Loading...

PEMELIHARAAN TANAMAN SERAI WANGI

PEMELIHARAAN TANAMAN SERAI WANGI
Penyulaman pada tanaman serai wangi dilakukan 2 – 3 minggu HST. Penyulaman perlu dilakukan ketika tanaman layu, mati atau pertumbuhan kurang sempurna. Selanjutnya dilakukan pembersihan tanaman dari rumput atau gulma sebaiknya dilakukan setiap selesai panen. Selain itu batang serai yang telah kering juga dibersihkan. Penyiangan juga perlu dilakukan pada awal maupun akhir musim penghujan karena pada waktu itu banyak gulma yang tumbuh. Tidak lupa dilakukan pembumbunan yang bertujuan untuk memperbaiki aerasi dan drainase tanah, selain itu juga untuk mencegah air menggenang.Pemupukan dilakukan dengan dosis pemupukan per ha per tahun adalah 150-300 kg urea, 25-50 kg TSP dan 125-250 kg KCl yang diberikan berturut-turut sebagai berikut:Tahap I diberikan 3 kali yaitu: umur 1 bulan (37,5 – 75 kg Urea; 31,25 – 62,5 kg KCl; 20-25 kg TSP), umur 6 bulan (37,5 – 75 kg Urea; 31,25 – 62,5 kg KCl) dan umur 9 bulan (75-150 kg Urea; 62,5-125 kg KCl).Tahap II diberikan 2 kali yaitu: umur 12 bulan (75-150 kg Urea; 62,5-125 kg KCl; 25-50 kg TSP) dan pada tahun ke 3 dan ke 4.Tanah untuk perkebunan serai harus bersih dan bebas dari rumput-rumput liar karena dapat menghambat pertumbuhan tanaman serai dan kesuburan tanah itu sendiri. Disamping itu rumpun serai wangi dapat diserang oleh jamur atau cendawan parasit. Cendawan ini dapat memasuki jaringan pelepah tanaman serai yang akhirnya dapat mempengaruhi bagian daun yang dapat menghasilkan minyak. Tingkat dan frekuensi ancaman serangan hama dan penyakit terhadap tanaman serai wangi relatif rendah. Kadang-kadang saja dijumpai ulat daun namun tidak banyak merugikan.Masa produktif tanaman serai wangi yaitu 4 tahun. Yang ditandai dengan berkurangnya rendemen minyak pada daun. Oleh karena itu, perlu dilakukan peremajaan kembali. Peremajaan dilakukan dengan cara menanam bibit pada sela-sela atau tengah barisan dari tanaman lama. Dan dilakukan pada akhir tahun ke-3. Pada akhir tahun ke-4 tanaman baru telah berumur 1 tahun lalu tanaman lama dibongkar.Serai wangi yang siap dipanen memiliki ciri-ciri: memiliki 6-8 lembar daun tua, daun berwarna hijau tua, daun beraroma wangi, daun lebih lentur, jika bagian bawah daun ditekuk dengan perlahan akan terlihat titik-titik minyak keluar dari pori-pori daun. Tahapan pemanenan serai wangi sebagai berikut: pemanenan 1 dilakukan pada saat tanaman berumur 7-8 bulan dan pemanenan 2 saat umur 10-12 bulan. Setelah tahun ke-2, tanaman memasuki tanaman produktif sehingga dapat dipanen setiap 3-4 bulan sekali. Penentuan waktu panen memegang kunci dalam budidaya ini. Panen yang terlambat disamping menyebabkan kadar geraniol dan sitronelal berkurang, juga menyebabkan sebagian daun layu mengering, sehingga sebagian minyak hilang. Dilain pihak, panen yang terlalu dini, justru dapat merusak kondisi tanaman dan minyaknya masih sedikit. Serai wangi baik dipanen pada pagi hari jam 06.00-10.00 WIB dan sore hari jam 15.00-18.00 dengan menggunakan sabit dan jarak pemangkasan sekitar 3-5 cm di atas pangkal daun dan hasil panen ditumpuk di dekat rumpun tanaman, dan dikemas dalam bentuk gulungan.Tanaman serai wangi mempunyai beberapa kegunaan, salah satunya adalah sebagai vegetasi konservasi yaitu potensial untuk mencegah terjadinya erosi tanah dan merehabilitasi lahan-lahan kritis. Budidaya serai wangi tidak banyak memerlukan persyaratan dan dapat ditanam pada tanah yang kurang subur. Selain itu tanaman ini memiliki akar serabut yang banyak sehingga tanaman ini juga potensial untuk menjaga erosi dan merehabilitasi lahan-lahan kritis. Pemeliharaan tanaman serai sebagai tanaman konservasi ini meliputi pembersihan dan penggemburan ring dan pemupukan yang biasa dilakukan setiap selesai panen.Pengaruh tanaman serai wangi dan pengelolaannnya terhadap erosi tidak dapat di evaluasi secara terpisah karena pengaruhnya lebih ditentukan apabila keduanya dikombinasikan. Tanaman yang sama dapat ditanam secara terus menerus atau dapat juga digilir atau tumpangsari dengan tanaman lain. Tujuan utama konservasi tanah disini adalah untuk mendapatkan tingkat keberlanjutan produksi lahan dengan menjaga laju kehilangan tanah tetap di bawah ambang batas yang diperkenankan, yang secara teoritis dapat dikatakan bahwa laju erosi harus lebih kecil atau sama dengan laju pembentukan tanah. Erosi merupakan proses alam yang sama sekali tidak dapat dihindari, khususnya untuk lahan pertanian, maka yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi laju erosi.Sisa-sisa panen tanaman serai dapat ditebar ke permukaan tanah, dicampurkan dekat permukaan tanah, atau dibajak dan dibenamkan dan dapat berfungi sebagai mulsa atau sebagai pupuk organik. Efektivitas pengelolaan sisa sisa tanaman ini dalam mengontrol erosi akan tergantung pada banyaknya sisa tanaman yang tersedia. Pemanfaatan sisa sisa panen sebagai sebagai pupuk juga telah dilakukan sebagian petani di beberapa daerah sejak jaman dulu. Sisa sisa panen yang dibiarkan atau ditinggalkan di lahan pertanian mempunyai banyak fungsi dalam menunjang usaha tani, diantaranya adalah sebagai mulsa yang dapat menghindarkan pengrusakan permukaan tanah oleh energi hujan, mempertahankan kelembaban tanah mengurangi penguapan, sisa panen lambat laun akan terdekomposisi terjadi mineralisasi yaitu perubahan bentuk organik menjadi anorganik sehingga unsur hara yang dilepaskan akan menjadi tersedia untuk tanaman. Disamping itu asam asam organik yang dihasilkan dapat berfungsi sebagai bahan pembenah tanah.Upaya perbaikan pola tanam usahatani yang diarahkan pada komoditas yang mempunyai nilai konservasi dengan harapan selain dapat meningkatkan pendapatan juga ada jaminan stabilitas produksi, sehingga upaya konservasi tanah dapat dilakukan oleh petani. Pola usaha tani konservasi yang memperhatikan lingkungan dengan adanya tanaman lorong dan pembentukan guludan permanen akan dapat menekan laju erosi permukaan. Pengembangan serai wangi sebagai usaha pertanian konservasi melalui teknik konservasi vegetatif dengan sistem budidaya lorong.Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP)Alamat Email : harnati_r@yahoo.comSumber Bacaan :1. Dahrul. 2011. Budidaya Tanaman Serai. http://agrocultural.blogspot.com. 2. Damanik, S. 2006. Pengembangan Usaha Pertanian Konservasi Tanaman Akar Wangi (Studi Kasus DAS Cimanuk Hulu, Kabupaten Garut). http://repository.ipb.ac.id. 3. Wicak. 2010.Tanaman Konservasi. http://petanitangguh.blogspot.com.