Benih padi merupakan salah satu sarana budidaya padi yang mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam upaya peningkatan produksi dan mutu padi. Kelangkaan benih unggul seringkali dirasakan ditingkat petani, padahal proses produksi bisa dilakukan sendiri dihamparan sawahnya. Dalam budidaya tanaman padi untuk produksi benih perlu diperhatikan pada kegiatan pemeliharaan yang meliputi meliputi pemupukan, penyiangan, dan pengendalian OPT. PemupukanPemupukan dimaksudkan untuk menambah penyediaan hara dalam tanah sehingga mencukupi kebutuhan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik. Agar efisien, dosis/takaran pupuk hendaknya disesuaikan dengan kondisi lahan setempat. Untuk pupuk SP36 dan KCI, takarannya disesuaikan dengan ketersediaan P dan K dalam tanah yang berdasarkan hasil uji tanah sawah dengan menggunakan perangat uji tanah sawah (PUTS) yang dapat ditanyakan kepada penyuluh pertanian. Sedangkan untuk pupuk urea, takaran dan waktu pemberiannya disesuaikan dengan kebutuhan unsur N pada tanaman dengan menggunakan teknologi Bagan Warna Daun (BWD). Pengamatan hara N pada tanaman padi dengan menggunakan BWD sebagai berikut: 1) Lahan sawah diberikan pupuk dasar berupa Urea sebanyak 50-75 kg/ha diberikan sebelum 14 hari setelah tanam (HST); 2) Mulai 25-28 HST sampai umur 50 HST lakukan pengukuran dengan menggunakan BWD setiap 7-10 hari sekali. Bila hasil pengukuran di bawah 4, maka berikan Urea sebanyak: a) 50-75 kg/ha untuk daerah hasil rendah; b) 75-100 kg/ha untuk daerah hasil tinggi, atau c) 100 kg/ha untuk padi tipe baru (PTB) dan pada fase antara keluar malai sampai 10% berbunga, pengukuran pada daun PTB berada pada skala 4 atau kurang, berikan Urea 50 kg/ha. Pemberian pupuk P seluruhnya diberikan bersamaan dengan pemberian pupuk dasar Urea. Pemberian pupuk K, bila takarannya rendah, seluruhnya diberikan bersamaan dengan pemberian pupuk dasar, tetapi bila takaran pupuk K tinggi (> 100 kg KCl/ha) maka 50% diberikan sebagai pupuk dasar dan sisanya saat primordia bunga. Apabila cara penggunaan PUTS dan BWD tersebut di atas tidak memungkinkan, maka dapat digunakan anjuran umum pemupukan sebagai berikut: 120-240 kg urea, 100-120 kg SP36, dan 100-150 kg KCl per hektar. Waktu pemberian sebagai berikut: 1) Pupuk dasar diberikan pada saat tanam, yaitu: 33% urea (40-80 kg/ha) dan 100% SP36 (100-120 kg/ha); 2) Pupuk susulan I diberikan pada tanaman berumur 4 minggu setelah tanam (MST), yaitu: 33 % urea (40-80 kg/ha) dan 50% KCl (50-75 kg/ha); 3) Pupuk susulan II pada umur tanaman 7 MST, yaitu: 33% urea ( 40-80 kg/ha) dan 50 % KCl (50- 75 kg/ha). Pada musim hujan, takaran pupuk dianjurkan lebih rendah dari pada musim kemarau. Penyiangan Penyiangan adalah kegiatan mencabut gulma berupa rumput dan tanaman lain yang mengganggu kehitupan tanaman padi. Penyiangan dilakukan secara intensif/terus-menerus paling sedikit dua atau tiga kali tergantung pada keadaan gulma, agar tanaman padi tidak terganggu oleh gulma. Penyiangan menggunakan landak atau gasrok dan dapat dilakukan sebelum pemupukan susulan pertama atau kedua. Hal ini dimaksudkan agar pupuk yang diberikan hanya diserap oleh tanaman padi, karena gulma sudah dikendalikan. Pengendalian OPT Organisme pengganggu tanaman (OPT) merupakan hama dan penyakit yang dapat merusak tanaman sehingga tidak mampu memproduksi hasil seperti diharapkan. Saat ini hama wereng coklat dan penyakit tungro merupakan OPT paling utama, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar berhasil dalam budidaya padi untuk produksi benih, yaitu hindari budidaya di daerah endemis hama wereng coklat dan penyakit tungro. Bila harus dilakukan di daerah endemis tersebut, terapkan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu dengan pengamatan kepadatan populasi wereng dan keberadaan tungro secara intensif/terus-menerus. Kemudian perhatikan juga serangan tikus sejak dini dan lakukan pengamatan penerbangan ngengat penggerek batang. Pengamatan populasi wereng coklat dilakukan pada 20 rumpun tanaman padi secara diagonal. Hitung jumlah wereng coklat dan wereng punggung putih, predator (laba-laba, Opionea, Paederusdan Coccinella), dan kepik Cyrtorhinus. Hasil pengamatan dijabarkan ke dalam rumus berikut: A – (5B + 2C)------------------ = D (jumlah wereng terkoreksi) 20 A = jumlah wereng coklat + wereng punggung putih per 20 rumpun tanamanB = jumlah predator per 20 rumpun tanamanC = jumlah kepik Cyrtorhinus per 20 rumpun tanaman. Apabila wereng terkoreksi (nilai D) lebih dari lima ekor pada saat tanaman berumur kurang dari 40 HST atau nilai D lebih dari 20 ekor pada saat tanaman berumur 40 HST, pengendalian dapat menggunakan insektisida. Tetapi apabila nilai wereng terkoreksi (nilai D) kurang dari lima ekor pada saat tanaman berumur sebelum 40 HST atau nilai D kurang dari 20 ekor pada saat tanaman berumur di atas 40 HST, pengendalian tidak perlu menggunakan insektisida, tetapi pengamatan tetap harus dilanjutkan. Insektisida yang manjur mengendalikan hama wereng coklat dan wereng punggung putih diantaranya adalah fipronil dan imidakloprid. Insektisida buprofezin dapat digunakan untuk pengendalian wereng coklat populasi generasi 1 atau 2, sedangkan fipronil dan imidakloprid untuk wereng coklat generasi 1,2,3 dan 4. Kemudian untuk pengamatan terhadap penyakit tungro, dilakukan dengan pengamatan terhadap hama wereng hijau di pesemaian dengan cara menjaring serangga sebanyak 10 ayunan untuk evaluasi populasi wereng hijau. Selain itu, juga diadakan uji yodium dari 20 daun padi yang diambil dari lahan yang sedang dievaluasi. Apabila hasil perkalian antara jumlah wereng hijau dengan persentase daun terinfeksi sama atau lebih dari 75, maka pertanaman dalam situasi terancam tungro. Langkah yang perlu diambil adalah pengendalian dengan menggunakan antifi dan bahan aktif imidakloprid dan atau tiametoksan. Di pesemaian atau saat tanaman berumur 1 MST gunakan tiametoksan dengan dosis 2,5 g/ha atau 0,50 g imidakloprid/ha untuk menghambat penularan. Apabila tidak mampu mengamati populasi dan tanaman terinfeksi di pesemaian, lakukan pengamatan gejala tungro saat tanaman berumur 3 MST. Insektisida digunakan apabila terdapat lima gejala dari 10.000 rumpun tanaman saat berumur 2 MST atau dua gejala dari 1.000 rumpun tanaman saat berumur 3 MST. Insektisida yang dapat digunakan antara lain imidakloprid, tiametoksan, etofenproks dan karbofuran. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penyuluh pertanian dalam mendampingi petani untuk mencapai swasembada padi tahun 2017 (Susilo Astuti Handayani – Penyuluh Pertanian Pusluhtan). Sumber Informasi:1. Teknik Produksi Benih Padi. Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi. 2014.2. Petunjuk Teknis Penangkaran Benih Padi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. 2009.3. Anonim. Penangkar Benih Padi Bermutu. Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Padi Indonesia. 2009.