Loading...

Pencegahan Dan Penanganan Penyakit Cacing Pada Ternak Sapi Bali

Pencegahan Dan Penanganan Penyakit Cacing Pada Ternak Sapi Bali
OLEH : MUHAMMAD ABDUH QUDRATULLAH (KJF KABUPATEN MAMUJU) Sapi Bali merupakan salah satu bangsa sapi asli indonesia yang memiliki beberapa keunggulan-keunggulan. Keunggulan utamanya adalah mudah beradaptasi pada hampir seluruh kondisi tropis di Indonesia sehingga membuatnya terkenal sebagai sapi dengan julukan “sapi perintis”. Keunggulan lainnya adalah tetap produktif pada kondisi lingkungan baru. Selain itu, sapi Bali mempunyai daya tahan yang baik terhadap caplak dan cacing dibanding sapi-sapi lainnya. Sapi Bali sudah tersebar dibeberapa wilayah di Indonesia salah satunya adalah Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat, ternak sapi ini paling disukai oleh peternak untuk dibudidayakan hal ini disebabkan karena sapi Bali memiliki tingkat fertilitas yang sangat tinggi (80 % - 85 %) dengan jarak beranak antara 12 -14 bulan. Sapi Bali mencapai dewasa kelamin rata-rata pada umur 18 bulan. Siklus estrus pada betina muda berkisar antara 16 – 23 hari. Lama berahi sangat panjang, yakni sekitar 36 – 48 jam dengan masa subur 18 -27 jam. Pola pemeliharaan yang dilakukan oleh peternak di Kabupaten Mamuju ada 3 yaitu secara intensif, semi intensif dan ekstensif. Pola intensif yaitu peternak yang memberikan Hijauan pakan Ternak dan tambahan konsentrat kepada ternaknya didalam kandang secara adlibitum yang sebagian besar dilakukan untuk usaha penggemukan, semi intensif yaitu peternak hanya memberikan hijauan.Pakan ternak dan konsentrat pagi atau sore hari setelah itu ternak sapi diumbar/digembalakan. Pola ekstensif, yaitu ternak diumbar atau digembala. Pemeliharaan yang secara terus menerus sepanjang waktu dengan jumlah ternak yang tidak terkontrol pada tempat yang sama memberi peluang terinfeksi cacing yang biasanya banyak terjadi pada ternak dengan pola pemeliharaan secara ekstensif. Sapi Bali yang terinfeksi cacing menyebabkan kerugian secara ekonomi seperti rendahnya pertambahan bobot badan sapi, penurunan produksi, tingkat konsepsi yang rendah dan bahkan kematian pada tingkat serangan yang hebat. Pengendalian dan penanganan kasus cacingan pada ternak sapi Bali dapat dilakukan dengan cara memutus siklus hidup parasit cacing tersebut dengan merubah pola pemeliharaan dari ekstensif ke semi intensif atau intensif kemudian pemberian pakan berkualitas dengan kandungan nutrisi yang cukup seperti pemberian Rumput-rumputan, tambahan legume dan konsentrat (sebaiknya rumput dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan pada ternak sapi Bali), memperhatikan sanitasi dan kebersihan kandang. Ternak sapi Bali tidak digembalakan terlalu pagi karena pada waktu tersebut larva cacing biasanya dominan berada dipermukaan rumput yang masih basah dan diberikan rumput yang muda. Melakukan pemeriksaan kesehatan dan program pemberian obat cacing secara teratur. Pemberian Obat cacing merupakan langkah utama dalam upaya pengendalian dan penanganan cacingan baik pada sapi pedet maupun dewasa. Program pemberian obat cacing sebaiknya pada umur 1 minggu dan diulang secara berkala setiap 3 bulan sekali guna membasmi cacing secara tuntas dan memutus siklus hidup parasit tersebut.