Pasca panen adalah tahapan kegiatan sejak pemungutan hasil di lapangan sampai siap untuk dipasarkan, sedangkan penanganan pasca panen merupakan tindakan yang disiapkan atau dilakukan pada hasil pertanian agar hasil pertanian siap dan aman untuk dikonsumsi atau diolah lebih lanjut oleh industri. Penanganan panen dan pasca panen secara tepat menjamin kualitas benih jagung hibrida yang dihasilkan. Pendampingan dari BPTP dalam kegiatan perbenihan jagung hibrida di kelompok tani Ngudi Raharjo I Desa Wirosari Kecamatan Patean Kab. Kendal, tidak hanya pada teknik budidaya saja. BPTP memberikan pendampingan dalam Panen dan pasca panen yang merupakan tahap akhir dari proses perbenihan jagung hibrida. Kegiatan ini merupakan teknologi baru bagi kelompok tani Ngudi Raharjo I sehingga memerlukan bimbingan dan arahan untuk memperkecil tingkat kegagalan dan hasil benih berkualitas. Berikut adalah beberapa hal penting yang harus dilakukan dalam penanganan Panen dan Pasca panen secara tepat.1. Panen Secara visual, jagung sudah siap dipanen bila :• Batang, daun dan kelobot berubah menjadi kuning atau telah mengering• Klobot kering berwarna kuning dan bila dikupas biji mengkilap.• Bila biji ditekan dengan kuku tidak berbekas.• Terdapat bintik hitam pada bagian biji yang melekat pada tongkolPanen dilakukan pada kadar air 17-18%- Sebelum dipanen dapat dilakukan pemangkasan batang bagian atas untuk menurunkan kadar air tongkol disertai dengan pengupasan klobot sebagian atau seluruhnya- Cara panen jagung yang matang fisiologis adalah dengan memutar tongkol berikut kelobotnya, atau dapat dilakukan dengan mematahkan tangkai buah jagung. Pada lahan yang luas dan rata pemanenan sangat cocok bila menggunakan alat mesinKerusakan jagung akibat penanganan pasca panen yang salah dapat terjadi pada setiap tahapan kegiatan karena Jagung membutuhkan penanganan yang cepat setelah panen. BENTUK KERUSAKAN BIJI JAGUNGa. Rusak FisikBerupa kerusakan endosferm, terutama disebabkan sering terjadinya perubahan kadar air, perubahan kadar air disebabkan oleh cuaca seperti panas, hujan, pergantian siang dan malam. Butir retak dalam proses selanjutnya dapat menjadi butir pecah, juga dapat disebabkan oleh proses pemipilan dengan menggunakan alat pemukul atau mesin perontok yang kurang sempurna.b. Rusak Bilogis Disebabkan oleh kegiatan selama penyimpanan seperti hama, jamur, dan mikroba. Padaserangan hama sebagian endosferm dimakan dan sisanya berupa butir berbetuk biji cacat. Biji cacat mudah mengalami oksidasi asam lemak, menghasilkan asam lemak bebas dan memberikan bau tidak enak. Hama tikus merupakan sumber kontaminasi jagung yang berupa bulu dan kotoran sehingga mutu jagung menjadi rendahc. Rusak KimiaDisebabkan adanya dekomposisi kimia selama penyimpanan, seperti penurunan kadar karbohidrat, protein, dan lemak karena metabolisme baik oleh serangga dan mikroba maupun oleh biji-bijian yang disimpan. Rusak kimia tidak dapat diamati secara visual. 2. Sortasi Tongkol a. Sortasi dilakukan apabila proses pengeringan telah berlangsung 2 hari.b. Pastikan bahwa setelah sortasi, tidak tercampur varietas lain.c. Pastikan bahwa setelah sortasi, tidak ada tongkol yang berjamur.d. Pastikan bahwa setelah sortasi, tidak ada tongkol dengan biji warna lain.e. Singkirkan tongkol yang tidak normal (kecil, ompong). 3. Pengeringan tongkol Teknik Pengeringan tongkol dengan sinar matahari:a. Pastikan bahwa lantai jemur telah dialasi terpal dengan warna kuning atau biru.b. Pastikan bahwa terpal/lantai jemur bersih dari benih lain.c. Pastikan bahwa benih yang dikeringkan disebarkan secara merata, dengan tebal tumpukan tidak lebih dari 10 – 20 cmd. Pastikan bahwa pembalikan dilakukan setiap 2 – 4 jam selama proses pengeringan4. Pemipilan a. mesin pipil bersih dari kotoran dan benih lain.b. mesin pipil dalam keadan siap digunakan (baik).c. kadar air benih yang dipipil berkisar 17 %.d. benih yang akan dipipil sudah dingin.e. mesin pipil ditempatkan di atas alas terpal.f. putaran poros silinder pipil berkisar 500 – 600 rpm.g. setelah pemipilan, mesin pemipil dalam keadaan bersih dari sisa kotoran dan benih yang dipipil. 5. Pengeringan bijiPengeringan menggunakan lantai jemur dipastikan bahwa :a. Lantai jemur telah dialasi dengan terpalb. Terpal dan lantai jemur bersih dan benih lainc. Benih yang dikeringkan dihamparkan secara merata dengan ketebalan tupukan maksimal 5 cm.d. Pembalikan dilakukan setiap 2 – 4 jam selama proses penjemurane. Proses pengeringan biji dihentikan setelah kadar air benih mencapai 10 – 11 %f. Benih harus memiliki kadar air maksimal 17 % untuk dapat dipipil menggunakan corn shellerg. Pengeringan benih pipil dapat dilakukan dengan manual memanfaatkan sinar matahari atau menggunakan box dryerh. Suhu benih untuk dapat disimpan 9 – 12 %i. Setiap kenaikan 1 °C suhu maka daya simpan dapat berkurang separuhnyaj. Benih pada suhu 18 – 20 °C meningkatkan respirasi dan aktivitas micro organismek. Berdasarkan SNI Jagung Hidrida (SNI 016944.2003) persyaratan : Kadar air maksimum 12 % , benih murni minimum 98 %, Daya kecambah / daya tumbuh minimun 85% dan kotoran maksimum 2 % 6. Pengemasan dan Penyimpanana. Pendingin dapat menggunakan blast chiller atau ACb. Rak penyimpanan kantong benih harus kuat dan mampu menyangga beban berat.c. Kantong benih kedap udara dengan tebal 0.05 mmd. Kantong benih sebaiknya di seal dengan press sealere. Setiap rak benih sebaiknya hanya berisi 1 komoditas dan varietas tertentu agar memudahkan dalam organisasi dan operasi stok rutin.f. Kartu kontrol untuk setiap varietas harus tersedia dalam rak yang menjelaskan jumlah benih keluar dan stok benih tersedia.g. Untuk proses database yang lebih optimal menggunakan barcoding pada label benih. Penulis : Agustina Wati, SP (Penyuluh Pertanian BP Kecamatan Patean)Sumber Penulisan : Kegiatan Pendampingan Perbenihan Jagung Hidrida BPTP Jawa Tengah di Poktan Ngudi Raharjo I desa Wirosari Kec. Patean Kab. Kendal Sosialisasi Produksi Perbenihan Jagung Hibrida Balitbangtan Teknologi Produksi Benih Jagung Hibrida BPTP JawaTengah