(B). Penanaman melalui Pols. Penanaman dengan pols lebih mudah. Pols merupakan bentuk bibit yang diperoleh dari pecahan atau sobokan rumpun. Pols yang baik diambil dari rumpun yang sehat dan banyak anakannya. Dan setiap pols minimal terdiri dari 2 atau 3 anakan. Penanaman pols ditempat yang sudah dilobangi. Keuntungan pemakaian bibit secara pols yaitu daya tumbuh cukup tinggi, antara 70% hingga 95% dari bibit yang ditanam. Dapat ditanam pada tanah ringan, sedang sampai berat. Namun kelemahannya sukar dikembangkan secara besar-besaran pada daerah yang terpencil. Penanaman dengan pols banyak memerluakn tenaga dan waktu. Sebab sebelum bahan itu ditanam, perlu dibuat lubangan terlebih dahulu. Pengangkutan bahan ini kurang hemat, sebab volume pols lebih memerlukan tempat daripada stek. Disamping itu, pols hanya bisa disimpan dalam waktu yang singkat (tiga hari). Untuk mengatasi kesukaran tersebut adalah dengan cara mengembangkan bibit berupa biji. Ciri-ciri bibit yang baik adalah berasal dari tanaman yang cukup tua dan mempunyai 4 -7 batang bakal tumbuh setiap rumpun per lubang. (C).Penanaman dengan stek. Penanaman dengan stek menggunakan potongan dari batang yang diambil dari batang yang sudah tua dan sehat dengan panjang 20 – 25 cm dan paling kurang memiliki 3 buku/ruas. Syarat penanaman dengan stek : (a). Batang (stka) berasal dari tanaman yang cukup tua, memiliki 3 – 4 buku/ruas per batang; (b). Waktu tanam pada awal atau akhir musim penghujan; (c). Cara penanamannya lebih baik dengan kemiringan 45 – 60 derajat agar mudah membentuk perakaran dari buku-buku yang lebih dekat dengan tanah. Jenis tanaman yang dapat dikembangkan dengan stek adalah rumput gajah, rumput mexico, rumput benggala. Jarak tanam ditentukan dengan jenis HPT yang akan ditanam dan kesuburan tanah. Jarak tanam setiap rumput perlu ditentukan agar kebutuhan bibit pols maupun stek dapat dihitung kebutuhannya untuk setiap satuan luas. Jarak penanaman sebaiknya ditentukan menurut cara perawatan yang akan dilakukan. Perawatan dan Pemeliharaan. Tujuan dari perawatan/pemeliharaan adalah agar tanaman mampu berproduksi dalam jumlah yang cukup tinggi dan berkualitas baik. Perawatan yang harus dilakukan antara lain : (a). Penyiangan. Dilakukan pada rumput liar yang tumbuh bersamaan dengan bibit disekitarnya. Dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa macam alat misalnya cangkul, handtracktor dan mini tracktor. Penyiangan bertujuan untuk mencegah persaingan antara tanaman pokok dengan rumput pengganggu / gulma; (b).Penyulaman. Dilakukan setelah penyiangan pada tanaman yang mati agar kelihatan jelas tanaman yang perlu diganti; (c). Pemupukan. Pemupukan perlu dilakukan supaya tanaman tetap terjaga kesuburannya. Pupuk yang digunakan adalah pupuk anorganik (urea, TSP, KCL dan lain-lain). Dapat juga dipakau pupuk organik seperti kompos atau kotoran ternak. Untuk tanah yang tergolong asam, perlu dinetralisir dengan pemberian kapur; (d). Pemberantasan hama. Hama adalah salah satu faktor yang dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman rumput. Hama yang dapat mengganggu/merusak adalah keong, tikus, hewan liar, burung dan lain-lain. Untuk mencegah dan memberantas hama tersebut dapat menggunkan obat-obatan. Sedangkan untuk mengatasi gangguan oleh hewan liar dapat dilakukan dengan cara pemagaran.Pengendalian Gulma. Gulma adalah jenis tanaman yang tumbuhnya tidak dikehendaki peternak. Gulma merupakan tanaman pengganggu yang mampu menghambat bahkan mematikan hijauan pakan yang tumbuh bersamanya. Kerusakan yang diakibatkan gulma dibagi dalam 3 kelompok yakni kerusakan ringan, sedang dan berat. Kerusakan ringan mencakup 10 – 30% total lahan, kerusakan sedan merusak tatanan padang penggembalaan 31-50% dari total lahan, kerusakan berat terjadi ketikan telah merusak tatanan penggembalaan sebesar 51-80% atau bahkan mencapai 100% total lahan. Gulma tidak hanya dapat menghambat pertumbuhan pakan hijauan tapi juga dapat meracuni ternak yang mengonsumsinya. Pengendalian gulma merupakan upaya yang dilakukan untuk mencegah atau menghilangkan gulma yang tumbuh diantara tanaman rerumputan. Ada beberapa cara pengendalian gulma yaitu pengendalian secar fisik (penyiangan, pencabutan, pembabatan atau pembakaran) ; pengendalian secara hayati yaitu dengan pengadaan musuh alami ; pengendalian secara kimiawi ; pengendalian dengan cara pemanfaatan gulma itu sendiri untuk berbagai keperluan seperti sayur, bumbu, obat dan sebagainya. Panen. Pakan hijauan harus diatur sistem pemotongannya agar tersedia sepanjang waktu. Selain itu, pengaturan umur pemotongan yang tepat dimaksudkan agar tingkat produktivitas dan kulaitasnya dapat dipertahankan. Panen/pemungutan hasil pada HPT ada 2 cara yaitu : (A). Pemotongan (defosiliasi), dilakukan oleh manusia. Pemotongan yang baik disaat rumput akan berbunga. Jika terlambar (sudah berbunga) maka nilai gizinya berkurang dan nilai serat kasarnya meningkat, tapi bila terlalu cepat maka kandungan protein dan kadar airnya tinggi dan bahan keringnya rendah. Kalau sampai umur 60 hari rumput belum mencapai 1 m maka lakukan pemotongan paksa, tujuannya adalag untuk menstimulir pertumbuhan dan memperbanyak anakan, juga menyeragamkan pertumbuhan. Defoliasi kedua atau seterusnya dilakukan 40 hari sekali di musim hujan dan 60 hari sekali di musim kemarau. Tinggi pemotonagn 10 – 15 cm dari permukaan tanah. (B). Penggembalaan (grazing) yaitu pemotongan yang langsung dilakukan oleh ternak secara renggutan. Frekuensi defoliasi (berulang kalsinya pemotongan terhadap tanaman hijauan) perlu dipertimbangkan secara baik. Hal itu disebabkan setelah defoliasi, pertumbuhan kembali tanaman memerlukan zat-zat yang kaya energi seperti gula dan pati yang serat hubungannya dengan zat-zat N, P dan K. Pada interval pemotongan yang panjang, keadaannya tidak mengkhawatirkan. Namun pada interval pemotongan pendek atau intensitas pemotongan yang tinggi, karbohidrat dalam akar menurun sehingga dapat mengganggu pertumbuhan kembali, sebab pembentukan karbohidrat merupakan proses asimilasi. Hal ini disebabkan tanaman tak ada kesempatan cukup untuk berasimilasi.Setelah defosiliasi, karbohidrat segera dirombak oleh enzim tertentu menjadi energi. Zat tersebut kemudian digunakan untuk pertumbuhan. Itulah sebabnya jarak antara pemotongan (frekuensi defoliasi) yang pertama dan kedua perlu diatur dengan baik. Secara umum, defoliasi di musim penghujan 40 hari sekali dan pada musim kemarau 60 hari sekali. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM. Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber :1. Direktorat Pakan Ternak, Dorektorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementrian Pertanian 2011, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian 2006, Heri Ahmad Sukria & Rantan Krisnan, Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan di Indonesia.. 2. Hasan, Syamsuddin. 2012. Hijauan Pakan Tropik Bogor: IPB Press