Loading...

PENANGGULANGAN HAMA TIKUS

PENANGGULANGAN HAMA TIKUS
Pelaksanaan Kegiatan Hari /tanggal : Selasa/14 Mei 2019 Tempat : Subak Dlod Getakan Tikus sawah merupakan hama penting tanaman padi yang tiap tahun serangannya lebih dari 17 % dari total luas arel padi. Hal ini disebabkan karena pengendalian hama tikus oleh petani selalu terlambat, karena mereka mengendalikan setelah terjadi serangan dan kurangnya monitoring oleh petani. Dalam kesempatan ini dilaksanakan pengendalian hama tikus yang dilaksanakan atas kerjasama petani di subak Dlod Getakan, petugas lapangan dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang ada di kecamatan Banjarangkan. Sebelumnya ada beberapa cara pengendalian yang biasa dilaksanakan di petani dalam pengendalian hama tikus sawah: Tanam dan panen serempak. Dalam satu hamparan, diusahakan selisih waktu tanam dan panen tidak lebih dari 2 minggu untuk mencegah terjadinya perkembangbiakan tikus yang terus menerus. Sanitasi habitat. Membersihkan gulma dan semak-semak pada habitat utama tikus yang meliputi tanggul irigasi, jalan sawah, batas perkampungan, pematang, parit, saluran irigasi, kegiatan ini dilakukan selama musim tanam padi Gerakan bersama (gropyokan massal). Gerakan ini dilakukan serentak pada awal tanam melibatkan seluruh petani. Gunakan berbagai cara untuk menangkap/membunuh tikus seperti penggalian sarang, pemukulan, penjeratan, pengoboran malam, perburuan dengan anjing, dan sebagainya. Fumigasi/pengemposan. Fumigasi dapat efektif membunuh tikus dewasa beserta anak-anaknya di dalam sarang. Agar tikus mati, tutuplah lubang tikus dengan lumpur setelah difumigasi dan sarang tidak perlu dibongkar. Lakukan fumigasi selama masih dijumpai sarang tikus terutama pada stadium generatif padi. Memanfaatan musuh alami. Cara termudah ini adalah dengan tidak mengganggu atau membunuh musuh alami tikus sawah, khususnya pemangsa, seperti burung hantu, burung elang, kucing, anjing, ular tikus, dan lain-lain. Rodentisida, Merupakan cara kedelapan ini, digunakan hanya apabila populasi tikus sangat tinggi terutama pada saat bera atau awal tanam. Penggunaan rodentisida harus sesuai dosis anjuran. Umpan ditempatkan di habitat utama tikus, seperti tanggul irigasi, jalan sawah, pematang besar, atau tepi perkampungan. Cara pengendalian lokal lainnya. Cara yang umum dilakukan petani di Bali ialah dengan melakukan pengendalian secara niskala. Yaitu dengan cara melakukan upacara neduh, nangluk merana yang diharapkan dapat mengendalian serangan hama tikus. Kegiatan yang dilaksanakan di Subak Dlod Getakan ialah pengendalian secara gerakan bersama dengan melakukan aplikasi pengemposan dan pemasangan racun tikus /Rodentisida