Sebagai buah segar, daya simpan cabai sangat singkat. Oleh sebab itu penanganan mulai dari pemanenan sampai pengangkutan harus dilakukan hati-hati. Kecerobohan dalam pemanenan hanya akan membuat cabai mudah rusak dan menyebabkan penyusutan terhadap bobot cabai. Biasanya persentasi kerusakan adalah sbb :- Jumlah kerusakan di lapangan kira-kita 4 %- Jumlah kerusakan di pedagang pengumpul 7 %- Kerusakan di pasar pengumpul 10%- Kerusakan di pengecer (pasar) sekitar 2 % Kerusakan umumnya terjadi pada saat pengemasan atau selama pengangkutan. MIsalnya buahnya patah atau terbelah, tangkainya patah. Kerusakan fisik juga dapat disebabkan oleh lingkungan tempat penyimpanan yang lembab (90%) atau suhu tropis yang tinggi. Kerusakan fisik ditandai dengan membusuknya cabai segar yang disimpan Namun kelembaban lingkungan juga tidak boleh kurang dari 80 %, karena bisa membuat cabai kering sehingga tampak keriput dan tidak segar lagi. Kerusakan ini tentu merugikan. Oleh karena itu agar cabai sampai ke tangan pembeli dalam kualitas yang baik perlu penanganan ekstra saat panen dan pasca panen. 1. Panen dan Cara Panen Cabai Umumnya cabai dapat dipanen setelah 70-80 hari setelah tanam dengan interval panen 1-3 hari. Panen juga bisa dilakukan jika kondisi buah sudah masak sempurna ditandai dengan perubahan warna merah pada seluruh permukaan kulit cabai. Cabai yang belum masak sempurna biasanya memiliki noktah kehitaman pada kulitnya. Agar buah cabai yang dipanen tetap segar saat dijual sebaiknya seluruh buah yang telah masak sempurna segera dipasarkan. Beda jika buah cabai yang dipanen belum masak sempurna, pemasaran bisa ditunda dulu sampai kulit cabai merahnya rata. Cabai dipanen dengan cara dipetik satu per satu pakai tangan. Pemetikan dengan tangkainya harus hati-hati agar bunga yang baru tumbuh dari buah muda tidak ikut rontok. Penangangan yang kasar saat pemetikan akan mempengaruhi hasil. Pemanenan dapat dilakukan secara kontinue sampai tanaman umur 6-7 bulan dengan periode panen 1,5 - 2 bulan. Hal yang perlu diperhatikan saat panen cabai :1. Panen setelah seluruh cabai telah mencapai tingkat kematangan yang sama atau berwarna merah.2. Lakukan pemetikan setelah permukaan kulit cabai tak bacah oleh air. Ini untuk mengurangi terjadinya kontaminasi mikroba pembusuk3. Pada saat panen, hindari terjadinya luka dan patah pada cabang dan ranting.4. Pisahkan seghera buah yang busuk dengan buah yang sehat agar tidak terjadi penularan penyakit dari vcabai yang busuk ke cabai yang sehat.5. Upayakan agar hasil panen tidak kena sinar matahari langsung. Pasca Panen Sebelum disistribusikan , proses yang dilalui adakah :1. Sortasi Memilah, memisahkan antara cabai yang rusak (busuk, patah atau memar ). Tujuannya untuk memperoleh hasil yang berkualitas dan tingkat kematangan yang seragam2. Curing :Untuk memaksimalkan pembentukan dan kestabilan warna cabai sebelum diolah. Tujuannya untuk membuang panas lapang. Biasanya petani melakukan curing dengan menghamparkan cabai di tempat teduh3. Pengemasan :Pengemasan cabai dilakukan untuk melindungi cabai dari kerusakan selama pengangkutan. Kemasan dibuat dari berbagai bahan dan bentuknya disesuaikan dengan kapasitas cabai yang akan dikemas. Agar jumlah kerusakan selama pengangkutan kecil, cabai dikemas dalam dus karton kapasitas 10 kg. Kemasan ini biasanya untuk ekspor.Cabai disusun teratur hingga menenuhi volume boks kemasan. Kemasan diberi ventilkasi udara. Pada bagian luar di beri label dan gambar agar menarik Untuk pemasaran antar kota, petani biasanya mengemas cabai dengan jaring dengan kapasitas kira-kira 25-50 kg. Kemasan ini praktis, mudah dibongkar, namun tak dapat melindungi cabai dari kerusakan . Selain kemasan jaring yang dapat diugunakan lainnya adalah:1. Keranjang bambu ukuran alas 40 cm, tinggi 44 cm diameter tutup 50 cm3. Kemasan karton ukuran 35 x 40 x 50 cm yang keenam sisinya diberi lubang sirkulasi udara (diameter 1 cm jarak antara titik lubang 10 cm.)3. Karung plastikKetiga kantong itu idealnya mampu menampun cabai 20-25 kg.