Loading...

Pemeliharaan Jaringan Irigasi Perdesaan untuk Efesiensi Sumber daya Air

Pemeliharaan Jaringan Irigasi Perdesaan untuk Efesiensi Sumber daya Air
Jaringan irigasi adalah saluran dan bangunan pelengkapnya merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk pengaturan air irigasi, yang mencakup penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan dan pembuangan air irigasi.Pemeliharaan Jaringan irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya. Pemeliharaan jaringan irigasi perdesaan menjadi kegiatan yang sangat penting untuk mengefesienkan pemanfaatan sumberdaya air dalam rangka meningkatkan produksi padi dan pendapatan petani. Pada hakekatnya pemeliharaan jaringan irigasi perdesaan adalah dalam rangka pengelolaan sumberdaya air perdesaan dan lingkungannya demi terwujudnya swasembada pangan khususnya beras. Jaringan irigasi yang keberadaannya di wilayah perdesaan dan berskala kecil yang terdiri dari bangunan penangkap air (bendung, bangunan pengambilan), saluran dan bangunan pelengkap lainnya dibangun dan dikelola oleh masyarakat desa atau pemerintah desa baik dengan atau tanpa bantuan pemerintah atau disebut dengan JIDES. Sedangkan jaringan irigasi tersier/ tingkat usaha tani (JITUT) adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang terdiri dari saluran tersier, saluran kwarter dan saluran pembuang, boks tersier, boks kwarter serta bangunan pelengkapnya pada jaringan irigasi pemerintah. Pendekatan keterpaduan yang menekankan pada keseimbangan ekosistem, khususnya dalam memanfaatkan sumber daya air dipengaruhi oleh dimensi lokasi, waktu, dan kualitas lingkungan seperti keadaan tanah, iklim dan musim (Rachman 2009). Sejalan dengan kondisi tersebut bahwa produksi pertanian di masa mendatang akan terus dipengaruhi oleh anomali dan ketidakpastian iklim yang berdampak terhadap gejolak pasokan air, terjadi kekeringan dan banjir yang menjadi ancaman bagi kegiatan usahatani. Untuk itu diperlukan upaya inovatif untuk menyiapkan sistem irigasi dengan pengelolaan sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan pembangunan pertanian di masa mendatang. Masalah irigasi pada umumnya terkait dengan upaya pemenuhan kebutuhan air untuk tanaman, dan tanaman padi lebih mendominasinya. Pengelolaan infrastruktur yang tertata dengan baik sangat diperlukan untuk terlaksananya multifungsi sektor pertanian, yaitu terwujudnya proses diversifikasi pertanian, meningkatnya fungsi konservasi sistem irigasi, dan terpeliharanya nilai-nilai budaya kearifan lokal dalam pengelolaan jaringan irigasi. Keterbatasan jaringan irigasi dan debit air akan berpengaruh pada luasan areal panen melalui indeks pertanaman. Indeks pertanaman (IP) padi bisa ditingkatkan apa bila jaringan irigasi terpelihara dengan baik dan debit air cukup saat diperlukan. Partisipasi dan peran serta masyarakat tani bersama kelompoknya/perkumpulan petani pemakai air (P3A) sangat dibutuhkan dalam melestarikan jaringan irigasi dan menjaga keberlanjutan sumberdaya air yang mengalir ke areal pertanaman agar setiap musim tanam padi debit air selalu tersedia. Saluran tidak berfungsi atau tidak baik (rusak) apa bila : (a) sawah yang terairi kurang dari 50% (lima puluh persen); (b) saluran dalam kondisi rusak berat jika terjadi penyempitan sehingga kapasitas debit saluran kurang dari 70% (tujuh puluh persen) debit maksimum; (c) tanggul saluran berpotensi runtuh; (d) tanggul saluran banyak bocoran yang berarti.Pemeliharaan jaringan irigasi akan memberikan manfaat positif pada petani, semakin luasnya jaringan irigasi yang dibangun dengan kerangka pengelolaannya berbasis masyarakat tani menentukan kekuatan eksistensinya. Dengan terjaminnya pasokan air irigasi untuk usahatani padi, maka diharapkan para petani semakin termotivasi mengadopsi teknologi padi sesuai rekomendasi. Berdasarkan hal tersebut, maka bisa diambil hipotesisnya adalah semakin terjaminnya pasokan air irigasi, semakin respon petani mengadopsi teknologi budidaya padi keberhasilan usahatani dan swasembada. Ruslia Atamaja (rusliatmaja.atmaja326@gmail.com)Sumber : Puslitbang Tanaman Pangan dan Ditjen PSP 2014