Loading...

Penanganan Pascapanen Sorgum

Penanganan Pascapanen Sorgum
Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan komoditas serealia yang belum banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Padahal kandungan zat gizi sorgum tidak kalah dengan beras. Bahkan sorgum mengandung protein (8-12%) setara dengan terigu atau lebih tinggi dibandingkan dengan beras (6-10%), dan kandungan lemaknya (2-6%) lebih tinggi dibandingkan dengan beras (0,5-1,5%). Sorgum memiliki segudang keuntungan untuk dibudidayakan, beberapa di antaranya berupa produktivitas dan daya adaptasinya yang tinggi, juga tahan terhadap penyakit dan hama tanaman. Sorgum merupakan jenis tanaman biji-bijian dengan kandungan nutrisi (protein tinggi) yang paling baik ditanam di wilayah beriklim basah dan lembap. Sorgum bisa diolah untuk dijadikan bahan pangan hingga bahan baku industri seperti kertas, lem, plastis, cat, dan lain-lain. Kandungan nutrisi sorgum cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai substitusi beras (makanan pokok), juga bisa untuk makanan sampingan (makanan kecil seperti beraneka kue). Sementara untuk pakan ternak, sorgum bisa digunakan untuk pengganti jagung. . Penanganan pascapanen merupakan salah satu mata rantai penting yang harus mendapat perhatian dalam usahatani sorgum. Walaupun saat ini belum ada standar mutu dalam perdagangan sorgum namun penerapan teknologi pascapanen yang baik, terutama ditingkat petani diperlukan agar produk biji yang dihasilkan lebih kompetitif dan mampu bersaing di pasar bebas. Sebagai salah satu tanaman pangan utama selain padi dan jagung, sorgum membutuhkan pengelolaan pascapanen yang tepat untuk mencegah kehilangan hasil, baik dalam bentuk kuantitatif (tercecer, dimakan burung) maupun kehilangan kualitatif (serangan hama dan penyakit pascapanen). Penanganan Pascapanen SorgumPanen. Panen dilakukan bila biji sudah masak optimal. Di lapangan bisa dilakukan dengan mengambil beberapa biji sorgum, lalu digigit. Bila biji waktu digigit terasa keras dan terasa tepungnya, maka biji sorgum dianggap sudah cukup tua. Biji yang sudah tua tapi tidak segera dipanen, akan turun mutunya. Hal ini karena biji mudah tumbuh bila kelembaban udara di kebun cukup tinggi. Selain itu, hasil panen makin menurun karena dimakan burung. Tanda saat panen lainnya yaitu daun mulai mengering dari bawah ke atas. Kadar air panen rata-rata 20%, namun di daerah yang kering bisa mencapai 16%. Untuk memudahkan perontokan, malai dipotong dengan tangkai malainya cukup panjang (20-30 cm) agar memudahkan pemegangannya. Cara panen. Panen dilakukan dengan cara memangkas tangkai mulai 7,5 - 15 cm di bawah bagian biji dengan menggunakan sabit. Hasil pemangkasan kemudian diikat dengan ukuran sekitar 20 Kg - 40 Kg setiap ikatnya. Waktu panen. Sorgum dipanen apabila biji dianggap telah masak optimal, biasanya ±45 hari setelah bakal biji terbentuk.Panen SorgumPemanenan sorgum dilakukan dengan mengacu pada deskripsi serta penampakan fisik di lapangan. Keterlambatan dalam pemanena sorgum berakibat menurunkan hasil panen 8-16%. Demikian halnya dengan pengeringan, perontokan, penyosohan untuk mengeluarkan tannin yang melekat pada biji serta penyimpanan yang harus dikelola dengan baik. Penyimpanan yang baik selain menjaga daya tumbuh biji sampai 8 bulan, daya kecambah >80% juga mencegah serangan hama gudang. Melalui manajemen pascapanen diharapkan akan dihasilkan produk biji yang berkualitas mendukung program pengembangan sorgum yang sedang digalakkan pemerintah. Aspek terkait pengelolaan pascapanen sorgum mulai dari panen, pengeringan,perontokan, penyosohan sampai kepada penyimpanan.Pengeringan. Biasanya pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran selama ± 60 jam hingga kadar air biji mencapai 10 - 12 %. Kriteria untuk mengetahui tingkat kekeringan biji biasanya dengan cara menggigit bijinya. Bila bersuara berarti biji tersebut telah kering. Apabila hari hujan atau kelembaban udara tinggi, pengeringan dapat dilakukan dengan cara menggantungkan batang-batang sorgum diatas api dalam suatu ruangan atau di atas api dapur.Perontokan. Perontokan secara tradisionil dilakukan dengan pemukul kayu dan dikerjakan di atas lantai atau karung goni. Pemukulan dilakukan terus menerus hingga biji lepas. Setelah itu dilakukan penampian untuk memisahkan kotoran yang terdiri dari daun, ranting, debu atau kotoran lainnya. Sejumlah biji dijatuhkan dari atas dengan maksud agar kotorannya dapat terpisah dari biji dengan batuan hembusan angin. Agar dicapai hash yang terbaik dan efisien dianjurkan agar menggunakan wadah supaya biji tetap bersih, usahakan agar biji segera dirontok setelah panen untuk mencegah serangan tikus dan burung, dan kadar air tidak boleh lebih dari 10 - 12 % untuk mencegah pertumbuhan jamur.Penyimpanan. Penyimpanan sederhana di tingkat petani adalah dengan cara menggantungkan mulai sorgum di ruangan di atas perapian dapur. Cara ini berfungsi ganda yaitu untuk melanjutkan proses pengeringan dan asap api berfungsi pula sebagai pengendalian hama selama penyimpanan. Namun jumlah biji yang dapat disimpan dengan cara ini sangat terbatas. Bila biji disimpan dalam ruangan khusus penyimpanan (gudang) maka tinggi gudang harus sama dengan lebarnya supaya kondensasi uap air dalam gudang tidak mudah timbul. Dinding gudang sebaiknya ' terbuat dari bahan yang padat sehingga perubahan suhu yang terjadi pada biji dapat dikurangi. Tidak dianjurkan ruang penyimpanan dari bahan besi, karma sangat peka terhadap perubahan suhu. Sebelum disimpan biji harus kering, bersih dan utuh (tidak pecah).Pengolahan. Bergs Sorgum (bergs sorgum giling). Bergs Sorgum yang dimaksud adalah biji Sorgum lepas kulit sebagai hash penyosohan sehingga diperoleh bergs sorgum giling. Untuk menyosoh biji sorgum digunakan mesin yang terdiri dari silinder gurinda batu, sehingga bergs yang dihasilkan putih bersih. Dengan sifat ini ternyata sorgum jenis non waxy dapat digunakan sebagai nasi, bubur dan bentuk olahan lain. Sedangkan jenis sorgum ketan (waxy Sorgum) yang rasanya pulen dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat minyak (snack) seperti tape, Temper, rengginang dan wajik.Penyusun: Sundari/BBP2TP BogorSumber : - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Komisi Nasional Plasma Nutfah. Panduan Jagung dan Sorgum. 2004.- Home » Pertanian » TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN SORGUM Pertanian