MENERAPKAN SISTEM IP 200-400 IP 200 dan IP400 berarti pada lahan yang sama dapat dilakukan 2 kali dan4 kali penanaman dalam setahun. IP200-400 memiliki keuntungan yaitu sirklus waktu yang diperlukan lebih hemat dan biaya produksi lebih hemat. Untuk mencapai IP200-400 varietas benih yng digunakan dapat benih komposit ataupun hibrida yang berumur pendek sekitar <100 hari. Dengan tanam sisipan yang dilakukan 15 hari sebelum panen pertanaman sebelumnya, sirkus waktu yang diperlukan lebih hemat hanya sekitar 340 – 355 hari. Jika menggunakan varietas yang berumur >100 hari, maka sirklus waktu yang diperlukan mencapai 400 hari sehingga tidak dapat 4 kali karena setahun hanya 365 hari. Permasalahan yang perlu diantisipasi dalam usahatani jagung dengan penerapan IP400 pada lahan kering. Antara lain: panen saat musim hujan sehingga perlu adanya pengeringan untuk prosesing hasil panen karena biji adanya pengeringan untuk prosesing hasil panen karena biji mudah berjamur dan bahkan tumbuh jika segera dikeringkan tenaga kerja harus cukup untuk melaksanakan kagiatan yang berkesinambungan dan tidak dapat ditunda, penyakit busuk batang pada saat musim hujan perlu diwaspadai, perlu drainase yang memadai, dan jangan sampai daun bagian bawah menyentuh permukaan tanah. Untuk perlu dilakukan penghilangan daun yang sudah mulai tua. pemupukan pada daerah yang mempunyai curah hujan tinggi perlu pemberian yang tepat waktu dalam arti pemberian pupuk dilakukan saat cuaca cerah agar pupuk yang diberikan tidak terlarut dalam air hujan sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh akar tanaman. Berdasarkan hal-hal tersebut maka teknologi IP400 jagung berpeluang diterapkan dengan persyaratan yang perlu dipenuhi, antara lain: (1) lokasi untuk penerapan IP400 jagung harus tersedia cukup air setiap saat diperlukan, terutama saat musim kemarau, (2) lahan tidak mudah tergenang saat musim hujan, dan jika tergenang harus mudah diatuskan, (3) tenaga kerja cukup tersedia dan tidak menjadi masalah, (4) varietas jagung yang ditanam berumur pendek < 100 hari. Penanaman I (awal musim hujan) Catat tanggal tanam dan tanggal perkiraan panen sesuai umur varietas berdasarkan diskripsi Tanah diolah sempurna Buat lubang tanam dengan tugal, jarak tanam (100cm- 50cm) x 20 cm (legowo). Masukkan benih dalam lubang 1 biji perlubang dan tutup benih dengan pupuk organik 1 genggam. Berikan pupuk saat 7-10 hari setelah tanam (HST) dengan takaran 100 kg urea + 150 kg SP36 + 100 kg KCl per hektar atau 300 kg Ponska/ha. Pupuk dibenamkan 10 cm di samping tanaman dan tutup dengan tanah. Penyiangan dan pembumbunan 15 HST dengan cangkul dan 30 HST (dapat dengan herbisida kontak). Berikan pupuk lagi saat 35 HST dengan takaran 100 kg Ponska 250 kg urea per hektar. Saat 45 hari dilakukan pemantauan dengan bagan warna daun (BWD) untuk mengetahui kecukupan nitrogen dalam tanaman. Bersihkan daun dibawah tongkol jika tongkol telah berisi, dan daun dapat dimanfaatkan untuk pakan. Saat 2 minggu sebelum panen, tanam benih sisipan untuk pertanaman II (kedua) di antara tanaman yang ada dalam baris. Potong/pangkas batang di atas tongkol jika tongkol sudah mulai berwarna kecoklatan/mengering. Hasil pangkasan dapat dimanfaatkan untuk pakan. Panen tongkol jika klobot sudah kering dan pangkal biji telah bertanda hitam jika dipipil. Sisa batang tanaman dapat digunakan sebagai mulsa di antara baris tanaman. Petanaman II (kedua) Saat 2 minggu sebelum panen pertanaman I, tanam benih sisipan untuk pertanaman II di antara tanaman yang ada dalam baris (tampa olah tanah) Catat tanggal tanam dan tanggal perkiraan panen sesuai umur varietas berdasarkan diskripsinya. Pemupukan, penyiangan, pembumbunan, pemeliharaan, dan panen serta kegiatan lainnya sama dengan urutan kagiatan pertanaman I. Jika pertanaman menunjukkan gejala kekurangan air, berikan air dengan menggunakan pompa yang didistribusikan melalui alur diantara baris tanaman yang jarak antar barisnya 50 cm, sehingga sekali pemberian melalui satu alur dua baris tanaman mendapat penyiraman. Pemberian air dengan sistim alur dapat menghemat air. Pertanaman III (ketiga) Saat 2 minggu sebelum panen pertanaman II, tanam benih sisipan untuk pertanaman III diantara yang ada dalam baris (tampa olah tanah). Tahapan kegiatan berikutnya sama dengan pertanaman II (nomor 2 s/d 4). Pertanaman IV (keempat) Saat 2 minggu sebelum panen pertanaman III, tanah benih sisipan untuk pertanaman IV di antara tanaman yang ada dalam baris (tampa olah tanah). Tahapan kegiatan berikutnya sama dengan pertanaman II ( nomor 2 s/d 4). Jika varietas yang digunakan mempunyai umur 100 hari biasanya pada akhir pertanaman IV masih ada waktu sekitar 2 minggu untuk 360 hari/tahun. Waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengolah tanah persiapan pada awal musim hujan berikutnya Penanaman Sistem Jajar Legowo Pengaturan tanam sistim legowo memiliki keuntungan yaitu selain memudahkan pengendalalian gulma dengan menggunakan herbisida saat pertanaman I (pertama), juga lebih mudah untuk dilakukan penanaman sisipan (relay planting) karena adanya jarak yang lebar (100 cm). Penanaman sisipan ini dimaksudkan untuk meningkatkan IP ( indek pertanaman). Penanaman Penanaman jagung dapat dilakukan dengan sistem larikan atau sistem tugal. Penanaman sistem larikan yaitu penempatan benih pada larikan kemudian di tutup dengan tanah atau pupuk organik. Penanaman seperti ini paling hanya digunakan pada lahan yang mempunyai luasan yang besar dan lahan datar dengan menggunakan alat tanam yang ditarik hand yang berfungsi sebagai pembuat larikan. Penanaman dengan sistem tunggal kayu atau alat tanam mekanis. Kedalaman lubang tanam 5 cm. Lubang tanam yang terlalu dalam akan menyebabkan benih lebih lama tumbuh, sedangkan jika terlalu dangkal mengakibatkan benih mudah hilang karena dimakan ayam, semut, atau terangkat jika terken pukulan air hujan. Penanaman sebaiknya dilakukan 2 orang, yaitu orang membuat lubang dan lainnya menanaman dan menutup lubang tanam. DI SUSUN OLEH : HASAN ISMAIL SP.