Setelah dipanen, brangkasan kedelai ( daun, batang dan polong) harus secepatnya di keringkan, karena bisa mengakibatkan biji atau benih yang dihasilkan bermutu rendah ( biji berjamur, berkecembah, atau busuk). Penundaan proses pengeringan brangkasan selama 2 hari membuat persentase biji rusak mencapai 32% dan bila penundaan diperlama lagi ( 3 hari – 5 hari) presentase biji rusak akan meningkat menjadi 48 %. Penurunan daya tumbuh benih akibat penundaan pengeringan brangkasan berbeda-beda ( antara 36 – 67%), tergantung dari varietasnya.Tujuan pengeringan kedelai untuk mengeringkan polong agar bulir kedelai mudah dirontokkan dari dalam polongnya melalui proses penguapan air biji kedelai dengan menurunkan presentase kadar air dalam biji dari sekitar 15 – 18% menjadi sekitar 12 – 13 %. Pengeringan dapat dilakukan secara alami dengan cara menjemur di sinar matahari atau dapat juga dengan menggunakan mesin pengering. Pengeringan kedelai yang umum dilakukan petani yaitu dengan pengeringan secara alami. Apabila pemanenan kedelai dilakukan pada kadar air rendah, proses penjemuran/ pengeringan dilakukan selama 4 – 6 jam. Sedangkan apabila pemanenan dilakukan pada kadar air tinggi , pengeringan dilakukan di ladang selama 1 – 2 hari sampai kadar air mencapai 25 -30 % , kemudian diangkut ke rumah petani. Selanjutnya pengeringan di pekarangan petani/ kelompoktani selama 2 – 3 hari sehingga kadar air mencapai 15 – 17%. Dalam pengeringan kedelai , faktor yang penting diperhatikan antara lain : 1) Suhu. Suhu pengering dan suhu kedelai tidak sama . Pengeringan dengan suhu tinggi menyebabkan suhu kedelai juga tinggi, yang dapat menurunkan bahan kering kedelai, meningkatkan butir retak, butir rusak, menurunkan rendeman, menurunkan pati, menghilangkan rendeman dan mutu minyak serta merusak lembaga / viabilitas benih; 2) Kadar air awal rendah; 3) Mempertahankan laju pengeringan 4 – 5 %/ jam; 4) Melakukan tempering selama pengeringan ; 5) Melakukan pendinginan setelah pengeringan. Dalam proses pengeringan, terdapat dua bentuk bahan yang akan dikeringkan yaitu bentuk brangkasan tanaman dan dalam bentuk biji.• Pengeringan dengan brangkasan tanamanPengeringan dalam bentuk brangkasan tanaman kedelai menggunakan panas sinar matahari sekitar 2 – 5 hari tergantung kondisi cuaca saat itu. Agar biji yang keluar dari polong tidak tercecer dan tidak terlempar keluar akibat pemukulan polong sebaiknya dipasang tabir disekeliling tempat pembijian. Pengeringan alami (sinar matahari) sangat tergantung pada kondisi cuaca yang ada. Pada saat cuaca cerah penjemuran sangat efisien dan sangat murah. Laju penurunan kadar air dapat mencapai 0,5 – 1%/ jam. Pengeringan dilakukan di atas lantai jemur yang terbuat dari semen atau di atas tanah dengan memakai alas plastik kedap air atau dengan terpal. Lantai jemur yang baik terbuat dari batu merah yang dilapisi semen. Di daerah dengan curah hujan yang tinggi, lantai jemur sebaiknya dibuat bergelombang supaya air hujan tidak tergenang di tengah. Hindari brangkasan dari air hujan dengan cara menutupnya dengan terpal atau memindahkan ke tempat teduh. Gunakan terpal ukuran 8 x 8 meter.Pengeringan brangkasan kedelai dengan lantai jemur dilakukan dengan cara :a. Brangkasan kedelai dengan ketebalan 20 cm diletakkan di atas lantai jemur dengan merata. b. Setiap 2 jam dilakukan pembalikan agar pengeringan benar-benar merata, sampai kadar air biji ± 17 % yang ditandai dengan mudahnya polong pecah. Kadar air dapat dicapai dalam 1 – 2 hari penjemuran. Apabila panen jatuh pada musim hujan dan petani tidak memiliki mesin pengering (dryer) , dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu : a. Kedelai brangkasan dihamparkan setipis mungkin ( tebal 10 cm) dalam suatu bangsal yang dapat dibuat dari atap terpal/plastik. Dengan cara ini kedelai brangkasan diharapkan cukup mendapatkan aerasi secara alami.b. Pengeringan dengan para-para, Brangkasan kedelai ditebar merata diatas para-para yang disusun secara bertingkat. Dari bawah dialirkan panas dari sekam , untuk menurunkan kadar air . Barangkasan dianggap cukup kering, bila kadar airnya telah mencapai kurang lebih 18 %Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi banyaknya biji yang rusak akibat kesalahan dalam proses pengeringan yaitu dengan mengikat beberapa brangkasan tanaman kedelai (0,5 – 2 kg/ikat), kemudian didirikan terbalik atau digantungkan pada lengan-lengan rak pengering. Pengeringan dengan mesin pengeringPengeringan dengan memakai mesin pengering lebih dianjurkan karena dapat meningkatkan mutu pengeringan.Laju pengeringan hendaknya diatur sedemikian rupa guna mencegah terjadinya keretakan pada biji. Pengeringan brangkasan dengan suhu maksimal 60? C. Mesin pengering dapat dari tipe bak yang sumber panasnya dari tungku sekam/ biomassa. • Pengeringan Biji Kedelai Pengeringan biji kedelai dapat menggunakan alat pengering khusus. Ada dua tipe alat pengering yang dapat digunakan yaitu tipe rak dan tipe bak. Tipe rak untuk pengeringan yang bersifat mobilitas ( pindah tempat) sementara tipe bak untuk pengeringan diam tidak dapat di pindah-pindah.Kadar air biji kedelai ( 17 – 20 %) hasil perontokan masih perlu dikeringkan sampai kadar air aman ( 13 -14 %) .Pengeringan biji kedelai dilakukan dengan penjemuran di atas lantai jemur maupun mesin pengering.- Pengeringan biji kedelai di atas lantai jemur dilakukan dengan cara biji kedelai diletakkan di atas lantai jemur dengan merata. Selama pengeringan, biji kedelai di bolak balik agar tingkat kekeringan merata. - Pengeringan biji kedelai dengan mesin pengering suhu maksimal sekitar 50? C. Penyunting : Asia ( Penyuluh BPPSDMP)Sumber Informasi : Teknologi Penanganan Pasca Panen Kedelai. Direktorat Pasca Panen Tanaman Pangan . Ditjen Tanaman Pangan.2013.