Loading...

Pembuatan Pupuk Bokhasi Berbahan Dasar Kotoran Kambing

Pembuatan Pupuk Bokhasi Berbahan Dasar Kotoran Kambing
Selain pembuatan pupuk organik cair, di desa Labunti juga dilakukan pembuatan pupuk bokhasi berbahan dasar kotoran kambing oleh kelompok tani Abadi Jaya dan kelompok tani Mandiri. Didampingi oleh penyuluh desa Labunti pada tanggal 5 April 2020 bertempat di lahan kebun Pak Hasrudin, anggota kelompok tani Abadi Jaya dilakukan praktek/demonstrasi pembuatan pupuk bokhasi berbahan dasar kotoran kambing dan serbuk kayu bersama dengan ketua kelompok tani dan beberapa anggota kelompok tani mandiri dan kelompok tani Ingin maju desa Labunti, ikut hadir pula beberapa rekan PPL BPP Lasalepa, yaitu PPL Desa Kombungo, Labone dan PPL Desa Bangunsari bersama-sama Bapak KPK Lasalepa. Mengingat kebutuhan pupuk yang semakin meningkat, dan demi terjaganya kelestarian lingkungan utamanya kesuburan tanah, maka pembuatan pupuk organik bokhasi, dinilai sangat tepat untuk dijadikan solusi, ditengah musim pandemi covid-19 saat ini, dimana ketersediaan pupuk anorganik bersubsidi pun stoknya mulai langka, maka pupuk bokhasi dapat menjadi alternatif jitu untuk menjawab keresahan petani akan kebutuhan pupuk untuk tanaman jagug yang banyak dibudidayakan petani di desa Labunti. Melimpahnya bahan baku dan relatif mudah dibuat dan diaplikasikan, membuat petani di Desa Labunti lebih memilih menggunakan pupuk oganik bokhasi dibandingkan dengan pupuk an organik/ kimia. Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk bokhasi ini adalah sebagai berikut: * Bahan-Bahan yang dibutuhkan: 1. Seresah atau sisa-sisa daun, misalnya daun gamal atau komba-komba ataupun daun lainnya yang mudah lapuk sebanyak 2 karung @ 50kg. 2. Kotoran kambing yang sudah kering sebanyak 1 karung, 3. Dedak atau sekam atau serbuk gergaji kayu yang mudah lapuk 1 karung. 4. Larutan EM-4 sebagai katalisator, 5. Air, dan 6. Gula Pasir. * Alat-Alat yang dibutuhkan: 1. Terpal 2. Kayu atau bambu 3. Ember 4. Sekopang 5. Parang dan 6. Timba/Gayung. Cara Membuat: Mula-mula rajang/potong kecil-kecil seresah/daun gamal kemudian semua bahan dicampur, mulai dari seresah gamal, kotoran kambing dan serbuk kayu. Setelah tercampur rata, siapkan larutan EM-4, larutan dibuat dengan mencampurkan air dan EM-4 serta gula pasir dengan perbandingan 1 : 50 : 1. Sesuaikan dengan banyaknya bahan yang akan dibuat pupuk. Misalnya 100 ml EM-4 : 5.000ml air atau 5 liter air : 100 ml larutan molases ata gula pasir. Campurkan larutan tersebut dalam sebuah wadah atau ember. Aduk rata sampai gula larut. Siram larutan EM-4 yang sudah dibuat tadi menggunakan gayung diatas bahan-bahan yang sudah tercampur rata, basahi sampai rata, aduk bahan menggunakan sekopang. Genggam bahan menggunakan tangan, upayakan bahan dalam keadaan lembab tidak kering tidak pula basah. Jika sudah tercampur rata semuanya, tutup bahan rapat dengan terpal, gunakan kayu atau bambu diatas terpal disekeliling bahan agar benar-benar rapat, sehingga proses fermentasi berjalan sempurna. Tutup rapat selama 4 hari, pada hari ke-4 bolak-balik bahan dengan menggunakan sekopang setiap pagi dan sore. lakukan hal ini selama 7- 14 hari. Proses pembalikan ini bertujuan untuk mengontrol suhu bahan agar tidak terlalu panas karena kering atau terlalu lembab atau basah. Selama pengontrolan, jika bahan terlalu kering dapat dibasahi dengan air, tetapi jika bahan terlalu lembab atau basah dapat dicampur kembali dengan seresah, serbuk kayu ataupun kotoran kambing. Jika bahan sudah bahan sudah cokelat kehitaman, tidak berbau, terasa ringan dan tidak lagi panas , maka berarti pupuk bokhasi sudah jadi dan siap di aplikasikan di lapangan. Dua minggu setelah pembuatannya, tepatnya pada tanggal 15 April 2020, pupuk bokhasi yang kami buat sudah jadi dan siap digunakan sebagai pupuk dasar penanaman jagung kuning varietas betras -1 pda lahn Pak Hasrudin di Nokki Desa Labunti. Kami berharap dengan demonstrasi pembuatan pupuk bokhasi ini, dapat meningkat pengetahuan, keterampilan dan sikap petani, khususnya di Desa Labunti untuk menerapkan kembali sistem pertanian organik, sehingga dapat meningkatkan kualitas hasil produktivitas tanah dan tanaman. Dengan pertanian organik, diharapkan Hasil panen meningkat, lingkungan lestari, tanah tetap produktif, dan selanjutnya pendapatan dan kesejahteraan petani meningkat. (Ummy Kalsum, SP. Penyuluh Pertanian Desa labunti Kecamatan Lasalepa, 2020)