Loading...

PEMBUATAN PUPUK ORGANIK (PUPUK BOKASI)

PEMBUATAN PUPUK ORGANIK (PUPUK BOKASI)
KELOMPOK WANITA TANI (KWT) "FLAMBOYAN" DS. BANCAR - KEC. BUNGKAL BPP KEC. BUNGKAL - KAB. PONOROGO PENDAHULUANPertanian yang berkembang dewasa ini selalu mengedepankan penggunaan bahan – bahan kimia untuk pupuk dan pestisida. Apabila hal ini berjalan terus akan menyebabkan kerusakan lingkungan dan kemerosotan kesuburan lahan. Volume suatu tanah idialnya terdiri dari tiga komponen yaitu masing – masing 1/3 untuk masa padatan. Lembab dan udara. Keadaan ini akan menjamin pada keadaan aerasi, daya tahan air, drainase, dan aktifitas bioliogis yang cukup baik. Bahan organik mempunyai sifat mengurangi kepadatan tanah tanah yang berat dan meningkatkan daya menahan air bagi tanah – tanah ringan. Menurut Buchkan dan Brady (1961). Tanah yang idial untuk pertumbuhan tanaman adalah harus mengandung 5 % bahan organik,45 % mineral,25 % air dan 25 % udara.Oleh kerena itu anjuran penggunaan pupuk organik pada budidaya pertanian harus disosialisasikan pada petani.TEKNIK PEMBUATAN1. Alat dan bahan. Alat yang digunakan : Timbangan, skop, cangkul, ayakan, takaran, ember dan gembor. Bahan yang digunakna : Bahan organik ( pupuk kandang ) daun – daunan yang lunak, jerami, sampah organik, arang sekam dan dedak, mollasis/tetes, Mikro organisma,dolomit/gamping2. Langkah – langkah pembuatan Bokashi. a. Timbang bahan sebagai berikut : - Kotoran sapi : 100 kg - Sampah organik : 100 kg - Arang sekam : 20 kg - Dedak/ katul : 10 kg - Kapur dolomid : 5 kg B Campurkan bahan – bahan tersebut sampai merata pada hamparan lantai yang ternaung. c. Buat larutan EM 4 setiap 1 liter air ditambah 5 cc EM 4 dan 5 cc molasses, campurkan sampai merata. d. Siramkan larutan tersebut kedalam bahan baku, sehingga terbentuk adonan dengan kadar air 30 – 40 %. e. Hamparkan pada lantai setinggi 20 – 30 cm secara merata dalam ruangan yang terlindung dan tutup dengan karung goni. f. Pasang alat pengukur suhu bokashi pad tempat tertentu, pertahankan suhu bokashi antara 40 – 55 derajat celcius. g. Amati suhu 2 kali sehari selama proses fermentasi ( 5 – 7 ) hari h. Lakukan pembongkaran gundukan bokashi bila terjadi peningkatan suhu > 55 derajat beberapa menit, sehingga suhu menjadi turun kembali. Selanjutnya atur gundukan bokashi tersebut. i. Buka hasil fermentasi bokashi dan amati adanya lapisan putih pada permukaan bokashi, serta rasakan baunya. j. Lakukan pengayaan dan pisahkan yang halus dan yang kasar pada tempat tertentu.3. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan bokashi : a. Mencampur bahan organik. Lakukanlah secara merata, ini dapat dilakukan dengan cara menumpuk bahan mula dari bahan yang jumlahnya paling banyak sampai yang paling sedikit, kemudian diaduk dengan sekop samapi bercampur sepurna. b. Mecampur EM dan molases ( tetes ) kedelam bahan organik. Siramkan larutan dan tetes sedikit demi sedikit kedalam bahan organik sehingga kandungan air 30 – 40 %. Hal demikian bisa dilihat apabila adonan dikepal dengan tangan air tidak keluar, dan apabial kepalan dilepas maka adonan akan megar. c. Penyimpanan Adonan Bokashi. Setelah larutan dan bahan organik diaduk secara merata simpanlah adonan tersebut dalam karung goni atau langsung disimpan diubin dengan kondisi tidak terkena langsung sinar matahari dan tidak terlalu sering dibuka. d, Fermentasi bokashi. Proses fermentasi akan berjalan dengan baik apabila temperatur bokashi antara 35 – 55 derajat celcius. Apabila pada saat pemeriksaan temperatur bokashi melebihi 55 derajat celcius maka proses pembuatan bokashi tidak berjalan dengan baik sehingga mengakibatkan gagal. e. Tanda ukuran keberhasilan pembuatan bokashi. Adonan bokashi setelah difermentasikan 5 – 7 hari maka akan terlihat pertumbuhan jamur putih dan berbau khas. Bila berbahu tidak sedap atau berbau busuk berarti pembuatan bokashi gagal.4. Faktor – faktor yang mampengaruhi proses pembuatan bokashi : a. Jumlah EM yang digunakan. Semakin banyak EM semakin cepet proses Dekomposisi/fermentasinya pembuatan EM. Akan tetapi hal demikian kurang tidak efisian. b. Kelembapan. Keadaan air sangat mempengaruhi perombakan bahan organik oleh mikroba, c. Suhu Suhu yang dibutuhkan untuk keaktifan mikroba yang menguntungkan adalah antara 35 – 55 derajat celcius. d. Udara ( aerasi ) Pembuatan bokashi secara aerob lebih efisien dan kualitas lebih baik dibanding dengan secara anaerob . e. Kandungan bahan organik Bahan organik yang kandungan C/N rationya tinggi seperti kertas dan jerami lebih lama dan sulit terurai dibanding dengan kotoran ternak yang memiliki kadar C/N yang rendah. Oleh karena itu dalam pembuatan bokashi perlu ditambahkan kotoran ternak. f. Iklim. Di daerah panas seperti Indonesia pembuatan bokashi relatif lebih cepat dibanding daerah dingin. g. Besar kecilnya ukuran bahan organik. Semakin kecil bahan organik yang digunakan dalam pembuatan bokashi semakin cepat dan kualitasnya semakin baik . h. Kemasaman (pH) bokashi. Supaya mikroba dalam tanah bekerja dengan baik, pH dalam bokashi tidak asam perlu ditambahkan kapur/dolomit atau abu dapur.5. Bahan – bahan organik yang dapat digunakan dalam pembuatan bokashi. - Dalam pembuatan bokashi pupuk kandang dapat digunakan segala macam bahan organik sebagai berikut dedak padi, tepung jagung, dedak jagung, sekam padi, kulit kacang, jerami, ampas kelapa, rumput, serbuk gergaji, dan sisa–sisa hasil tanaman lainya, - Penggunaan dedak padi sangat dianjurkan sebagai bahan penting dalam pembuatan bokashi, karena mengandung gizi yang sangat baik ( sebagai stater ) bagi mikroorganisme, lebih baik lagi bila dicampur bahan – bahan organik yang mempunyai C/N racio rendah.6. Cara pembuatan bokashi. Adonan bokashi yang telah jadi ditempaatkan pada lantai semen, tutup dengan karung goni, atau sejenisnya, jaga supaya tidak kena air hujan, dalam kondisi aerobik, fermentasi bokashi berlangsung cepat 35 – 50 derajat celcius. Sumber Data : BPP Kec. Bungkal-Kab. Ponorogo