalam tanah. Penggenangan mengakibatkan jumlah karbon organik yang tersimpan dalam tanah menjadi lebih besar dibanding bila tanah dalam keadaan kering karena perbedaan proses biokimia dan mekanisme yang spesifik. Penggenangan secara terus menerus akan menstimulasi pembentukan gas metana. Inovasi teknologi pengolahan bahan organik mengurangi metanaLimbah tanaman padi berupa jerami sisa panen dan gulma merupakan sumber utama bahan organik di lahan rawa. Pengelolaan bahan organik pada kondisi tergenang berfungsi untuk mempertahankan suasana reduktif sehingga oksidasi pirit dapat ditekan. Namun cara ini mengakibatkan terjadinya proses dekomposisi anaerobik yang menghasilkan metana. Metanogenesis merupakan produk akhir dari degradasi karbon organik pada kondisi anaerobik oleh bakteri metanogen. Strategi utama mengurangi laju emisi metana dari lahan rawa adalah melalui pengelolaan bahan organik. Pengomposan merupakan salah satu cara untuk menekan laju emisi metana.Pada kondisi anaerob, pemberian bahan organik yang dikomposkan lebih mampu menekan aktivitas bakteri metanogen dibanding diberi bahan organik segar, sehingga emisi gas metana juga menjadi lebih rendah. Hasil penelitian menunjukkan pemberian kompos menghasilkan emisi metana lebih kecil dibanding bila bahan organik dalam keadaan segar. Sehingga dengan adanya pengelolaan bahan organik yang tepat dapat menekan emisi metana dari lahan rawa. Keuntungan pengomposanPengomposan selain dapat menekan emisi metana juga merupakan pilihan yang mudah murah untuk diterapkan petani. Selanjutnya dengan pemberian bahan organik yang telah dikomposkan dapat meningkatkan katersediaan hara yang diperlukan tanaman serta mengkelat unsur racun seperti unsur Fe dan AL. Dengan kondisi ini produksi padi akan meningkat. Ada beberapa keuntungan penggunaan kompos antara lain: 1. Kompos Tidak Larut Dalam Air dan kompos selalu ada di sekitar tanaman;.2. Kompos mampu menahan air sampai 60% Kandungan air pada kompos akan menimbulkan dampak positif karena kompos adalah humus, sehingga lahan yang mengandung kompos akan menahan air sampai sebanyak 60%, sehingga dapat digunakan tanaman sampai musim kemarau3. Kompos dapat membentuk tekstur dan struktur tanah yang kondusif bagi pertumbuhan tanaman. tekstur tanah akan menjadi lembut dan gembur, tidak padat dan tidak akan menjadi pecah-pecah pada musim kemarau seperti terjadi pada lahan yang dipupuk dengan pupuk anorganik. Struktur tanah akan tertata dengan baik seiring dengan keluar masuknya unsur hara ke dalam tanah.4. Kandungan hara kompos yang berasal dari berbagai jenis bahan limbah yang mengandung berbagai jenis bahan tumbuhan yang mengandung berbagai kandungan hara dapat diformulasikan untuk pupuk di lahan yang akan kita pupuk.5. Kompos bebas dari sumber penyakit. karena pembuatan kompos dilakukan dengan berbagai jenis mikroba yang bekerja secara suksesi karena pengaruh perubahan energi panas dan pH. Terjadinya perubahan suhu dan pH secara alami selama proses pengomposan, maka kompos terbentuk secara sempurna oleh kerja berbagai mikroba tersebut. Terbebasnya kompos dari penyakit, karena suatu saat tumpukan kompos akan mencapai suhu 60-70ºC. Seperti diketahui semua mikroba penyakit tidak tahan pada suhu diatas 60ºC Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : 1) Bahan Organik Lokal untuk Menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca di lahan Rawa, dalam Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Vol 35 No.5 Th 2013;.dan 2) Dihimpun dari beberapa sumber