Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting bagi bangsa Indonesia karena merupakan makanan pokok rakyat Indonesia. Maka dari itu sangat perlu diperhatikan tentang pemupukan pada tanaman padi.Tanaman padi memerlukan banyak hara N dibanding hara P ataupun K. Hara N berfungsi sebagai sumber bahan untuk pertumbuhan tanaman, pembentukan anakan, pembentukan klorofil yang penting untuk proses asimilasi, yang pada akhirnya memproduksi pati untuk pertumbuhan dan pembentukan gabah. Hara P berfungsi sebagai sumber tenaga untuk memenuhi kualitas hidup tanaman seperti keserempakan tumbuh dan pematangan. Sementara itu hara K berfungsi sebagai komponen pendukung berlangsungnya reaksi ensim dalam tanaman. Selain itu berfungsi juga memperbaiki rendemen gabah, ketahanan terhadap kekeringan, ketahanan terhadap penyakit tanaman, dan kualitas gabah. Dengan demikian untuk mendapatkan gabah dengan kuantitas tinggi dan kualitas yang baik maka tanaman perlu diberi hara yang lengkap. Pemupukan padi sawah mengenal beberapa istilah seperti pemupukan berimbang, pemupukan spesifik lokasi, dan pengelolaan hara spesifik lokasi yang pada dasarnya identik satu sama lain. Akan tetapi pemupukan berimbang sering disalahartikan sebagai pemupukan lengakap (N, P, K, S....dst) dan diidentikkan dengan penggunaan pupuk majemuk.Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pemupukan berimbang mengacu kepada keseimbangan antara unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman padi berdasarkan sasaran tingkat hasil yang ingin dicapai dengan ketersediaan hara dalam tanah. Mengingat beragamnya kondisi kesuburan tanah antara lokasi satu dengan lainnya, maka takaran dan jenis pupuk yang diperlukan untuk lokasi-lokasi tersebut tentu akan bereda pula. Oleh karena itu, pemupukan berimbang sering pula disebut pemupukan (atau pengelolaan hara) spesifik lokasi.Pemupukan berimbang menawarkan beberapa prinsip dan perangkap untuk mengoptimalkan penggunaan hara dari sumber-sumber alami atau lokal (indigenous) sesuai dengan kebutuhan tanaman padi. Sumber hara alami dapat berasal dari tanah, pupuk kandang, sisa tanaman, dan air irigasi.Tahapan Pemupukan Berimbang Mencakup Tiga langkah : (1) Tetapkan target hasil realistis yang ingin dicapai, (2) Gunakan hara yang sudah tersedia secara efektif, dan (3) Tambahkan pupuk kimia untuk mengisi kekurangan antara kebutuhan tanaman dan suplai hara alami.Pemupukan pada stadia awal pertumbuhan (0-14 HST) : (1) Tetapkan target hasil yang ingin dicapai berdasarkan pengalaman setempat sebelumnya (5-8 t/ha GKG), (2) Pilih takaran pupuk yang sesuai dengan target hasi, dan (3) Sesuaikan pemakaian pupuk P, K, dan S berdasarkan pengalaman setempat sebelumnya dan cermati apakah jerami dikembalikan ke sawah atau tidak.Pemupukan N Susulan. Ada dua pilihan untuk pemupukan N susulan yaitu berdasarkan (1) Stadia pertumbuhan dengan cara membandingkan warna daun padi dengan skala BWD pada saat anakan aktif (sekitar 20 HST) dan fase primordia (sekitar 35 HST) dan (2) Berdasarkan kebutuhan riil tanaman dengan membandingkan warna daun dengan skala BWD selang 7-10 hari, mulai 21-28 HST sampai 50 HST.Pemupukan K susulan. Di lokasi yang kebutuhan akan hara K tergolong tinggi, pemupukan K susulan biasanya diperlukan. Untuk itu petani perlu di dorong untuk menguji sendiri kebutuhan hara K tanaman dalam petakan kecil di sawahnya dan membandingkan hasilnya dengan petakan sekitar yang tidak di beri pupuk K. Beberapa faktor seperti pengembalian jerami dan kapasitas suplai hara K menjadi bahan pertimbangan takaran pupuk K susulan yang perlu diberikan sesuai dengan target hasil.Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP)Alamat Email : harnati_r@yahoo.comSumber Bacaan :1. http://www.knowledgebank.irri.org2. Roland J. Buresh, IRRI Filifina, Suyamto, Abdurrachman, Sarlan. 2006. Pemupukan Padi Sawah. Puslitbang Tanaman Pangan3. Sumber gambar berasal dari bbpadi.litbang.