Loading...

Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Markisa

Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Markisa
Cara BertanamBibit makisa, baik yang berasal dari biji maupun dari stek atau sambungan biasanya terdapat dalam polybag. Bibit ditanam setelah berdaun 4-6 helai, yang tingginya antara 30-50 cm. Pada waktu tanam, dasar poliibag dibuka atau seluruh polibag dibuka pelan-pelan, kemudian ditanam dalam lubang tepat pada tenda ajir (di tengah lubang) sedalam leher akar bibit. Selanjutnya, ditutup kembali dengan lapisan tanah atas yang telah disiapkan sambil ditekan miring ke arah akarnya. Dengan cara ini bibit tidak dapat ditarik ke atas (dicabut), akarnya akan cepat tumbuh dan tidak ada rongga di sekitar akarnya. Adanya rongga akan terisi air dan adakalanya digunakan untuk bersarang semut merah. Kondisi seperti ini dapat membahayakan kehidupan tanaman markisa. Waktu tanam bibit yang baik adalah awal musim hujan pada saat kondisi tanahnya. Penanaman pada musim kemarau memerlukan penyiraman air yang teratur, biasanya paling sedikit sehari sekali. Apabila bibit akan ditanam pada musim kemarau, lubang tanam sebaiknya disiram lebih dulu sampai medianya lembab. Setelah bibit ditanam, disiram lagi supaya bibit tetap segar karena pada musim kemarau banyak terjadi penguapan. Penanaman bibit menjelang akhir musim hujan atau awal musim kemarau (musim kemarau), tanaman akan cepat berbuah, yakni 6-8 bulan setelah tanam pada musim kemarau berikutnya, namun resiko kematian bibit besar. Sedangkan apabila penanaman dilakukan menjelang/awal musim hujan, maka tanaman mulai berbuah agak lambat, yakni lebih dari 8 bulan. PemupukanPetani markisa umumnya tidak pernah memberikan pupuk anorganik (NPK), namun diberikan pada tanaman sela yang diusahakan di antara tanaman markisa (seperti jagung, kedelai, kacang tanah, dan lain-lain). Untuk mencapai hasil yang maksimum, dianjurkan memberikan pupuk NPK dengan perbandingan 3 : 2 : 2 pada awal pertumbuhan vegetatif dan 2 : 3 : 3 pada awal pertumbuhan generatif (100 - 800 gram/pohon) tergantung kesuburan tanah dan umur tanaman. Pupuk NPK diberikan di sekeliling batang tanaman sejak tanaman berumur 3 bulan setelah tanam dan diulang 4 bulan sekali. Tetapi setelah tanaman berbunga, pupuk NPK diberikan setelah panen raya pertama, kedua, dan ketiga. Dalam memberikan pupuk NPK ini, harus diperhatikan kondisi tanah tidak boleh kering karena akan membahayakan kehidupan tanaman markisa (pupuk anorganik mempunyai sifat higroskopik. Pembuatan Rambatan dan PemangkasanTanaman markisa dapat dirambatkan pada pohon hidup seperti lamtoro (Leucena acepphala), kayu gamal (Gliricidia sepium) atau kayu jaran (Lannea grandis). Pohon-pohon seperti di atas ditanam khusus di dekat lubang tanaman markisa, namun pada usaha tani yang berorientasi agribisnis, cara ini kurang tepat karena menyulitkan perawatan dan panen. Ada dua cara perambatan markisa yang dianjurkan, yaitu:1. Model Pagar, berupa tiang dari besi atau pohon hidup yang ditanam menurut barisan tanaman markisa. Tinggi tiang 2 meter dengan jarak 4 m. Antara tiang dibentangkan 3 buah kawat sejajar mendatar dengan jarak 0,5 m – 0,75 m, dimulai 1 m di atas tanah. Perambatan tanaman markisa model pagar, menggunakan jarak tanam sempit (2 x 3 m). Di tempat yang banyak angin, menggunakan sistem pagar sering menimbulkan gesekan buah pada kawat, namun pemeliharaan/perawatan tanaman mudah dilakukan. 2. Model Para-para, berupa kawat setinggi 2 m yang dibentangkan mendatar di atas para-para seperti dengan jarak 1 meter. Tinggi para-para umumnya 2 meter, lebar para-para 4-5 m (dua tiang) dan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahan. Perambatan tanaman markisa model para-para umumnya menggunakan jarak tanam lebar (4 x 5 m). 3. Model T, merupakan modifikasi model para. Tiang " T " dapat dibuat dari besi atau kayu dengan tinggi 2 m. Besi atau kayu sepanjang 1 m dipasang pada ujung tiang seperti huruf " T ". Dua buah kawat dibentangkan sejajar antara tiang T dengan jarak 1 m. Tanaman dibiarkan berbatang tunggal, tunas samping dibuang, Setelah batang tegak mencapai bentangan kawat, kemuidian batang dipangkas. Tunas-tunas yang tumbuhuh dibiarkan memanjang, sebagian dirambatkan ke kanan dan/atau ke kiri dan satu tunas yang besar dirambatkan ke depan. Setelah tunas besar tumbuh mencapai panjang lebih dari 1 m, dipangkas lagi supaya bertunas baru lagi. Tunas-tunas ini akan dirambatkan lagi seperti pada kegiatan pertama. Pemangkasan seperti ini dilakukan sampai 3 kali. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat)Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian