Salah satu faktor yang menentukan berhasilnya peternakan sapi perah yaitu pemberian makanan. Seekor sapi perah yang daya produksi susunya tinggi, bila tidak mendapat makanan yang cukup baik kuantitas maupun kualitas tidak akan dapat menghasilkan susu yang sesuai dengan kemampuannya. Cara pemberian makanan yang salah dapat mengakibatkan penurunan produksi, gangguan kesehatan bahkan dapat juga menyebabkan kematian. Untuk mencegah timbulnya kerugian, pemberian makanan harus diperhitungkan dengan cermat. Pemberian makanan harus dilakukan secara efisien. Seorang peternak sapi perah perlu mnegtahui nilai gizi bahan-bahan makanan ternak yang biasa digunakan untuk sapi perah, penyusunan ransum yang disesuaikan dengan kebutuhan sapi akan zat-zat makanan dan beberapa pertimbangan harga makanan serta tersedianya bahan makanan yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan efisiensi penggunaan makanan.Bahan makanan sapi perah terbagi dalam dua golongan yaitu bahan makanan kasar (hijauan) dan bahan makanan konsentrat. Bahan pakan kasar merupakan makanan utama untuk sapi perah yang terdiri dari rumput dan hijauan. Bahan pakan tersebut mengandung kadar serat kasar yang tinggi. Kadar serat kasar yang tinggi dalam ransum, mengakibatkan ransum tersebut sulit dicerna. Tetapi sebaliknya kadar serat kasar terlalu rendah, menyebabkan gangguan pencernaan pada sapi perah. Oleh karena itu, kebutuhan minimum serat kasar dalam ransum sapi perah sapi dara dan sapi jantan dewasa15% dari kebutuhan bahan kering bahan kering. Sedangkan untuk sapi betina dewasa yang sedang laktasi dan kering kandang, kadar serat kasar dalam ransum minumum 17% dari kebutuhan bahan kering. Bila kadar serat kasar pada ransum sapi betina laksatasi kurang dari 17%, kadar lemak yang dihasilkan lebih rendah dari normal.Bahan pakan konsentrat merupakan pakan mengandung serat kasar rendah dan bersifat mudah dicerna, misalnya dedak, bungkil kedelai, bungkil kacang tanah, jagung, kedelai dan lain-lain. Zat-zat makan yang tidak dapat dipenuhi oleh rumput dan hijauan untuk memenuhi kebutuhan zat makanan sapi perah, dilengkapi oleh zat-zat makanan yang berasal dari pakan konsentrat. Semua mahluk hidup, memerlukan energi untuk kelangsungan hidup dan produksi. Pada ternak muda, kekurangan energi menyebabkan menghambat pertumbuhan dan menunda dewasa kelamin, sedangkan pada sapi sedang laktasi, dapat menurunkan bobot badan sehingga kurus. Kekurangan energi lebih lanjut pada sapi lakstasi, menekan fungsi reproduksi sehingga sapi tidak dapat menghasilkan anak. Satuan energi yang dibutuhkan ternak dan yang terkandung dalam makanan ternak pada waktu sekarang banyak dipakai ukuran dari Amerika Serikat adalah Total Digestible Nutrients (TDN) atau "jumlah zat makanan yang dapat dicerna". Nilai TDN bahan makanan atau ransum ditentukan sebagai berikut : [TDN = Serat kasar dapat dicernah + Bahan ekstrak tanpa nitrogen dapat dicerna + Protein dapat diecerna + 2,25 (lemak dapat dicerna) ]. Tiap-tiap gram zat makanan yang dapat dicerna tersebut, kecuali lemak masing-masing mengandung energi 4kkal (kilokalori), sedangkan untuk lemak dapat dicerna tiap gramnya mengandung 9 kkal atau 9/4 = 2,25 kali lebih besar dari pada zat-zat makanan lainnya. Protein merupakan zat makanan yang penting untuk proses hidup di dalam tubuh. Protein terdiri dari asam amino dan membentuk sel-sel tubuh dan organ didalam tubuh hewan, seperti: jantung, otak tulang, urat daging dan lain-lain. Protein diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan, reproduksi dan produksi air susu. Sapi perah produksi tinggi memerlukan nutrisi khusus terutama pada periode puncak produksi awal laktasi. Kebutuhan asam amino yang tinggi ini tidak hanya dapat dipenuhi dari protein mikroba semata, tetapi juga dari protein tidak terdegradasi yang memiliki kandungan asam amino lengkap. Kekurangan protein dalam makanan sapi perah, akan memperlambat laju pertumbuhan janin (fetus) dan anak sapi (pedet), sehingga menghasilkan anak sapi yang kecil pada waktu lahir dan menghambat pertumbuhan sapi muda. Pada sapi perah dewasa, kekurangan protein dalam makanan, akan menurunkan produksi air susu, sedangkan kekeurangan protein yang parah, sapi menjadi kurus pada permulaan laktasi dan tidak dapat atau sulit menjadi gemuk pada akhir laktasi. Kebutuhan akan protein dalam makanan pada sapi perah tidak lagi dinyatakan dalam protein dapat dicerna, cukup dinyatakan dalam protein dapat dicerna suatu makan erat sekali hubungan dengan kandungan protein kasar dalam makanan tersebut. Dengan demikian penyusunan ransum sapi perah menjadi lebih mudah daripada memakai protein dapat dicerna.Dalam penyusunan ransum, terlebih dahulu harus dihitung kebutuhan seekor sapi terhadap bahan kering (BK), (TDN=Total Digestible Nutrition), dan protein kasar (PK). Kemudian dihitung berapa BK, TDN dan PK yang dapat dipenuhi oleh hijauan (rumput dan daun-daunan) untuk memenuhi kebutuhan seekor sapi perah. Setelah itu berapa TDN dan PK yang dapat dipenuhi oleh konsentrat Akhirnya dapat dihitung berapa kilogram konsentrat yang harus diberikan kepada sapi tersebut. Misalkan seekor sapi perah yang hendak disusun ransumnya berbobot 450 kg dengan produksi air susu rata-rata per hari 13 kg dan kadar lemak 3,5%. Maka tahapan perhitungan untuk menyusun ransumnya sebagai berikut: "Informasi Umum" : Untuk bobot badan sapi 450 Kg, TDN nya 3,44 kg, nilai Hidup Pokok 403 gr, Produksi susu 4% FCM (10 ~2,40 ; 15 ~ 2,65). Sedangkan Produksi Susu untuk 3,5% lemak sebanyak 0,304 kg ~ 82 gr. (A). Kebutuhan BK untuk hidup pokok dan produksi susu.Terlebih dahulu dihitung produksi susu dalam 4% FCM (Fat Corrected Milk) = 0,4 produksi susu + 15 produksi lemak = (0,4 x 13) + 15 (0,035 x 13) = 12 kg. Dengan melihat pada label " informasi umum" dapat dihitung kebutuhan BK = 2,4 + (12-10)/15-10) x (2,65 – 2,40) = 2,4 + 2/5 (0,25) = 2,5%. Jadi BK yang dibutuhkan sapi tersebut = 2,5% x 450 kg = 11,25 kg. (B). Kebutuhan TDN. Untuk hidup pokok bobot badan 450 kg (lihat label " informasi umum") = 3,44 kg TDN. Untuk produksi susu 13 kg dengan kadar lemak 3,5% (lihat label " informasi umum") = 13 x 0,304 kg TDN = 3,95 kg TDN. Jumlah kebutuhan TDN = 3,44 kg + 3,95 kg = 7,39 kg. (C). Kebutuhan PK. Untuk hidup pokok bobot badan 450 kg (lihat label " informasi umum") = 0,403 kg PK. Untuk produksi susu 13 kg dengan kadar lemak 3,5% (lihat label " informasi umum") = 13 x 0,082 kg PK= 1,066 kg PK Jumlah kebutuhan PK = 0,403 kg + 1,066 kg = 1,469 kg PK. Untuk memperoleh ransum sapi perah yang murah dan koefisien cerna yang tinggi, digunakan makanan hijauan sebanyak-banyaknya yaitu dari 60% dai BK yang dibutuhkan terdiri atas hijauan sedangkan sisanya 40% berasal dari konsentrat. Oleh : Ir. Amirudin Aidin Beng, MM. Sumber : Gema Penyuluhan Pertanian. Departemen Pertanian