Cara budidaya atau komponen-komponen teknologi dalam budidaya dimaksudkan untuk memodifikasi atau menyesuaikan diri sedemikian rupa terhadap lingkungan tumbuh, sehingga diperoleh pertumbuhan dan hasil yang optimal. Oleh karena kondisi lingkungan dan varietas yang digunakan juga berbeda antar lokasi, maka cara budidaya perlu disesuaikan. Permasalahan dalam peningkatan hasil, sebagian besar karena tidak tepatnya penerapan komponen teknologi, termasuk varietas yang ditanam. Untuk pencapaian hasil maksimal diperlukan ketepatan pemilihan komponen-komponen teknologi berikut ini. Pesemaian KotakMenyiapkan bibit sehat yang siap menghadapi lingkungan lahan dengan berbagai kendalanya. Akar tanaman tidak boleh rusak sewaktu dicabut untuk ditanam pindah ke lapang. Buat persemaian khusus, yang medianya merupakan campuran tanah, bahan organik matang (kompos), dan abu sekam dengan perbandingan bobot 70%, 20-25%, dan 5-10%. Kotak-kotak kecil terbuat dari anyaman kayu atau nampan dapat digunakan sebagai tempat persemaian dan dapat disimpan di dalam atau di samping rumah agar perawatannya dapat lebih intensif. Pengolahan TanahPengolahan tanah untuk menyediakan media yang baik bagi perkembangan akar, sehingga air dan hara dapat diserap dan disalurkan ke tanaman secara maksimal. Pengolahan tanah juga untuk mematikan gulma, meratakan kesuburan tanah dan permukaan tanah. Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan traktor atau ternak atau cangkul dan sejenisnya. TanamTanam yang diatur mengikuti pola tertentu pada sebidang lahan seperti jarak tanam sama (tegel), jajar legowo, dan sebar/tabur benih langsung (tabela) bertujuan agar pertumbuhan pertanaman optimal, memanfaatkan ruang dengan sebaik mungkin, sehingga tajuk dapat menangkap sinar radiasi surya seefektif mungkin dan akar dapat menyerap hara dan air dari dalam tanah semaksimal mungkin. Prinsip dalam menetapkan jarak tanam adalah: (1) memberikan pertumbuhan individu tanaman optimal dan (2) populasi tanaman diatur optimal, sehingga persatuan luas lahan akan dihasilkan produk (gabah) yang maksimal. Tanam Jarak Sama (Tegel)Penanaman bibit muda atau berumur 10-15 hari setelah sebar dilakukan dengan cara tanam pindah, menggunakan caplak (sistem tegel) dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm atau 18 cm x 18 cm. Tanam Jajar Legowo Pola khas jajar legowo adalah pola berselang-seling antara dua atau lebih (biasanya dua atau empat) baris tanaman padi dan satu baris kosong. Baris tanaman (dua atau lebih) dan baris kosong (setengah lebar di kanan dan di kirinya) disebut satu unit legowo. Bila terdapat dua baris tanam per unit legowo maka disebut 2:1, kalau empat baris tanam per unit legowo disebut legowo 4:1, dan seterusnya. Maksud tanam jajar legowo adalah (1) baris tanaman pinggir mendapatkan lebih banyak sinar matahari sehingga menerima "efek pinggir" yang umumnya menghasilkan gabah lebih tinggi, (2) adanya baris kosong di antara unit legowo akan memudahlkan penyiangan, pemupukan, dan penyemprotan hama, penyakit dan gulma, (3) adanya parit di antara unit legowo (apabila dibuat) dapat sebagai perangkap keong mas atau merupakan saluran pembuangan pencucian Fe. Pemberian Pupuk Penetapan takaran pupuk berdasarkan status hara tanah dan kebutuhan hara tanaman merupakan perkembangan dari cara yang hanya mempertimbangkan status hara tanah. Pengendalian GulmaHerbisida pratumbuh (seperti Raft 80 WP) dapat digunakan untuk mengendalikan gulma. Herbisida ini diaplikasikan pada saat tanaman berumur 5 hari setelah tanam (HST). Selanjutnya lakukan satu kali penyiangan dengan tangan pada saat tanaman berumur 21 HST, dan diikuti dengan penyiangan dengan landak (gasrok) sebanyak 1-3 kali pada saat tanaman berumur 25, 35, dan 45 HST. Pengelolaan AirPada sistem irigasi berselang, tanah diusahakan mendapat aerasi beberapa kali agar tidak terlalu lama dalam kondisi anaerobik, yaitu dengan cara mengatur waktu pemberian air dan waktu pengeringan atau drainase. Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHT)Dalam usaha pengendalian hama dan penyakit perlu digunakan teknologi pengendalian yang kompatibel antara satu dengan lainnya dan diterapkan bertahap sesuai dengan tahapan budidaya. PanenKehilangan hasil panen padi dipengaruhi oleh (1) varietas, (2) kadar air gabah saat panen, (3) alat panen, (4) cara panen, (5) cara/alat perontok, (6) sistem pemanenan. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan