Penanaman Jagung Tanpa Olah Tanah Penyiapan Bibit/Benih Benih adalah dari varietas lokal (berasal dari seleksi terbaik Panenan Tahun sebelumnya) yang teknik penyimpanannya masih berkulit, tersusun rapi dalam tumpukannya pada tempat penyimpanan khusus, dengan tingkat kekeringan antara 15 sd 30 %. Pengolahan Tanah Tanpa olah tanah kecuali tebas dan cabut/membersikan rumput semata, setelah kering dan menjelang hujan dilakukan pembakaran pada titik-titik tertentu. Sebagian rerumputan keringnya, limbah digunakan sebagai mulsa, yang dipahami akan mendukung kesuburan tanah. Penanaman, perawatan dan pemupukan Pada pelaksanaan penanaman, tidak dengan kelurusan yang menggunakan larikan, namun alat tugal yang digunakan oleh penugal, semau dan setepat mata melihat sesuai celah tanah yang dapat dilubangi oleh alat tugal, apalagi berbicara jarak tanam, petaninya hanya menjawab, mau jarak dan kelurusan bagaimana kalau kondisi tanah seperti begini. Jumlah benih/bibit jagung yang dimasukan/diisikan pada setiap lubang tugal adalah tiga biji. Hal penyulaman tetap dilakukan sebagaimana pada kondisi lahan tanam lainnya. Kesyukuran tersendiri bagi pemilik kebun/lahan tanaman jagung ini, bahwa dari sebelum-sebelumnya, orangtua mereka juga cara tanamnya seperti begini, toh juga dapat memperoleh hasil panen jagung yang lumayan. Sementara perawatannya, setelah umur jagung antara 15 sampai 25 hari, pada celah-celah batu bertanah-tanah, dilakukan pengemburan, dibumbungi (kalau dapat), sebagai sekedar menggemburkan tanah dan pemupukannya biasanya alami dengan ditaburkan abu sisa pembakan dapur bahan bakar dari kayu bakar, yang dianggap ’bervitamin’ untuk tanaman jagung dan antara lain itulah sebagai penyubur dari tanaman jagung ini, selain telah tersedia humus dari lapukan seadanya. Hal tersebut dilakukan bukan berarti, tidak mendengar kemajuan teknologi seperti jarak tanam, dan perawatan, tetapi memang kondisi tanah pada lahan tanam ini memang demikian, sehingga bisa dikatakan dipasrahkan saja pada alam dan Yang Maha Kuasa, bagaimana jadinya. Demikian pula dengan penggunaan pupuk kimia, tapi coba dibayangkan dimana celah pupuk kimia bisa dapat berproses sebagaimana fungsinya bila diaplikasikan pada lahan subur tanah gembur umumnya. Lebih anehnya lagi, bahwa pada lahan subur saja masih juga harus dengan pemberian pupuk penyubur, sementara pada lahan yang seperti nampaknya gambar diatas, dilakukan sebagaimana disebutkan pada bagian kalimat sebelumnya. Hama dan penyakit Hama dan penyakit Tanaman jagung , pada umumnya ulat daun, penggerek daun, ulat tongkol dapat menyerang pada fase pertumbuhan, ulat tongkol, busuk batang yang di sebabkan oleh bakteri, belalang, dan lainnya. Namun hama dan penyakit jagung pada lokasi lahan tersebut, jarang ditemukan, Apabila pemilihan benih dilakukan sebaik mungkin pada saat dilepaskan dari tongkolnya dan disorting dengan kemampuan pengalaman yang dimilik, maka paling tidak dapat meminimalisir terjadinya hama dan pnyakit yang berarti. Panen Hasil panen jagung akan baik bila dipanen pada tingkat kematangan yang tepat. Sebagai tanda jagung siap panen /matang optimal adalah antara lain ; biji telah keras dengan warna mengkilap, jika di tekan dengan ibu jari, tidak lagi ditemukan bekas tekanan pada biji tersebut, pada keadaan seperti ini, kadar airnya sudah dapat mencapai sekitar 35 persen, petani disinipun cukup pengalaman tentang tata laksana penen itu. Inilah kondisi tanaman jagung lokal di lahan kritis khususnya di WKPP Batubanawa, Kecamatan Mawasangka Timur Kab. Buton Tengah. Penulis : PPL WKPP Batubanawa, Kec. Mawasangka Timur, Kab. Buton Tengah LA ODE SAMHANIF, S.Pt.