Loading...

Pemipilan Jagung

Pemipilan Jagung
Tahapan kegiatan pemipilan jagung merupakan salah satu titik kritis yang harus dilalui dalam penanganan pasca panen jagung. Proses pemipilan merupakan salah satu factor kunci yang perlu mendapat perhatian dalam upaya menekan kehilangan hasil jagung. Selain faktor kadar air biji, kondisi alat pemipil (konstruksi sarangan dan silinder pemipil) yang tidak memenuhi standar, juga berpeluang merusak biji . Oleh karena itu proses pemipilan memerlukan penanganan yang lebih serius agar hasil dari sisi kuantitas dan kualitas dapat memadai. Pemipilan merupakan kegiatan melepaskan biji jagung dari tongkol dan memisahkan kotoran dari jagung pipilan. Tujuan pemipilan untuk menghindarkan kerusakan, menekan kehilangan dan memudahkan pengangkutan serta memudahkan pengolahan selanjutnya. Oleh karena itu proses pemipilan harus dilakukan pada saat yang tepat, yaitu saat kadar air jagung berkisar 17 -20 %.Dalam upaya mendapatkan hasil biji yang berkualitas , maka factor penting yang harus diperhatikan dalam proses pemipilan adalah kadar air, bentuk dan konstruksi gigi pemipil, jarak antara saringan dan ujung gigi pemipil serta kecepatan putaran silinder pemipil. Sesuai hasil penelitian, perkiraan kehilangan hasil akibat susut pada proses pemipilan mencapai 4 %Pemipilan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara manual/ tradisional dan bantuan alat.1. Pemipilan secara manual / tradisionala. Dilakukan dengan cara memipil biji satu persatu dari tongkolnya dengan tangan maupun dengan bantuan alat sederhana. Pemipilan biji dengan tangan tidak akan merusuk fisik biji meskipun kadar air biji tinggi ( >30 %) Namun dengan tangan memerlukan waktu yang lama dan membutuhkan banyak tenaga kerja, mencapai 9 HOK/ha dan kapasitas pipilnya hanya sekitar 10 – 20 kg/jam. Meskipun kapasitas kecil, hasil pemipilan dijamin bersih dan kerusakan yang ditimbulkan sangat kecil. b. Pemukulan jagung pada karung dengan tongkat. Kerusakan mekanis yang ditimbulkan lebih besar. Biji yang hilangpun meningkat karena banyak yang tertinggal pada tongkol.c. Pemipilan dengan alat sederhanaPemipilan menggunakan alat –alat sederhana yaitu model TPI. Model Lager, model ban mobil, model serpong, model sepeda,.- Pemipilan model TPI, alat yang dibuat dari kayu, kapasitas pemipilannya 12 -15 kg biji jagung per jam untuk setiap orang. Prinsip alat ini, jagung telah terkelupas dimasukkan pada alat pemipil kemudian diputar dan dimasukkan dalam bak penampung- Pemipilan model lager, terbuat dari bantalan (bearing) , yang diberikan kaki dan engkol pemutar. Ring lager bagian dalam dipasangin semacam gigi hingga bila engkol diputar akan mengaitkan giginya. Alat pemipil ini berkapasitas 30 kg biji jagung per jam untuk setiap orang. Kerusakan mekanis biji jagung kecil. - Pemipilan model ban mobil, dibuat dari papan kayu yang dilapisi dengan bekas ban luar mobil. Alat ini berkapasitas 25 – 30 kg biji jagung per jam setiap satu orang.kerusakan mekanis biji jagung kecil.- Pemipilan model serpong, dibuat dari beberapa balok sebagai rangka dan triplek sebagai dinding penutup. Bagian utama silinder pemipil dari kayu yang bergaris tengah 30 cm. Alat ini dapat memipil jagung 40 kg/jam. Karena gesekan paku-paku yang dipasangi pada silinder pemipil akan menyebabkan luka pada biji jagung cukup tinggi.- Pemipilan model sepeda, mengutamakan sepeda, kapasitas ± 35 kg biji jagung per jam.. Hasil pemipilannya bermutu baik dan angka kerusakan mekanik yang kecil dan biaya pengadaan alat yang hampir tidak ada. 2. Pemipilan dengan alat mekanis.a. Pemipil jagung tanpa klobot, kapasitas pemipil mencapai 1-2 ton/jam. tingkat kerusakan biji 18 – 21% untuk jagung dengan kadar air 32,5 -35 %. Kapasitas kerja 0,8 – 1,2 t/jam. bertenaga enjin 8 – 10 HPMesin pemipil model PJMI, dibuat oleh Balitsereal, kapasitas kerja 1,1 ton/jam yang dilengkapi dengan komponen pengayak.. Biji jagung yang dipipil dengan mesin ini sesuai standar SNI , kapasitas pemipilan dapat mencapai 1,3 ton per jam.b. Mesin pemipil jagung dengan klobot. Keunggulannya tanpa harus mengupas klobot lebih efisien dari segi waktu. Tingkat kerusakan biji rendah ( Hal-hal yang diperhatikan dalam menggunakan mesin pemipil : 1) bentuk dan konstruksi gigi pemipil; 2) jarak ujung gigi pemipil dengan sarangan; 3) kadar air; 4) kecepatan putaran silinder pipil; 5) susut hasil pada proses pascapanen jagung; .Selama proses pemipilan berlangsung, terjadi peluang kehilangan pada tiga komponen yaitu : 1) kehilangan (losis) pada kipas penghisap/blower.Siapkan net untuk menampung kotoran, biji, pecahan tongkol yang terhempas keluar dari blower, mesin dijalankan kemudian hitung biji yang terhembus Losis = (berat jagung pada net/berat total biji + berat jagung pada net) x 100% 2) Kehilangan biji akibat terlempar keluar saat pemipilan berlangsung Siapkan terpal dibawah mesin , dilakukan pemipilan, kumpulkan biji yang tercecer dan timbang biji yang tercecer. Losis = ( berat biji tercecer/ berat total biji + berat biji tercecer) x 100%. 3) kehilangan akibat biji tidak terpipil., Siapkan terpal untuk menampung tongkol hasil pipilan, lakukan pemipilan. Kumpulkan tongkol dan pisahkan biji yang tidak terpipil dari tongkol. Timbang hasil pipilan , hitung losis dengan rumus : L = ( berat biji tidak terpipil/ berat total biji + biji-biji tidak terpipil) x 100 %.Saran untuk menekan kehilangan hasil yang terjadi saat pemipilan sebagai berikut :1) Pelaku pemipilan baik secara manual maupun mekanis agar lebih hati-hati dan tidak terburu-buru2) Mesin pemipil yang digunakan harus memiliki standar mutu, atau ber SNI dan operator terampil dan sudah mengikuti pelatihan operator.3) Butiran jagung yang tertinggal dan masih tersimpan dalam mesin pemipil dikumpulkan.4) Agar menggunakan mesin pemipil. Penyunting : Asia (penyuluh BPPSDMP)Sumber Informasi Booklet Pemipilan Jagung. 2013. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Direktorat Pasca panen tanaman pangan.