Olahan Pakan Hijauan (Silase) Silase adalah hijauan makanan ternak ataupun limbah pertanian yang diawetkan dalam keadaan segar (dengan kandungan air 60-70 %) melalui proses fermentasi dalam silo. Silo dapat dibuat diatas tanah yang bahannya berasal dari: tanah, beton, baja, anyaman bambu, tong plastik, drum bekas dan lain sebagainya. Didalam silo tersebut tersebut akan terjadi beberapa tahap proses anaerob (proses tanpa udara/oksigen), dimana “bakteri asam laktat akan mengkonsumsi zat gula yang terdapat pada bahan baku, sehingga terjadilah proses fermentasi. Silase yang terbentuk karena proses fermentasi ini dapat di simpan untuk jangka waktu yang lama tanpa banyak mengurangi kandungan nutrisi dari bahan bakunya. Tujuan Pembuatan Silase Tujuan utama pembuatan silage adalah untuk memaksimumkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa di disimpan dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian di berikan sebagai pakan bagi ternak. Sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau. Prinsip Pembuatan Silase Prinsip pembuatan silase yaitu usaha untuk mencapai dan mempercepat: Keadaan hampa udara (anaerob) Terbentuk suasana asam dalam penyimpanan (terbentuk asam laktat). Untuk mendapatkan suasana anaerob dikerjakan dengan cara : Pemadatan bahan silase (hijauan) yang telah dicacah dengan cara ditekan, baik dengan menggunakan alat atau diinjak-injak sehingga udara sekecil mungkin (minimal). Tempat penyimpanan (silo) jangan ada kebocoran dan harus tertutup rapat yang diberi pemberat. Pembentukan suasana asam dengan cara penambahan bahan pengawet atau bahan imbuhan (additif) secara langsung dan tidak langsung. Pemberian bahan pengawet secara langsung dengan menggunakan: Natrium bisulfate Sulfur oxide Asam chloride Asam sulfat Asam propionat Pemberian Bahan Pengawet / Bahan Imbuhan (Additif) Secara Tidak Langsung Pemberian bahan pengawet / bahan imbuhan (additif) secara tidak langsung adalah dengan memberikan tambahan bahan-bahan yang mengandung hidrat arang (carbohydrate) yang siap diabsorpsi oleh mikroba, antara lain : Molase (melas) : 2,5 kg /100 kg hijauan Onggok (tepung) : 2,5 kg/100 kg hijauan Tepung jagung : 3,5 kg/100 kg hijauan Dedak halus : 5,0 kg/100 kg hijauan Ampas sagu : 7,0 kg/100 kg hijauan Panjang Pemotongan Rumput Rumput yang dipotongnya terlalu panjang, akan menyulitkan saat pengepakan ke dalam silo, dan kemungkinan masih banyak oksigen yang tersisa. Jadi ini akan menyulitkan tercapainya suasana anaerob. Sedangkan pemotongan/pencincangan rumput yang terlalu lama akan berakibat menurunnya kandungan lemak susu, ruminasi, proses memamah biak, pengeluaran air liur (salivasi) dan menyebabkan rendahnya pH rumen (acidosis). Jenis Hijauan yang Dapat Dibuat Silase : Rumput Sorghum Jagung Biji-bijian kecil Pembuatan Silase Alat Silo Alat yang akan dipakai untuk melakukan proses fermentasi, pengawetan hijauan, dan penyiapan. Sebaiknya dengan kapasistas untuk 50 kg hijauan yang telah dicacah. Mesin pencacah (Chopper) atau golok dan talenan Untuk mencacah hijauan yang akan dibuat silase Plastik atau bahan lain yang tidak tembus rembesan air sebagai pelapis pada dinding dan penutup silo Ban bekas/bahan-bahan yang digunakan sebagai pemberat. Bahan Hijauan makanan ternak (bahan yang telah dipanen) yang akan diawetkan dengan dibuat silase. Bahan pengawet (additif) yang dipilih dari salah satu yang tersebut di atas. Langkah Kerja Pembuatan Silase Hijauan makanan ternak (rumput maupun limbah pertanian), dilayukan dengan cara diangin-anginkan kurang lebih semalaman, kemudian dicacah dengan panjang potongan 2-5 cm atau dilakukan dengan mesin pencacah (chopper). Bila tidak dicampur dengan bahan pengawet/ additif, hijauan yang telah dicacah dapat langsung di masukkan ke dalam silo. Jika diberi pengawet/additif, penambahannya dilakukan dengan cara menaburkan secara merata selapis demi selapis untuk hijauan dengan ketebalan 10 cm, kemudian diaduk sampai rata. Hijauan yang telah dicampur dengan additif atau pengawet, ditekan kuat-kuat dalam silo (bak silo/kantung plastik), dipadatkan dengan jalan diinjak-injak sehingga tidak ada lagi udara yang tersisa (hampa udara). Silo diisi padat atau nya. Silo dapat dibongkar sesudah proses fermentasi selesai (30 hari). Kualitas Silase yang Baik pH sekitar 4 Kandungan air 60-70% Bau segar dan bukan berbau busuk Warna hijau masih jelas Tidak berlendir Tidak berbau mentega tengik Penggunaan Silase Silase merupakan pakan yang disukai ternak terutama bila cuaca panas. Apabila ternak kita belum terbiasa mengkonsumsi silase, maka pemberiannya sedikit demi sedikit dicampur dengan hijauan yang biasa dimakan. Penulis: Sukemi, S.Pt (Jabatan Fungsional Kabupaten Kapuas Hulu)