Kelapa sawit (Elaeis guenensis) merupakan komoditas strategis terutama sebagai bahan utama minyak nabati yang selalu dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Selain itu kelapa sawit juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar utama energy alternatif. Pengolahan minyak kelapa sawit dapat menghasilkan bioenergi yang nilai kalorinya tidak kalah dengan energy fosil (minyak bumi dan batubara). Saat ini Indonesia telah menjadi produsen CPO No 1 dunia, sudah berhasil mengalahkan nean Thailand.gara penghasil kelapa sawit lainnya seperti Malaysia. Seiring dengan prospeknya yang semakin menjanjikan, perkebunan kelapa sawit semakin bertambah dari tahun ke tahun. Komposisi para pelaku usaha perkebunan sawit Indonesia terdiri atas perusahaan perkebunan besar (50%), perkebunan negara (20%) dan perkebunan rakyat 30%. Mengingat 30% pelaku usaha perkebunan sawit adalah rakyat, maka perlu diberikan pemahaman tentang hal-hal penting terkait dengan pemeliharaan kelapa sawit khususnya bagi petani adalah bagaimana memelihara tanaman sawit pada saat tanaman belum menghasilkan (TBM). Tujuan pemeliharaan TBM adalah agar tanaman tumbuh cepat, sehat dan dapat memasuki periode tanaman menghasilkan (TM) lebih awal dengan biaya pemeliharaan yang mudah dan murah. Pemeliharaan. Kegiatan pemeliharaan TBM kelapa sawitPemeliharaan TBM kelapa sawit meliputi kegiatan penyulaman, penyiangan, pengendalian OPT, pemupukan, penunasan dan kastrasi.Penyulaman, dilakukan dengan mengganti tanaman kelapa sawit yang jelek dengan mengganti dengan tanaman yang baru dari pembibitan yang sudah disiapkan sebelumnya. Bibit yang digunakan sebaiknya memiliki umur dan jenis yang sama dengan tanaman yang digantiagar diperoleh tanaman dengan pertumbuhan yang seragam. Yang perlu diperhatikan dalam penyulaman adalah: a) menggali lubang tanam yang pohonnya telah mati dengan ukuran lubang atasaa; 60x60 cm, kedalaman lubang 50cm dan ukuran lubang bawah 40x40 cm; b) biar bibit sulam tumbuh dengan baik,sebelum ditanam diberi pupuk RP (Rock Phosphate) 500 gr/bibit/lubang tanam; dan c) menyediakan bibit minimum 5% tiap tahun penanaman.Penyiangan, dilakukan untuk mengendalikan lalang, gulma dan anak kayu. Penyiangan dapat menggunakan herbisida Glyfosfat pada konsentrasi 0,5% dengan dosis 6-10 ml per ha per rotasi. Berdasarkan sasaran, penyiangan dibedakan menjadi tiga yaitu: a) penyiangan gawangan dengan sasaran untuk mengendalikan pertumbuhan tanaman kacangan (penutup tanah); b) penyiangan bokoran dengan sasaran daera sekitar tanaman; dan c) penyiangan jalan buah/pikul dengan sasaran untuk memelihara atau merawat jalan jalan buah agar transportasi pengangkutan buah sawit tidakterganggu, Pengendalian OPT, jenis OPT pengganggu TBM sawit antara lain: a) hama terdiri dari serangga, tikus, babi, landak, tupai dan kera); b) penyakit meliputi penyakit busuk tajuk (crown disease) dan penyakit busuk akar (blast disease) yang disebabkan oleh jamur Phytium sp. Cara pengendaliannya antara lain dengan cara: a) mekanis yaitu dengan cara mengumpulkan hama dan memusnahkan ; b) biologis yaitu dengan menggunakan musuh alami hama atau penyakit yang menyerang misalnya menggunakan parasit atau predatorpemangsa; c) pemuliaan tanaman yaitu dengan menanam tanaman yang tahan serangan hama dan penyakit; d) kimia yaitu dengan menggunakan insektisida. Pemupukan, dilakukan dengan tujuan untuk menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah Dengan pemupukan dapat mensuplai kebutuhan unsure hara yang tidak tersedia dalam tanah. Mengingat biaya pemupukan cukup mahal, maka pemupukan harus dilakukan secara efektif dan efisien dengan menerapkan prinsip empat tepat yaitu tepat jenis, tepat cara, tepat waktu dan tepat jumlah. Cara pemupukan dilakukan dengan: a) pemberian pertama berupa pupuk ZA (pada umur satu bulan) dilakukan dengan cara ditabur secara merata dari pangkal pohon hingga 30 cm dari pangkal pohon; b) pupuk ZA, Rock Phosphate (RP), MOP dan Kieserite (Kies) diaplikasikan dengan cara ditabur secara merata diseluruh bagian dari pangkal pohon hingga sejajar dengantajuk terluar: dan c) pupuk tunggal tidak boleh dicampur, melainkanditebar secara berurutan (kecuali pupuk RP/TSP), Jarak penempatan pupuk dari pohon untuk pupuk N, P, K danMg masing-masing 40 cm, 75 cm, 125 cm dan 175 cm. Dosis pupuk yang diberikan per satuan luas per tahun dalam satuan kilogram sebagai berikut: 1) Tahap I (TBM I umur 1 tahun) berupa: Urea 1,35, RP 1,75, MOP 1,00 dan Kies 0,7; 2) Tahap II (TBM II umur 2) berupa: Urea 1,50, RP 1,00, MOP 1,75 dan Kies 1,5; 3) Tahap III (TBM III umur 3 tahun) berupa: Urea 1,50, RP 1,00, MOP 1,75 dan Kies 1,50; Tahap IV pada umur 4 tahun. sudah masuk dalam tanaman menghasilkan (TM), Penunasan, penuasan merupakan kegiatan membuang daun tua kelapa sawit yang tidak bermanfaat khususnya daun kelapa sawit mulai tidak hijau. Ada tiga jenis penunasan yaitu penunasan pendahuluan (umur 6 bulan sebelum TM), penunasan periodic (saat TM) dan penunasan panen (saat panen).Kastrasi, merupakan kegiatan membuang bunga muda yang tumbuh di ketiak daun, baik bunga jantan maupun bunga betina, Kegiatan ini dilakukan tanpa melukai batang dan pangkal pelepah daun. Kastrasi dimulai dari bulan ke 14 sesudah penanaman (25% dari tanaman telah berbunga) dan dilaksanakan tiap bulan. Pembuangan bunga jantan dikerjakan hingga tanaman berumur 28 bulan, sedangkan bunga betina hingga berumur 30 bulan. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Sunarko, Budi Daya dan Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit dengan Sistim Kemitraan, 2009 ; 2) Yusnu Iman Nurhakim, Perkebunan Kelapa Sawit Cepat Panen, 2014;.dan 3) Dihimpun dari beberapa sumber