Loading...

Penanganan Pasca Panen Primer Kedelai

Penanganan Pasca Panen Primer Kedelai
Kedelai merupakan jenis kacang-kacangan yang paling banyak dikonsumsi dan sebagai sumber protein nabati terpenting di Indonesia. Ditinjau dari sisi pangan dan gizi, kedelai merupakan sumber protein yang paling murah di dunia, selain sebagai sumber minyak yang bermutu tinggi. Kedelai sering dikonsumsi masyarakat dalam bentuk tahu, kecap, tauco dan susu kedelai. Untuk mendapatkan produk olahan kedelai yang bermutu baik, harus didukung dengan mutu bahan baku yang sesuai, dan hal ini terkait erat dengan kegiatan penanganan pascapanen yang meliputi: 1) pengeringan brangkasan, 2) pembijian/pemolongan, 3) pembersihan 4) pengemasan, pengangkutan, dan 5) penyimpanan.Penanganan pascapanen merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan pada saat dan setelah panen agar hasil pertanian siap dan aman digunakan oleh konsumen dan atau diolah lebih lanjut oleh industri. Berdasarkan sifat kegiatannya, pascapanen dapat dikategorikan menjadi dua: 1. Pascapanen primer (penanganan pascapanen), 2. Pascapanen sekunder (pengolahan hasil pertanian). Tujuan penanganan pascapanen: Menekan tingkat kerusakan hasil panen komoditas pertanian, meningkatkan daya simpan dan daya guna komoditas pertanian agar dapat menunjang usaha penyediaan bahan baku industri. Meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petani, memperluas kesempatan kerja, melestarikan sumberdaya alam dan lingkungan hidup, dan meningkatkan devisa negara. Oleh karena itu, penanganan pascapanen yang tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan agribisnis.Adapun rangkaian kegiatan penanganan pasca panen sebagai berikut:a. Menentukan saat panen, tentunya disesuaikan dengan umur tanaman. Untuk itu disesuaikan dengan varietas yang ditanam apakah masuk kategori umur genjah, umur tengan atau umur dalam.b. Memilih alat panen, panen dapat dilakukan dengan sabit tajam atau bergerigi dengan memotong pangkal batang. Atau bisa juga dengan tenaga traktor tangan. Kalau menggunakan sabit masih memerlukan proses pengumpulan dan pengangkutan kedelai barangkasan.c. Pengeringan Brangkasan, dijemur di bawah sinar matahari. Hal tersebut dapat dilakukan di atas lantai jemur, menggunakan alas plastik (berwarna hitam/gelap). Brangkasan kedelai yang baru dipanen tidak boleh ditumpuk supaya tidak rusak. Kalau pengeringan dengan para-para, biasanya dilakukan terutama bila waktu musim hujan. Para para dibuat bertingkat, kemudian brangkasan kedelai ditebar merata di atas para-para tersebut. Dari bawah para-para, dialirkan panas dari sekam, untuk menurunkan kadar air brangkasan.d. Brangkasan kering dipukul dengan karet ban dalam sepeda atau kain, untuk menghindarkan terjadinya biji pecah. Selain dengan menggunakan alat tersebut, bisa juga menggunakan alat mekanis (power thresher) Pembijian menggunakan power thresther yang biasa digunakan untuk merontok padi. Pada waktu perontokan dikurangi hingga mencapai kurang lebih 400 rpm. Brangkasan kedelai yang dirontokkan dengan alat ini hendaknya tidak terlalu basah, karena kadar air yg tinggi dapat mengakibatkan biji rusak dan peralatan tidak dapat bekerja dg baike. Ditampi, biji yang terlepas dari polong selanjutnya ditampi dan biji dijemur sampai kadar air mencapai maksimal 14 %. Tampi terbuat dari anyaman bambu, berbentuk bulat dan diberi bingkai penguat. Selain itu bisa menggunakan mesin pembersih (Winower). Mesin ini merupakan kombinasi antara ayakan dengan blower.f. Disortasi, agar mutunya sama dengan kedelai impor khususnya dari segi keseragaman ukuran. Hal ini sejalan keragaman preferensi industri tahu dan tempe, yang menghendaki biji kecil dan besar. g. Pengemasan, biji kedelai yang telah bersih disimpan dalam wadah yg bebas hama dan penyakit seperti karung goni / plastik atau bakul. Bila diangkut pada jarak jauh, hendaknya dipilih jenis wadah/kemasan yang kuat. Tempat penyimpanan: teduh, kering dan bebas hama/penyakit. Kadar air biji kedelai yg disimpan: 9-14 %. Khusus biji yang akan dijadikan benih, kadar airnya maksimal 9 %. Biji yang akan dijadikan benih ini sebaiknya dicampur dengan abu jerami, disimpan dalam kaleng dan setiap bulan dijemur. Dengan cara ini biji dapat disimpan lama, sekitar empat bulan, bahkan bisa mencapai setahun.h. Penyimpanan, dapat dikelompokan menjadi dua cara, yaitu penyimpanan udara bebas dan penyimpanan kedap udara. Pada penyimpanan udara bebas, udara lingkungan yang berhubungan langsung dengan ruang penyimpanan, sehingga kontaminasi kotoran, hama dan penyakit mudah terjadi. Daya simpan kedelai dapat ditingkatkan dengan salah satu cara atau kombinasi antara 1) kadar air rendah, 2) menggunakan kemasan, 3) kedelai bersih dan bebas hama, 4) menurunkan kelembaban ruang penyimpanan, 5) memberikan aerasi, dan 6) memberantas hama serta penyakit secara periodik.Jadi penanganan pascapanen yang tepat bagi produk-produk hasil panen kedelai tanaman memegang peranan penting dalam peningkatan mutu, memperpanjang daya simpan dan meningkatkan posisi tawar petani akan produk yang dihasilkan. Penerapan langkah-langkah penanganan pascapanen yang benar juga dapat mengurangi kehilangan hasil sehingga meningkatkan pendapatan petani, dan secara nasional dapat meningkatkan ketersediaan pangan.Penyunting: Yulia Tri Semail : yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber: 1. I.K Tastra, 2007 Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan umbi-umbian Malang. 2. http://slideplayer.info/slide/2618488/