Loading...

Penanganan Pasca Panen Ubi Jalar (Ipomea batatas. L)

Penanganan Pasca Panen Ubi Jalar (Ipomea batatas. L)
Salah satu usaha untuk meningkatkan hasil ubi jalar atau ketela rambat adalah memperhatikan pasca panennya agar mendapatkaan hasil dengan kualitas, yang baik. Dengan perlakuan yang kurang tepat, akan menyebabkan ubi busuk, ataupun bolengen. Untuk mendapatkan hasil pasca panen yang baik, diperlukan perlakuan/ tahapan sebagai berikut. 1. Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh angkutan 2. Pemilihan atau penyortiran ubi jalar sebenarnya dapat dilakukan pada saat pencabutan berlangsung. Akan tetapi penyortiran ubi jalar dapat dilakukan setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garis- garis pada daging umbi. Penanganan pascapanen ubi jalar biasanya ditujukan untuk mempertahankan daya simpan. Penyimpanan ubi yang paling baik dilakukan dalam pasir atau abu. Tata cara penyimpanan ubi jalar dalam pasir atau abu adalah sebagai berikut: a) Angin-anginkan ubi yang baru dipanen di tempat yang berlantai kering selama 2-3 hari. b) Siapkan tempat penyimpanan berupa ruangan khusus atau gudang yang kering, sejuk, dan peredaran udaranya baik. c) Tumpukkan ubi di lantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering atau abu setebal 20-30 cm hingga semua permukaan ubi tertutup. Cara penyimpanan ini dapat mempertahankan daya simpan ubi sampai 5 bulan. Ubi jalar yang mengalami proses penyimpanan dengan baik biasanya akan menghasilkan rasa ubi yang manis dan enak bila dibandingkan dengan ubi yang baru dipanen. Hal yang penting dilakukan dalam penyimpanan ubi jalar adalah melakukan pemilihan ubi yang baik, tidak ada yang rusak atau terluka, dan tempat (ruang) penyimpanan bersuhu rendah antara 27-30 derajat C (suhu kamar) dengan kelembapan udara antara 85-90 %. Hama Pasca Panen hama yang menyerang ubi jalar yang terbanyak adalah hama C. formicarius dan diikuti oleh hama ulat grayak dan hama lainnya yang tidak diketahui jenisnya, dari data diatas diketahui pada minggu ke 0 tidak terdapat adanya hama yang berada pada umbinamun pada minggu pertama mulai awal pengamatan mulai terdapat serangan hama yaitu serangan C. formicarius dan ulat grayak yang dapat mengakibatkan kerusakan dan apabila terus menerus akan mengakibatkan kerusakan yang sangat fatal pada ubi jalar. Dari data diketahui bahwa hanya perlakuan satu yang terdapat serangan C. formicarius hal ini mungkin disebabkan pada umbi yang berada pada perlakuan satu saja yang mengandung C. formicarius dan pada perlakuan lain tidak terdapat adanya hama C. formicarius dan hama-hama lainnya hal ,ini membuktikan bahwa C. formicarius masih dapat berkembang pada umbi yang telah di hinggapinya. Kemudian pada minggu berikutnya yaitu minggu ke 2 hama C. formicarius mengalami perkembangan yaitu jumlahnya bertambah,hal ini mungkin larfa yang masih berada dalam umbi telah menjadi imago (C. formicarius). namun untuk ulat grayaknya sudah tidak ada,hal ini mungkin ulat grayak itu mati karena tidak tahan berada di dalam ubi,karena perlakuan yang dilakukan ubi yaitu dengan menempatkan ubi ke dalam kotak plastic, dan ulat grayak tidak tahan terhadap kondisi seperti itu. Kemudian pada minggu berikutnya yaitu pada minggu ke 3 hama yang masih tinggal adalah C. formicarius dan jumlahnya masih tetap dan sama dengan minggu sebelumnya yaitu berjumlah 2, namun pada perlakuan 2 terdapat hama yang tidak diketahui jenisnya, dengan cirri-ciri seperti kutu dan mempunyai tanduk kecil di bagian kepalanya, mungkin bisa di gambarkan seperti kumbang yang menyerang pada beras. Dari data diatas diketahui hama yang paling banyak menyerang ubi jalar adalah hama C. formicarius yang dapat mengakibatkan kerusakan pada ubi jalar akibat dari sarangan C. formicarius dapat mengakibatkan ubi jalar sudah tidak dapat di konsumsi dan hal ini sudah terbukti dari beberapa sumber yaitu diantaranya Hasil pengujian laboratorium di Jepang menunjukkan bahwa akar tanaman ubi jalar yang terserang kumbang C.formicarius selama 24 jam akan menghasilkan terpene phytoalexins. Diduga enzim pektolitik yang terdapat pada kumbang C. formicarius adalah terpen (Sato et al. 1982). Selanjutnya dinyatakan bahwa sisa gerekan di dalam batang menyebabkan malformasi, penebalan, dan patahnya batang rambat serta daun menjadi hijau pucat. Supriyatin (2001) mengemukakan bahwa warna jaringan di sekitar lubang gerekan pada umbi akan berubah menjadi lebih gelap dan membusuk, sehingga umbi tidak layak dikonsumsi karena rasanya pahit. Bila dikonsumsi umbi tersebut akan merangsang pembentukan senyawa toksik yang dapat mempengaruhi kerja hati dan paru-paru manusia (Supriatin 2001). Dari pernyataan tersebut maka perlu adanya tindakan untuk mencegah terjadinya serangan yang dapat mengakibatkan kerusakan yang fatal dan dapat merugikan petani dan juga merudak kesehatan bagi yang telah mengkonsumsinya tindakan yang dilakukan adalah dengan dua cara yaitu tindakan secara prefentif dan tindakan secara kuratif. Dimana tindakan-tindakan tersebut sangat membantu untuk mengurangi atau meminimalisir tingkat serangan yang bisa terjadi. Tindakan secara prefentif adalah tindakan-tindakan yang dilakukan sebelum terkadi serangan yang bertujuan untuk mencegah adanya serangan yang mungkin bisa masuk,dan tindakan secara kuratif adalah tindakan yang dilakukan setelah terjadi serangan atau bisa dikatakan tindakan yang dilakukan pada saat ubi mengalami serangan. Pengendalian menggunakan cara prefentif,yaitu dengan melakukan beberapa cara dengan menerapkan konsep pengendalian hama terpadu (PHT). PHT merupakan pendekatan ekologi dalam pengelolaan agroekosistem. Oleh karena itu, PHT mengutamakan berfungsinya mekanisme pengendalian alami yang secara dinamis dapat menjaga populasi hama tetap berada pada keseimbangan umum yang rendah. Komponen PHT meliputi peng gunaan varietas tahan, teknik bercocok tanam, musuh alami, dan penggunaan pestisida bila diperlukan. CABI (2001) melaporkan bahwa beberapa komponen pengendalian C. formicarius yang telah diteliti meliputi teknik bercocok tanam, pemusnahan inang antara, serta peng- gunaan varietas tahan, musuh alami, dan seks feromon. Pengendalian menggunakan musuh alami merupakan pengendalian yang cukup efektif. Musuh alami yang berupa pathogen belum banyak diketahui baik jenis maupun perannya. Beberapa jenis pathogen yang menjadi musuh alami C. formicarius adalah jamur, virus, bakteri, protozoa, dan nematoda. Di antara jamur entomopatogenik, Beauveria bassiana adalah yang paling efektif. Mortalitas C. formicarius mencapai 80–90% jika spora B.bassiana diaplikasikan pada tanah steril(Talekar et al. 1989). Capinera (1998) menyatakan bahwa B. bassiana mampu menyebabkan kematian yang besar pada kondisi kelembapan tinggi dan kepadatanC. formicarius yang juga tinggi. Untuk pengendalian secara kuratif yaitu dengan melakukan pemotongan umbi yang telah terserang dan membuangnya, hal ini merupakan salah satu cara agar serangan yang diakibatkan tidak menyebar ke seluruh bagian umbi dan juga dengan menyortir umbi yang telah terserang dengan mengelompokkan tingkat kerusakannya dengan begitu kita dapat mengetahui mana yang masih bisa dipertahankan, cara ini merupakan cara yang efektif karena melihat adanya tingkat kerusakannya, apabila tidak dilakukan maka akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar,sehingga kerugiannyapun semakin besar apabila tidak dilakukan. Penyunting: Yulia Tri S Email: yulia.trisedyowati@yahoo.co.id Sumber : Titis Priyowidodo, Cara Budidaya ubi jalaar Organikhttp://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23711/5/Chapter%20I.pdfhttp://anekaplanta.wordpress.com/2010/01/25/mengembangkan-ubi-jalar/http://peluangusaha.kontan.co.id/news/potensi-pengembangan-usaha-tepung-ubi-jalar-terbuka-lebarhttp://www.agromaret.com/artikel/639/kegiatan_pasca_panen_ubi_jalarDan sumber-sumber lain