Saat ini pemerintah sedang gencar meningkatkan produksi kedelai nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Pada tahun 2015 produksi kedelai nasional mencapai 1,27 juta ton. Tahun ini pemerintah menargetkan 2,63 juta ton. Strategi peningkatan produksi dilakukan dengan memperluas areal tanam dan meningkatkan produktivitas. Saat ini produktivitas kedelai nasional masih rendah sekitar 1,56 ton per hektar. Jawa Tengah lebih tinggi dari angka nasional yakni 1,87 ton per hektar. Angka ini masih bisa ditingkatkan karena di Kabupaten Grobogan angka produktivitas bisa mencapai 2,3 ton per hektar.Sementara itu di tingkat penelitian produktivitas bisa mencapai 3,2 ton per hektar. Bahkan pihak Balitbangtan berani menargetkan produktivitas hingga 3,7 ton per hektar pada tingkat uji coba. Kendala dilapangan untuk meningkatkan produksi kedelai adalah pecah polong yang menyebabkan kehilangan hasil (yield loss) terutama kedelai di daerah tropis, termasuk Indonesia. Sebagian besar kedelai yang dibudidayakan pada musim kemarau, Juni/Juli–September/Oktober, berpeluang memacu terjadinya pecah polong. Hal tersebut terkait dengan karakteristik lingkungan pada musim kemarau II dengan terjadinya peningkatan suhu khususnya pada periode pengisian biji hingga panen kedelai.Pecah polong terjadi saat polong mencapai masak fisiologis dalam kondisi suhu lingkungan yang tinggi dan diikuti oleh kelembaban tinggi. Penyebab lain yang dapat berpengaruh terhadap terjadinya pecah polong adalah penundaan atau keterlambatan panen sebagai akibat dari kelangkaan tenaga kerja. Komponen lingkungan yang menjadi pendorong terjadinya pecah polong adalah kelembapan rendah, suhu tinggi, perubahan suhu yang cepat, dan kondisi saat pengeringan kedelai. Kisaran kehilangan hasil akibat pecah polong mulai 34% hingga 100% yang ditentukan oleh waktu panen, kondisi lingkungan, struktur anatomi polong, komposisi kimia kulit polong, zat pengatur tumbuh, dan ketahanan (faktor genetik) dari varietas kedelai yang digunakan. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa persentase pecah polong meningkat searah dengan penurunan kadar air polong. Selain itu, adanya peningkatan aktivitas enzim phenylalanine ammonia-lyase pada kulit polong dilaporkan akan meningkatkan laju pecah polong. Peningkatan pecah polong juga terjadi pada saat kondisi hujan yang diikuti oleh cuaca kering pada saat panen.Kehilangan hasil akibat pecah polong kedelai dapat diminimalisir menggunakan beberapa cara. Di Jepang, waktu tanam diatur sedemikian rupa sehingga biji dipanen pada musim dingin. Selain itu, ketahanan terhadap pecah polong dapat ditingkatkan dengan menunda atau menghentikan pemecahan lapisan dehisens dengan memanipulasi enzimnya. Cara lain adalah melalui peningkatan ukuran atau jumlah berkas vaskuler dalam zona dehisens (zona tempat membukanya polong), memperluas zona dehisens, atau memodifikasi ketebalan kulit polong untuk mengurangi efek mekanis dari pengeringan. Di antara banyak pilihan pengendalian pecah polong, penanaman varietas kedelai yang tahan pecah polong merupakan komponen teknologi budidaya yang murah, kompatibel dengan komponen teknologi yang lain, aman terhadap lingkungan dan mudah diadopsi petani.Sifat pecah polong dikendalikan secara genetik, dengan dua gen yang terlibat bersifat epistasis dominan. Beberapa penelitian menyebutkan terdapat perbedaan yang nyata pada ketahanan pecah polong antarvarietas. Karakter fisik dan anatomi polong diduga memiliki peranan penting dalam ketahanan terhadap pecah polong kedelai. Karakter fisik polong yang diduga berhubungan dengan ketahanan terhadap pecah polong adalah ketebalan kulit polong, sedangkan struktur anatomi polong yang berperan penting dalam ketahanan terhadap pecah polong adalah bundle cap dan kulit polong yang mengandung sklerenkim. Bundle cap adalah kumpulan sklerenkim atau parenkim yang terletak di sebelah xylem dan/atau floem. Struktur sklerenkim diduga sebagai dasar penentu ketahanan terhadap pecah polong dan berpotensi digunakan sebagai kriteria seleksi ketahanan terhadap pecah polong kedelai.Perakitan varietas kedelai tahan pecah polong mulai dirintis di Balitkabi dengan menyilangkan kedelai tahan pecah polong (Anjasmoro) dengan varietas kedelai berdaya hasil tinggi. Seleksi ketahanan terhadap pecah polong dapat dilakukan di lapang maupun di laboratorium. Seleksi ketahanan terhadap pecah polong terhadap galur homosigot diperoleh sebanyak 8 galur kedelai berkriteria sangat tahan terhadap pecah polong : 1) G 511 H/Anjasmoro-1-7 umur masak 81 hari berat seratus biji 14,60 g hasil 1,98 t/ha; 2) G 511 H/Anjasmoro//Anjasmoro-5-2 Umur masak 81 berat 100 biji 14,96 g hasil 1,61 t/ha; 3) G 511 H/Argom//Argom-2-1 Umur masak 81 hari berat 100 biji 14,73 g hasil 2,15 t/ha; 4) G 511 H/Anjasmoro//Anjasmoro-5-6 Umur masak 78 hari Berat 100 biji 14,20 g Hasil 1,70 t/ha; 5) G 511 H/Anj//Anj///Anj////Anjs-6-11 Umur masak 82 hari, berat 100 biji 15,84 g, Hasil 2,52 t/ha; 6) G 511 H/Anj//Anj///Anj////Anjs-6-12, Umur Masak 84 hari, berat 100 biji 14,06 g, Hasil 1,32 t/ha; 7) G 511 H/Anjasmoro//Anjasmoro-5, Umur masak 81 hari, berat 100 biji 15,69 g, hasil 2,03 t/ha; 8) G 511 H/Anj//Anj///Anj////Anjs-5-4, Umur masak 83 berat 100 biji 14,80 g Hasil 2,60 t/ha.Diperolehnya galur kedelai yang tahan pecah polong dan diikuti dengan penampilan agronomis yang bagus maka peluang untuk meningkatkan hasil produksi kedelai di Indonesia cukup besar. (Penulis : Suwarna –Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Ubi (Balitkabi)http://alamtani.com/berita/balitbangtan-keluarkan-varietas-kedelai-tahan-pecah-polong