PEMBUATAN PAKAN BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL DI DESA SUNGAI ANAK KAMAL KECAMATAN MERBAU
Peluang besar dalam peternakan masih terbuka untuk mengembangkan ternak karena adanya potensi sumber daya pakan lokal yangbelum dimanfaatkan secara optimal. Pengembangan sistim pakan berbasis sumberdaya lokal menjadi pilar yang mendukung perkembangan produksi peternakan di Indonesia yang berkelanjutan, efisien dan kompetitif. Hasil sisa, hasil samping dan limbah berbagai jenis tanaman merupakan sumber bahan baku pakan alternatif yang potensial. Pakan merupakan faktor penting untuk peningkatan produktivitas. Salah satu kendala yang dihadapi peternak dalam pengadaan pakan antara lain harga pakan yang mahal, susah didapat dan terbatas lahan. Pemanfaatan sumber daya lokal merupakan langkah strategis dalam efisiensi usaha produksi ternak. Kabupaten Kepulauan Meranti mempunyai produk pertanian unggulannya yaitu sagu, kopi dan produk perikanan. Lahan tanaman sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti seluas 50.514 ha dengan produksi 310.302 ton (BPS 2018). Prosesing satu pohon sagu, diperoleh pati sagu 17-25% dan ampas sagu 75-83%. Ampas sagu merupakan limbah, dibuang ke laut, pencemaran lingkungan, terganggunya biota laut. Potensi besar pemanfaatan ampas sagu sebagai pakan. Terkendala rendahnya nutrisi terutama protein (1,3%). Sentuhan teknologi untuk peningkatan nutrisi dengan teknologi fermentasi dan penyusunan formulasi pakan bernutrisi tinggi. Berdasarkan hal tersebut diatas maka dilaksanakan teknologi pengolahan pakan berbasis ampas sagu oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Provinsi Riau di Desa Sungai anak Kamal Kecamatan Merbau dengan pertimbangan tersedia bahan baku ampas sagu/ repu berlimpah, terdapat peralatan pendukung pembuatan formulasi pakan seperti mesin penepung, mesin pellet dan adanya wacana dari pemerintah desa untuk pengembangan ayam kampung. Penulis : Salmi, S.Pd PPL Desa Sungai Anak Kecamatan Merbau