PEMETAAN WILAYAH DALAM PEMBENTUKAN KAWASAN Dalam rangka menjamin ketahanan dan kemandiran pangan serta menghadapi era perdagangan bebas, maka diperlukan pengawalan dan pendampingan terpadu dalam pelaksanaan kegiatan peningkatan produksi serta produktivitas komoditas pangan strategis ini merupakan proses pemberdayaan petani agar mampu menerapkan berbagai inovasi teknologi dan nantinya petani bisa mandiri. Peran penyuluh sebagai lini terdepan dituntut untuk profesional guna meningkatkan pengetahuan ketrampilan dan sikap positif petani serta inovatif mampu menggali potensi dan peluang yang ada. Selain itu petani yang tergabung dalam kelompok tani juga memegang peranan penting karena mempunyai wilayah atau hamparan yang jelas, tetapi didalam hamparan areal kelompok belum tentu mereka menjadi anggota kelompok tani yang bersangkutan, secara umum sejarah terbentuknya kelompok terkadang atas dasar domisili bukan atas dasar lahan sehingga ini manjadi kendala dalam kegiatan atau program kawasan, maka diperlukan suatu rancangan yang matang yaitu melalui pendekatan kawasan di tingkat wilayah binaan guna meningkatkan efektitas kegiatan, efisiensi biaya dan mendorong keberlanjutan kawasan komoditas sesuai potensi lokasi wilayah. Melalui pengembangan kawasan diharapkan akan terwujud pelayanan pembangunan yang lebih bersifat partisipatif dan efisien. Proses pengembangan kawasan wilayah binaan diawali dengan mengadakan rembug tani ditingkat wilayah binaan, membuat kesepakatan setiap kelompok tani pada tahun pertama dengan luasan 5 ha setiap kelompok dan pada tahun kedua ditambah 5 ha dan seterusnya sampai luas lahan kelompok habis terbagi dalam kawasan selanjutnya pada luasan 5 ha di tahun pertama kelompok membuat mapping wilayah bersama dengan penyuluh pendamping ke lahan/lokasi yang direncanakan untuk mendata nama pemilik lahan, luas lahan, jenis tanaman, sistem tanam dan lain sebagaimana yang berkaitan dengan apa yang ada di luasan 5 (lima) ha tersebut. Dari hasil mapping kawasan dituangkan dalam gambar sketsa kasar, selanjut dibuat denah lengkap tentang gambaran lahan luasan 5 ha tersebut, selanjutnya untuk melengkapi gambar yang sudah ada dengan menggunakan google maps yang ada pada fasilitas handphone juga bisa ditentukan dengan titik koordinat lokasi kawasan. Dari hasil mapping disosialisasikan ke anggota dalam acara pertemuan atau rembugtani ditingkat kelompok masing- masing sambil menggali permasalah yang di alami masing- masing anggota kelompok tani. Setelah semua permasalahan dan potensi yang ada maka akan ditemukan skala prioritas teknologi apa yang aan digunakan dalam satu kawasan 5 ha, bisa berupa kawasan jajarlegowo, padi sehat , pajale, mekanisasi, hortikultura tergantung dari kesepakatan anggota kawasan. Selanjut dibentuk kepengurusan dalam satu kawasan 5 ha ketua kawasan untuk mengkoordinir anggota dalam satu kawasan, sehingga bisa diharapkan dalam satu kawasan dikelola satu menejemen , satu teknologi, satu varietas. Dengan dibentuknya kawasan 5 ha setiap kelompok nantinya bisa dilakukan evaluasi dampak penyuluhan secara terukur, misalnya dalam hamparan 5 ha di tahun pertama musim tanam pertama jumlah anggota yang terdaftar sejumlah 15 orang , pada tahun pertama musim tanam kedua berjumlah 18 orang, maka akan didapat prosentase 18-15 = 3 orang , 3/15x100% = 20% begitu juga dapat di ketahui mengenai luas kawasan secara otomatis juga akan bertambah begitu seterusnya