Di Indonesia, kedelai merupakan jenis kacang-kacangan yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas. Anekaragam kacang-kacangan dibudidayakan di Indonesia, namun belum ada yang dapat menggantikan kedudukan kedelai, baik dari segi jumlah konsumsi maupun jenis produk pangan yang dihasilkan. Komoditi kedelai sudah umum dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pembuatan tahu, tempe, kecap dan susu kedelai serta pakan ternak. Namun dewasa ini kedelai tidak hanya digunakan sebagai sumber protein, tetapi juga sebagai pangan fungsional yang dapat mencegah timbulnya penyakit-penyakit degeneratife, seperti jantung koroner dan hipertensi. Zat isoflavon yang ada pada kedelai ternyata berfungsi sebagai antioksidan. Dengan beragamnya penggunaan kedelai berdampak pada peningkatan kebutuhan komoditas ini. Untuk mencukupi kebutuhan kedelai nasional yang terus meningkat tersebut, maka selain dari sisi panen, maka sisi pasca panen menjadi sangat penting.Kedelai merupakan sumber protein dan lemak yang paling baik diantara kacang-kacangan. Biji kedelai mengandung protein 35-40%, lemak 18-22%, dan karbohidrat 30-35%. Pemanfaatan kedelai sangat luas, dari yang masih bentuk polong, kecambah, biji utuh, tepung, konsentrat, isolate protein tahu, susu maupun produk-produk fermentasi seperti tempe, kecap, tauco dan produk turunan lainya seperti soyghurt yang merupakan produk keturanan dari susu kedelai.Soyghurt atau yoghurt kedelai merupakan produk hasil fermentasi susu kedelai menggunakan biakan murni bakteri Streptococcus thermophillus dan Lactobacillus bulgaricus. Soyghurt merupakan modifikasi Yoghurt yang merupakan produk hasil fermentasi susu sapi menggunakan kedua bakteri tersebut, bentuknya seperti bubur. Proses pembuatan soyghurt adalah sbb1) PasteurisasiSusu kedelai dipasteurisasi (suhu 80-90ºC selama 30 menit) atau disterilisasi (suhu 100ºC, selama 20 menit) lalu ditambah gula sekitar 5%.2) Stabilisasi tekstur soyghurtUntuk menjaga kestabilan soyghurt dan agar tekstur lebih baik, dapat ditambahkan gelatin 0,5 – 1,5 %. 3) Variasi rasaVariasi rasa dapat dilakukan dengan penambahan essence (mocca, vanilla,strawberry, dll)Inokulasi dan inkubasiSetelah dingin lalu diinokulasi dengan starter L.bulgaricus dan S. thermopillus (1:1) sebanyak 5% dari volume susu kedelai. Inkubasi dilakukan pada suhu 45º C selama 3-4 jam atau pada suhu kamar selama 12 jam.Ada dua cara mendapatkan starter soyghurt, yaitu dari yoghurt yang belum dipasteurisasi dan dari bibit (biakan) murni yaitu L.bulgaricus dan S. thermopillus4) Soyghurt yang dihasilkan didinginkan pada suhu 2ºC atau dipasteurisasi pada suhu 65 ºC selama 30 menit.5) PengemasanPengemasan dapat dilakukan dengan plastik, cup, botol palstik ataupun botol kaca. Kemasan harus bersih, tahan panas (jika susu fermentasi yang telah dikemas akan dipasteurisasi/disterilisasi setelah proses fermentasi), dan dapat melindungi produk dari sinar matahari langsung. Untuk penyimpanan dalam jangka waktu yang lebih lama, kemasan yang sealnya baik lebih dianjurkan.Soyoghurt tanpa pengawet hanya bertahan 2 minggu dan kalau pakai pengawet alami bisa bertahan 3-4 bulan, tetapi tetap harus disimpan dalam chiller," (mesin pendingin)Sumber : 1)Pedoman Pengembangan Agroindustri Kedelai, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian,tahun 20122) Litbang Pertania3) http://ilmupangan.blogspot.com/2009/05/peluang-usaha-yoghurt.htmlPenulis : Marwati (Penyuluh Pertanian BPPSDMP-Kementan)