Loading...

PENANGANAN KEDELAI HASIL PANEN

PENANGANAN  KEDELAI  HASIL PANEN
Kedelai merupakan jenis kacang-kacangan penting yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Biji kedelai memiliki kandungan protein tinggi (34%) dan juga kaya akan lemak (18%), vitamin dan mineral. Sebagai sumber protein nabati yang penting dalam masyarakat, kedelai banyak dikonsumsi sebagai tempe, tahu, kecap, susu kedelai, tepung kedelai dan minyak kedelai. Penyimpanan Kedelai. Biji kedelai lebih cepat mengalami kerusakan dibandingkan biji-bijian lainnya (jagung, padi, sorghum, gandum) meskipun diproduksi, ditangani dan disimpan pada kondisi yang sama (Delouche, 1982). Penurunan kualitas tersebut diakibatkan oleh hilangnya persediaan metabolit biji selama penyimpanan, degradasi komponen kimia benih, kerusakan kulit benih, kerusakan sistem enzimatisnya dan kerusakan sistem genetik. Biji kedelai dengan kandungan total asam lemak bebas yang tinggi akan mengakibatkan rendahnya mutu produk olahan.Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap daya simpan biji kedelai adalah : 1) Faktor genetik, 2) Faktor pra panen. Faktor lingkungan pra panen yang paling berpengaruh terhadap daya simpan biji kedele adalah iklim. Pada kondisi iklim basah akan menghasilkan biji dengan daya simpan yang lebih rendah dibandingkan biji yang dihasilkan pada musim kering. 3) Faktor kemasakan benih.Biji kedelai yang dipanen masih muda memilki daya simpan yang rendah dan relatif lebih rentan terhadap kerusakan mekanis dibandingkan benih yang masak optimum. 4) Kadar air awal /kadar air simpan benih. Kadar air benih selama penyimpanan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap daya simpan biji kedelai. Kadar air biji yang terlalu rendah akan mengakibatkan biji sangat rentan terhadap kerusakan mekanis. Penurunan kadar air biji setelah panen harus dilakukan sampai batas aman untuk penyimpanannya. Jika kadar air simpan masih terlalu tinggi, biji akan sangat rentan terhadap serangan mikroorganisme. Kadar air simpan yang disarankan untuk penyimpanan kedelai adalah 8-9 %. Pada kadar air tersebut serangga dan jamur tidak dapat berkembang optimal. 5) Penanganan biji setelah panen. Penanganan biji kedelai setelah panen yang tidak hati-hati akan mengakibatkan kerusakan mekanis. Biji kedelai sangat rentan terhadap kerusakan mekanis. Benih kedelai yang luka (lecet/retak) akan menjadi media tumbuh jamur dan akibatnya daya simpannya akan menjadi sangat rendah. Dampak kerusakan mekanis memang tidak bisa dilihat langsung, namun akan terasa beberapa lama setelah benih disimpan. Jika kerusakan mekanis sampai mengenai embrio biji, maka daya simpan biji akan lebih pendek lagi. 6) Faktor lingkungan simpan, yang meliputi : a) Suhu ruang simpan. Norman (1978) mengatakan bahwa suhu ruang simpan merupakan faktor yang penting selamam penyimpanan kedelai. Penyimpanan kedelai pada suhu rendah biasanya hanya dilakukan pada biji kedelai yang akan digunakan sebagai benih. Delouche (1982) mengatakan bahwa penyimpanan kedelai pada suhu 10? C dengan kadar air 9% dapat mempertahankan kualitas biji selama 2 tahun. b) Kelembaban Relatif. Protein yang terkandung dalam kedele bersifat higroskopis (mudah menyerap air dari udara). Oleh karenanya kelembaban relatif ruang simpan harus rendah, agar tidak terjadi peningkatan kadar air biji selama penyimpanan. Kelembaban relatif yang terlalu rendah juga berbahaya bagi biji karena dapat menyebabkan pengkerutan biji. Kelembaban relatif yang disarankan untuk penyimpanan kedelai adalah 70% - 75%. c) Cahaya. Sinar ultra violet dapat mempercepat penurunan kualitas biji-bijian. Panas dan ultraviolet dapat menyebabkan hilangnya lapisan air makromolekuler yang melindungi molekul, sel, dan jaringan embrio. Hal tersebut akan mengakibatkan sel lebih peka terhadap oksidasi. Selain itu sinar infra merah yang terdapat dalam cahaya matahari juga dapat menghambat penguraian lipolitik embrio pada biji yang disimpan. Peningkatan tingkat pencahayaan selama penyimpanan juga diyakini mengakibatkan penurunan kadar asam palmitat, oleat, dan linoleat. Hal tersebut tentu saja mempengaruhi kualitas biji secara keseluruhan.d) Hama dan Penyakit. Kehadiran hama dan penyakit pada ruang simpan akan sangat menurunkan kualitas biji. Munculnya hama dan penyakit di ruang simpan sangat ditentukan oleh kondisi biji dan kondisi ruang simpan. Benih kedelai dengan kandungan protein, karbohidrat dan lemak yang relatif tinggi sangat rentan terhadap serangan jamur dan serangga. Serangga yang banyak mengancam kedelai terutama adalah serangga-serangga penggigit yang merusak permukaan luar/kulit kedelai dan mengakibatkan miselium berbagai jenis jamur dapat menyerang bagian dalam biji. Jenis jamur yang banyak ditemui dalam penyimpanan kedelai adalah Aspergillus dan Penicilium.Pengemasan pada penyimpanan kedelai dimaksudkan untuk mencegah peningkatan kadar air selama proses penyimpanan. Jenis-jenis bahan pengemas antara lain adalah kain blacu, kertas, alumunium foil, karton, kaleng, dan lain-lain. Pada penyimpanan kedelai diupayakan agar pengemas yang digunakan adalah pengemas kedap udara dan uap air. Penggunaan desikan dapat digunakan untuk mencegah peningkatan uap air biji. (Penulis : Suwarna) Sumber : http://gudangfarm.blogspot.com/2013/05/pasca-panen-kedelai.htmlwww.jitunews.com