Meningkatnya serangan hama penyakit pada budidaya tanaman padi khususnya untuk hama wereng banyak menimbulkan kerugian di pihak petani. Wereng Batang Coklat (WBC) merupakan hama dengan pertumbuhan populasi yang cepat yang selalu menjadi ancaman produksi padi petani. Tercatat mulai musim penghujan tahun 2016 terjadi peningkatan serangan hama wereng di sentra-sentra produksi padi baik di Jawa maupun luar pulau Jawa. Sepanjang tahun 2017 serangan wereng di Kabupaten Jember khususnya Kecamatan Bangsalsari meliputi Desa Gambirono, Karangsono, Sukorejo, Bangsalsari, dan Langkap. Serangan WBC pada MK I tahun 2017 menyebabkan banyak petani mengalami gagal panen. Meledaknya serangan hama WBC ini tidak terlepas dari kondisi iklim yang mendukung dan disinyalir merupakan dampak dari penggunaan pestisida yang tidak tepat pada musim-musim tanam sebelumnya, yang menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem yaitu menurunnya populasi musuh alami WBC. Peran petani dalam melakukan kegiatan usaha tani tidak dapat dipisahkan dari perannya menjaga keseimbangan ekosistem. Penggunaan pestisida secara tidak tepat selama ini banyak menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem, sehingga justru membawa dampak merugikan bagi petani.Salah satu alternatif pengendalian hama WBC pada tanaman padi yang ramah lingkungan adalah dengan aplikasi agens hayati, dimana penggunaan agens hayati sebagai langkah preventif untuk mengendalikan populasi WBc sehingga dampak merugikan dari WBC dapat ditekan. Kelompok tani Sido Maju I Desa Karangsono, Kecamatan Bangsalsari berinisiatif untuk dapat membuat dan mengaplikasikan agens hayati untuk megendalikan hama penyakit khususnya untuk serangan WBC. Pada pertemuan kelompok yang dilaksanakan tanggal 7 Nopember 2017, bertempat di rumah ketua kelompok, H. Nurk Kholis, dilakukan praktek pembuatan bakteri merah. Pertemuan ini dihadiri juga dari petugas POPT Kecamatan Bangsalsari, Kasi. Perlindungan Tanaman Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember, Koordinator POPT Kabupaten Jember, serta Koordinator Penyuluh Wilayah Bangsalsari.Bakteri merah (serratia marcessence) merupakan salah satu spesies bakteri entomopatogen oportunistik gram negatif dari famili enterobakteriaceae. Bakteri ini memiliki karakter sangat motil karena memiliki flagella peritrik habitatnya bisa di tanah, air, permukaan daun, pencernaan binatang, dan manusia. Bakteri ini bersifat patogen terhadap hama WBC dan beberapa jenis serangga lainnya. Dengan konsentrasi 106-107 sel/ml mampu membunuh WBC 65,6% - 78,2% dalam rentang waktu 6-7 hari setelah aplikasi. Bakteri merah juga dilaporkan bersifat patogen terhadap Spodoptera exiguna, Plutella xylotella, Crocidolomia binotalis, kutu daun mangga, dan belalang kembara.Pada praktek pembuatan bakteri merah di Kelompok Tani Sido Maju I Desa Karangsono Kecamatan Bangsalsari, media yang digunakan adalah ekstrak kentang, adapun bahan-bahan yang digunakan antara lain : Kentang 1,5 kg; gula pasir 75 gram; air bersih/ steril 5 liter; isolat bakteri merah/ Serratia 1 tabung, sedangkan alat yang dibutuhkan dalam pembuatan bakteri merah antara lain : aerator, galon air mineral, selang plastik.Cara pembuatan bakteri merah :Kentang dikupas potong dadu, direbus bersama gula dan air hingga mendidihMasukkan dalam galon, sterilisasi dalam dandang selama 2 jam, atau dapat dilakukan dengan mensterilkan galon yang akan dipakai terlebih dahulu.Setelah media dingin, masukkan isolat dan fermentasi secara aerob dengan bantuan aerator selama kurang lebih 2 minggu.Setelah 2 minggu bakteri merah siap diaplikasikan, dosis aplikasinya sekitar 5-10 cc per liter air. Pengaplikasian bakteri merah sebaiknya dilakukan pada sore hari atau pagi hari dengan catatan sinar matahari dalam satu hari itu tidak begitu terik. Pada pertemuan kelompok disepakati dalam 2 minggu mendatang akan dilaksanakan penyemprotan serempak untuk aplikasi bakteri merah. Diharapkan penggunaan bakteri merah dapat menekan serangan hama WBC pada musim penghujan tanun 2017/2018. Oleh : Yudi Cristian Windartha, Penyuluh Pertanian Pertama Kabupaten Jember