Sapi Madura merupakan ternak lokal yang menjadi salah satu aset sumber daya genetik hewan (SDGH) yang dimiliki Indonesia. Asal usul Sapi Madura merupakan hasil persilangan Sapi Bali (Bos sondaicus) dengan dengan Sapi Jawa (Bos javanicus) , dimana Sapi Jawa sendiri merupakan hasil persilangan Sapi Zebu ( Bos indicus) dan Sapi Eropa (Bos Taurus). Sapi ini pada awalnya berkembang biak di pulau Madura dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Kemudian menyebar ke beberapa wilayah di Indonesia seperti Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Sejak tahun1934 pemerintah kolonial Belanda telah mengeluarkan peraturan untuk menjaga kemurniaan Sapi Madura yang tertuang dalam lembaran Negara no 57/1934 dan No.115/1937. Saat ini Sapi Madura sudah ditetapkan sebagai rumpun melalui keputusan Menteri Pertanian Nomor 3755 tahun 2010, yang selanjutnya diusulkan ke organisasi Pangan dan Pertanian Sedunia (FAO) agar diakui secara Internasional. Dalam upaya pelestarian dan pengembangan sapi Madura khususnya dalam mendukung program swasembada daging sapi/kerbau maka di daerah asalnya di pulau Sapudi kabupaten Sumenep telah ditetapkan untuk daerah pembibitan dan pemurnian Sapi Madura. Bahkan keinginan Gubernur Jawa Timur untuk menjadikan Pulau Madura sebagai "Pulau Sapi." . Fungsi utama pengembangan Sapi Madura adalah sebagai penghasil daging. Keunggulan Sapi Madura dengan Kondisi fisiknya yang cukup kuat serta daya tahan terhadap panas membuat Sapi Madura dapat dijadikan sumber tenaga kerja, baik untuk mengolah lahan pertanian atau sebagai penarik gerobak. Sapi Madura khususnya yang jantan memiliki kemampuan lari yang hebat yang tidak dimiliki oleh jenis sapi lain, dimana jarak 130 m mampu ditempuh selama 9 – 10 detik saja. Oleh karena itu Sapi Madura jantan banyak dipergunakan dalam pacuan sapi yang dikenal dengan kerapan sapi.. Sedang Sapi Madura betina banyak dilombakan sebagai sapi hias yang mengikuti penari-penari yang dikenal masyarakat setempat sebagai Sapi Sonok.Selain itu keunggulan lainnya merupakan type sapi potong yang baik sebab mempunyai dada yang lebar dan dalam dan kualitas daging yang baik. Kelebihan dari daging Sapi Madura seratnya lebih halus, teksturnya lembut dengan kadar lemak dalam daging relatif rendah. Disamping itu mampu beradaptasi terhadap pakan berkualitas rendah. Ciri-ciri fisik Sapi Madura :- Warna tubuh sapi betina kuning kecoklatan dan sapi jantan berwarna merah bata, di bagian pantat dan paha belakang dan kaki bagian bawah berwarna putih dengan batas yang tidak jelas Ekor berwarna hitam. Sekitar mata berwarna hitam serta pinggir telinga berwarna hitam.- Tanduk kecil, pendek dan mengarah keluar- Bentuk badan kecil sampai sedang , kaki relatif pendek dan pada sapi jantan berpunuk dan bergelambir- Bobot badan rata-rata sapi jantan dewasa berkisar antara 400 – 600 kg, sedangkan sapi betina dewasa bobot 300 – 450 kg.- Tinggi gumba sapi jantan saat umur 2 tahun minimal 105 cm, sapi betina minimal 102 cm. Guna mempertahankan kemurniaan rumpun Sapi Madura dalam menjaga kelestarian plasma nutfah sebagai salah satu kekayaan sumberdaya genetik, Pulau Sapudi telah ditetapkan sebagai wilayah pelestarian plasma nutfah sapi madura. Di pulau sapudi yang relatif terisolasi dari keramaian dengan populasi Sapi Madura 41.758 ekor merupakan kondisi yang ideal untuk pemurnian Sapi Madura.Di pulau ini ada kebijakan, selain Sapi Madura dilarang masuk , tetapi bibit Sapi Madura dari pulau sapudi boleh keluar. Namun untuk pengamanan dan pengembangan potensi genetik Sapi Madura maka dilakukan upaya penumbuhan dan pengembangan sentra-sentra pembibitan Sapi Madura di Pulau Madura sendiri. Pengembangan Sapi Madura diarahkan pada suatu kawasan pengembangan baik kawasan khusus maupun terintegrasi dengan komoditi lainnya . Untuk itu dikeluarkan kebijakan untuk setiap kabupaten di pulau madura minimal harus didirikan tiga Village Breeding Center sebagai wilayah sumber bibit Sapi Madura yang masing-masing memiliki populasi sebanyak 10.000 ekor.Upaya peningkatan kualitas bibit sapi madura dilakukan secara terarah dan berkelanjutan dalam rangka peningkatan produktivitas dan populasi melalui kegiatan Inseminasi Buatan (IB) maupun Intensifikasi Kawin Alam (INKA) serta kegiatan uji performan yang menjadi dasar dalam penyeleksian bibit Sapi Madura. Selain itu beberapa kegiatan pendukung lainnya ditingkatkan yaitu peningkatan SDM, penguatan kelembagaan petani ternak, pengembangan pakan, pengendalian penyakit, revitalisasi Rumah Potong Hewan dan pembangunan pasar hewan modern . Penyunting : Asia ( Penyuluh BPPSDMP)Sumber Informasi : Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur.