Loading...

Penanganan Panen dan Pascapanen Primer Jagung

Penanganan Panen dan Pascapanen Primer Jagung
Teknologi pascapanen diperlukan untuk menjamin produk jagung pipil sampai ke tangan konsumen dalam keadaan baik. Tersedianya teknologi pascapanen jagung merupakan masukan untuk menjamin kesinambungan pengadaan bahan baku industrI jagung yang bermutu dan bebas dari aflatoksin serta menjaga kesinambungan agroindustri olahan jagung yang akan dikembangkan. PengeringanPengeringan merupakan salah satu proses penting yang dapat mempengaruhi kualitas jagung. Proses pengeringan yang tertunda dapat mengakibatkan kualitas jagung menjadi rendah dan terjadi susut hasil. Selain itu, jagung sebagai bahan konsumsi manusia dan ternak, mudah terkontaminasi aflatoksin. Untuk memperkecil kontaminasi aflatoksin maka setelah jagung dipanen harus ditangani dengan segera, yaitu dengan mengeringkan jagung tongkol hingga kadar air + 17%. Pengeringan jagung dilakukan dalam dua tahap, yaitu pengeringan tahap I dalam bentuk kelobot atau tongkol yang dilakukan sebelum pemipilan. Pada pengeringan tahap II yaitu pengeringan dalam bentuk biji hasil pipilan hingga kadar air 12-14%. Pengeringan dapat dilakukan dengan cara konvensional atau nonkonvensional. Teknik pengeringan konvensional yaitu di bawah sinar matahari dengan menggunakan alas jemur terpal. Cara penjemuran ini dapat dilakukan pada saat tanam musim kemarau karena panen dilakukan pada musim kemarau. Pengeringan dengan cara non konvensional dilakukan pada saat panen jatuh pada musim hujan dengan menggunakan beberapa jenis alat. PemipilanPemipilan jagung yang dilakukan dengan tepat akan menghasilkan jagung dengan kualitas yang baik. Penggunaan alat pemipil dapat mengurangi beban kerja, meningkatkan produktivitas kerja, meningkatkan mutu jagung pipilan dan pendapatan petani. Pengemasan dan PenyimpananPengemasan atau pengepakan merupakan tahapan akhir dari proses penanganan pascapanen primer di tingkat petani. Pengemasan adalah cara untuk melindungi bahan yang dikemas dari kerusakan akibat pengaruh lingkungan fisik, mekanis, dan kimia. Fungsi lain dari kemasan yaitu untuk mewadahi dan memudahkan proses pengangkutan. Cara pengemasan yang umum dilakukan petani jagung yaitu menggunakan kemasan karung plastik kapasitas 50-80 kg. Setelah dikemas, jagung langsung dijual/disimpan untuk digunakan pada tahap proses pascapanen, selanjutnya sering digunakan sebagai bahan baku produk olahan sekunder tersier. Penyimpanan merupakan faktor penting yang menentukan mutu jagung sebelum diolah menjadi bahan pangan, pakan, dan bahan baku industri lainnya. Penanganan penyimpanan perlu mendapat perhatian, karena adanya risiko kehilangan hasil secara kuantitatif (susut bobot akibat serangan tikus, serangga, tungau, dan mikroorganisme) maupun kualitatif (susut mutu yang menyebabkan penurunan kandungan karbohidrat, protein, dan ternak). Kerusakan selama penyimpanan, umumnya disebabkan oleh kondisi awal jagung, cara dan alat penyimpanan serta faktor lingkungan. Kerusakan jagung yang biasa terjadi selama penyimpanan dapat digolongkan menjadi (1) rusak fisik berupa keretakan endosperm, terutama disebabkan oleh sering terjadinya perubahan kadar air selama penyimpanan akibat pengaruh cuaca (2) rusak kimia akibat terjadinya dekomposisi kimia seperti penurunan kandungan karbohidrat, protein, dan lemak. Selain itu, kerusakan pada biji jagung dapat mendorong pertumbuhan Aspergillus flavus dan mempercepat terjadinya kontaminasi aflatoksi, yakni toksin yang dapat menyebabkan kanker hati pada hewan dan manusia. Penyimpanan jagung dalam karung plastik dapat dikombinasikan dengan penggunaan bahan nabati. Penggunaan bahan nabati mempunyai prospek yang baik untuk diterapakan di tingkat petani, karena relatif mudah diperoleh, murah, dan aman dikonsumsi. Contohnya, penggunaan rimpang dringo kering 1 - 1,5 berbentuk serbuk (dicampur dengan biji jagung) atau 2 - 2,5% berbentuk batangan (tidak dicampur dengan biji jagung) dalam penyimpanan jagung pipilan. Teknologi Pascapanen Sekunder dan TersierDalam upaya peningkatan daya guna jagung, perlu dilakukan diversifikasi pengolahan produk pangan asal jagung. Produk pangan yang dimaksud merupakan bahan olahan setengah jadi atau siap dikonsumsi. Bahan olahan harus disukai konsumen dan secara ekonomis pengolahan bahan tersebut mempunyai efisiensi yang tinggi. Industri jagung dapat dijadikan alternatif dalam upaya peningkatan nilai tambah. Diversifikasi pangan dan pengolahan merupakan strategi yang tepat untuk mendorong peningkatan konsumsi jagung, tercapainya swasembada pangan, meningkat gizi masyarakat dan memberikan peluang usaha serta meningkatkan pendapatan petani. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan