Teh diperoleh dari pengolahan daun tanaman teh (Camellia sinensis L) dari familia Theaceae. Tanaman ini diperkirakan berasal dari daerah pegunungan Himalaya dan daerah-daerah pegunungan yang berbatasan dengan Republik Rakyat Cina, India, dan Burma. Tanaman ini dapat tumbuh subur di daerah tropik dan subtropik dengan menuntut cukup sinar matahari dan hujan sepanjang tahun. Tanaman teh dapat tumbuh sampai sekitar 6-9 m tinggi. Di perkebunan-perkebunan tanaman teh dipertahankan hanya sampai sekitar 1 m tinggi dengan pemangkasan secara berkala. Ini dilakukan untuk memudahkan pemetikan daun dan agar diperoleh tunas-tunas daun teh yang cukup banyak.Tanaman teh dapat diperbanyak secara generatif maupun vegetatif. Pada perbanyakan secara generatif bahan tanaman berasal dari biji, sedangkan perbanyakan vegetatif bahan tanaman berasal dari setek berupa klon.Memperbanyak bahan tanaman secara vegetatif dengan setek merupakan salah satu cara untuk mempertahankan sifat-sifat baik tanaman induk (klon), karena dengan perbanyakan vegetatif tidak terjadi perubahan sifat genotif.Pembibitan teh dengan setek merupakan cara yang paling cepat untuk memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah yang banyak, dan jenis klon yang ditentukan dapat dipastikan sifat keunggulannya sama dengan pohon induknya.Untuk memperoleh bahan setek dari suatu klon anjuran, perlu di tanam klon tertentu yang kelak akan di ambil ranting-rantingnya sebagai bahan pembuatan setek. Kebun induk tersebut harus terjamin kemurniannya, mempunyai potensi produksi dan kualitas yang tinggi sesuai dengan jenis klonnya. Setek teh di ambil dari kebun induk yang dipelihara secara khusus. Mutu bahan setek tidak dipengaruhi oleh umur pohon induk, tetapi sangat dipengaruhi oleh kesehatan dan kesuburan pertumbuhan pohon, teknik pengambilan, pengemasan, dan pengangkutan bahan setek tersebut.Untuk mendapatkan bahan setek yang baik, pohon induk setek yang merupakan klon anjuran tertentu misalnya TRI 2024, yang di tanam di kebun induk, harus mendapat pemeliharaan yang optimal. Dari kebun induk yang dipelihara dengan baik akan diperoleh bahan setek yang bermutu tinggi.Pemeliharaan pohon induk di kebun induk terdiri dari penyiangan, pemupukan, pemangkasan, serta pengendalian hama dan penyakit.Penyiangan. Penyiangan di kebun induk dimaksudkan untuk menghindarkan dari gulma terhadap pohon induk. Penyiangan dilakukan secara manual (di sabit, di kored) atau secara kimiawi dengan di semprot herbisida. Kebun induk harus di jaga agar tetap bersih dan tanah di sekitar tanaman tetap gembur.Pemupukan. Pemupukan bertujuan menjaga agar tanaman dapat tumbuh dengan subur dan sehat, sehingga dapat menghasilkan ranting setek yang banyak dan baik mutunya. Pemupukan pohon induk klon dilakukan sebanyak empat kali dalam sebulan dengan cara membenamkan pupuk di sekitar pohon. Dosis pupuk yang diberikan untuk kebun induk dewasa yaitu pada tanah Latosol : 90 g Urea + 15 g TSP + 45 g KCl/phn/th, sedang tanah Andosol : 90 g Urea + 18 g TSP + 30 g KC;/phn/th, dan untuk tanaman muda (berumur kurang dari 2 tahun) diberikan antara ½ sampai 2/3 dosis. Untuk menjaga pertumbuhan tetap baik , diberikan juga pemupukan daun yang deberikan setiap minggu dengan pupuk daun lengkap, dimulai 2 bulan setelah pemangkasan. Penggunaan pupuk daun dapat diberikan bersama-sama fungisida maupun insektisida bilamana diperlukan. Sebagai pupuk daun dapat digunakan Bayfolan, Wuxal dengan konsentrasi 0,3 %.Pemangkasan. Untuk dapat menghasilkan ranting-ranting peko yang merupakan bahan setek, pohon induk perlu di pangkas secara teratur. Pemangkasan dilakukan empat bulan sebelum saat pembibitan dimulai. Cara pemangkasan yang dilakukan adalah pemangkasan setengah bersih atau pangkasan jambul/ajir dengan tinggi 50 cm – 55 cm dari permukaan tanah. Daur pangkas adalah 1 – 1 ½ tahun atau disesuaikan dengan kebutuhan. Setelah di pangkas, perdu dibiarkan bertunas dan ranting setek mulai dapat di ambil sekitar empat bulan setelah pemangkasan.Pengendalian Hama dan Penyakit. Pengendalian hama dan penyakit di kebun induk setek lebih bersifat pencegahan (preventif), sehingga dapat diperoleh bahan setek yang baik, terbebas dari kerusakan hama dan penyakit.Unruk mencegah penyakit blister blight (cacar daun), dapat dilakukan penyemprotan Dithane M45, Manzate, atau Vandozep dengan konsentrasi 0,2 %. Untuk pencegahan terhadap hama, dapat digunakan insektisida yang sesuai, sebaiknya dari golongan insektisida yang sistemik.Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP)Alamat Email : harnati_r@yahoo.comSumber Bacaan :1. Setyamidjaja, Djoehana. 2000. Teh Budidaya dan Pengolahan Pascapanen. Kanisius. Yogyakarta.2. http://inditagussetiawan.blogspot.com/2011/12/budidaya-dan-produksi-tanaman-teh.html3. Sumber gambar berasal dari antohalim.wordpress.com.